Posted by: Rika Ekawati | December 30, 2009

ABSTRAK

Ekawati, Rika. (2009). “Penerapan Metode Sharing Knowledge Community pada Mata kuliah Seminar Ilmu Komputer” (Suatu Penelitian Deskriptif Analitis Terhadap Mahasiswa Mata Kuliah Seminar Semester Genap Tahun Ajaran 2008/2009 Program Studi Ilmu Komputer UPI Bandung). Skripsi Program Studi Pendidikan Ilmu Komputer FPMIPA Bandung.

Masalah yang dikaji dari penelitian ini adalah “Bagaimana penerapan metode sharing knowledge community pada mata kuliah seminar ilmu komputer?” Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan metode sharing knowledge community pada mata kuliah seminar ilmu komputer dan untuk mengetahui respon mahasiswa terhadap pembelajaran dalam mata kuliah seminar dengan menggunakan metode sharing knowledge community. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa mata kuliah seminar program studi ilmu komputer UPI Bandung tahun ajaran 2008/2009. Kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa diukur melalui pembuatan paper ilmiah serta presentasi, tes hasil belajar dan ketuntasan hasil belajar baik perorangan maupun secara klasikal dan untuk melihat respons mahasiswa terhadap pembelajaran digunakan angket, lembar observasi, jurnal dan wawancara. Hasil penelitian menggambarkan bahwa kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa melalui pembuatan paper dan presentasi telah mencapai ketuntasan baik secara individual maupun klasikal. Sementara itu berdasarkan hasil angket, lembar observasi, jurnal dan wawancara yang telah terkumpul diperoleh bahwa pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community mendapat respons yang positif dari mahasiswa. Di samping hasil yang positif, terdapat beberapa faktor penghambat yang timbul selama kegiatan penelitian ini dilakukan.

Kata Kunci : pembelajaran mata kuliah seminar, metode sharing knowledge community, paper ilmiah dan presentasi mahasiswa.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Mata kuliah seminar merupakan Mata Kuliah Keahlian Program Studi (Wajib) bagi mahasiswa program S-1 Ilmu komputer. Setelah mendapatkan persetujuan dari tim pembina mata kuliah seminar Ilmu komputer, mahasiswa wajib membuat kajian secara tertulis dalam bentuk paper ilmiah I (kajian literatur) dan paper ilmiah II(kreatifitas dan kajian dari ide orisinal) yang selanjutnya dipresentasikan dalam perkuliahan. Produk akhir  mahasiswa dalam perkuliahan adalah paper ilmiah yang  telah mengalami revisi.  Aspek-aspek yang dijadikan bahan informasi untuk menentukan penilaian akhir  adalah presentasi awal, kinerja selama perkuliahan,  presentasi akhir,  paper dan tugas (peta fikiran, media blog dan video presentasi).

Untuk format penulisan  karya tulis ilmiah berangkat dari pedoman PKM-GT  Dikti yang telah diadaptasi dengan menyesuaikan sesuai kebutuhan perkuliah seminar ilmu komputer. Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT) menjadi akses mahasiswa dalam berlatih menuliskan ide-ide kreatif sebagai respons intelektual atas persoalan-persoalan aktual yang dihadapi masyarakat. Ide tersebut seyogyanya unik dan bermanfaat sehingga idealisasi kampus sebagai pusat solusi dapat menjadi kenyataan. Sebagai intelektual muda, mahasiswa umumnya cenderung pandai mengungkapkan fakta-fakta sosial, namun melalui PKM-GT, level nalar mahasiswa tidak hanya dituntut sampai sebatas mengekspos fakta tetapi justru harus mampu memberi atau menawarkan solusi. (Panduan PKM DP2M Dikti, 2009:84).

Sebagai salah satu PKM yang ditampilkan dalam PIMNAS, maka tata tertib dan segala sesuatu yang terkait pada persyaratan presentasi diatur tersendiri di dalam Pedoman PIMNAS 2009. (Panduan PKM DP2M Dikti, 2009:84).

Selain itu, menyadari bahwa kondisi berkala ilmiah di Indonesia belum dapat dikatakan berbobot, Dirjen Dikti melaksanakan kebijakan untuk meningkatkan mutu berkala dalam  memenuhi  persyaratan  minimum  seperti  telah  dituangkan  dalam  kriteria yang  ditetapkan.  Kriteria  yang  dipergunakan  dalam  akreditasi  tertuang  dalam Panduan  Akreditasi  Berkala  Ilmiah  yang  disusun  bersama  oleh  LIPI,  Ikatan Penyunting  Indonesia,  Kantor  Menteri  Negara  Riset  dan  Teknologi,  serta  DP2M Ditjen Dikti. (Panduan Akreditasi Berkala Ilmiah Dikti, 2006:1).

Tujuan  akreditasi  adalah  untuk  meningkatkan  kualitas  berkala  ilmiah  di Indonesia,  sehingga  dapat  meningkatkan  komunikasi  ilmiah  antara  peneliti  dan masyarakat pengguna untuk mencapai sasaran bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan pembangunan di Indonesia. (Panduan Akreditasi Berkala Ilmiah Dikti, 2006:1).

Namun menurut Muchlas (2009:1) kualitas raw input yang rendah menyebabkan pula apresiasi mahasiswa terhadap kegiatan- kegiatan ilmiah juga rendah. Universitas menghadapi kesulitan dalam mencari kelompok  mahasiswa yang  siap untuk dilatih metodologi penelitian. Pada sisi lain partisipasi dosen dalam pembimbingan juga kurang karena tidak adanya sistem penugasan yang jelas. Tingkat kompetisi rata-rata calon mahasiswa sangat rendah, bahkan beberapa program studi tidak melakukan seleksi terhadap calon mahasiswanya. Rendahnya tingkat kompetisi calon menjadikan kualitas raw input secara umum juga rendah sehingga tak memiliki prasyarat yang cukup untuk belajar metodologi penelitian.

Sebuah forum atau wadah informal yang mampu menampung kreatifitas dan tempat bertukar informasi mempunyai peran yang signifikan dalam memfasilitasi kreatifitas mahasiswa dan memicu daya kritis mahasiswa, Forum ini kita sebut sharing knowledge community. (Wirawan, 2007:3).

Menurut Muchlas (2009:16) tujuan dari metode sharing dalam penyusunan karya tulis ilmiah secara khusus adalah agar mahasiswa dapat memperoleh topik dan menuliskan judul suatu jenis karya ilmiah yang akan dilombakan dan dapat memperoleh out line isi proposal dari suatu judul karya ilmiah.

Menurut Permana (2008:2) salah  satu  faktor  atau  aspek  yang  diyakini  mampu  mempercepat  suksesnya implementasi metode sharing knowledge community ini adalah   teknologi   informasi   dan   komunikasi   (information and communication technology). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis. Penelitian ini menggunakan software mind manager untuk peta fikiran dalam proses penulisan karya tulis ilmiah pada kedua seri dan khusus untuk seri kedua, akan menggunakan WordPress 2.8.  sebagai  blogging  software yang  dapat  dimanfaatkan  oleh  mahasiswa melalui aktivitas blogging dan podcasting sebagai media sharing knowledge dalam komunitas blogger ilmu komputer.

Berangkat dari pengamatan penulis selama mengikuti perkuliahan mata kuliah seminar pendidikan ilmu komputer pada semester ganjil TA 2008/2009 dan melalui kuesioner pendahuluan yang diberikan kepada 90 orang mahasiswa program ilmu komputer angkatan 2006 secara acak dan wawancara kepada dosen mata kuliah seminar program ilmu komputer.  Penulis yang pada semester genap TA 2008/2009 memiliki posisi sebagai asisten mata kuliah seminar ilmu komputer dan atas seijin dan kerjasama dengan dosen mata kuliah seminar ilmu komputer, penulis memperoleh gambaran bahwa proses pembelajaran dikelas tersebut masih mengalami beberapa kendala. Diantaranya, dari sudut pandang dosen : aktivitas pembelajaran yang cenderung didominasi oleh dosen menyebabkan mahasiswa menjadi bosan dan malas dalam mengikuti perkuliahan seminar, jadwal kuliah yang tidak menentu dan minimnya pertemuan dalam proses bimbingan penulisan karya tulis ilmiah. Sementara itu, dari sudut pandang mahasiswa : hanya mahasiswa yang aktif saja yang banyak berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran, sementara mahasiswa yang lainnya hanya diam dan mendengarkan. Selain itu, kebanyakan mahasiswa masih sungkan untuk mengemukakan pendapat dan berbagi pengetahuan.

Padahal melalui berbagi pengetahuanlah mahasiswa dapat saling menyampaikan informasi satu sama lain.

Berbagi   pengetahuan   (knowledge   sharing) merupakan   salah   satu   metode   dalam knowledge management yang digunakan untuk memberikan kesempatan kepada anggota suatu  organisasi,  instansi  atau  perusahaan  untuk  berbagi  ilmu  pengetahuan,  teknik, pengalaman  dan  ide  yang  mereka  miliki  kepada  anggota  lainnya. (Setiarso, 2006:1)

Dalam hal ini, solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam perkuliahan seminar adalah dengan penerapan metode sharing knowledge community (SKC). Melalui metode ini, diharapkan dapat terjadi komunikasi dua arah antara dosen dan mahasiswa tanpa terbatas pada proses pembelajaran di kelas saja dan mahasiswa dapat lebih aktif dalam mengemukakan pendapat untuk berbagi pengetahuan satu sama lain.

  1. B. Rumusan dan Batasan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

“Bagaimana penerapan metode sharing knowledge community pada mata kuliah seminar ilmu komputer?”

Untuk mempermudah pengkajian secara sistematis terhadap permasalahan yang akan diteliti, masalah dapat diuraikan menjadi pertanyaan-pertanyaan penelitian berikut:

  1. Bagaimana penerapan metode sharing knowledge community pada mata kuliah seminar ilmu komputer?”
  2. Bagaimana respon mahasiswa terhadap pembelajaran dalam mata kuliah seminar dengan menggunakan metode sharing knowledge community?

Agar penelitian lebih terarah dan memberikan gambaran yang jelas, maka penelitian ini dibatasi pada hal-hal berikut :

  1. Subjek penelitian adalah mahasiswa program studi ilmu komputer angkatan 2006 yang sedang mengontrak mata kuliah seminar ilmu komputer. Mahasiswa yang dijadikan subjek penelitian berjumlah 30 orang.
  2. Mata kuliah yang dijadikan penelitian adalah mata kuliah seminar (3 SKS). Materi pembelajaran yang akan dikaji dibatasi pada pedoman penulisan karya tulis ilmiah, teknik presentasi karya tulis ilmiah, pemanfaatan software mind manager sebagai software yang membantu dalam proses peta fikiran dan pemanfaatan blog sebagai media sharing knowledge community.
  3. Dengan asumsi bahwa setiap blog dikelola dan dipergunakan oleh masing-masing mahasiswa mata kuliah seminar, setiap mahasiswa yang memiliki blog selalu mengakses blog-nya secara berkala dan setiap mahasiswa yang mengakses blog-nya diasumsikan bahwa ia mempelajari comment yang diberikan oleh instruktur maupun teman-temannya yang memiliki link kepadanya sehingga setiap hasil revisi paper ilmiah yang di posting adalah hasil revisi dari proses belajar yang telah dilakukan.

Hasil belajar yang diteliti menyangkut kemampuan mengembangkan kemampuan karya tulis ilmiah dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi menggunakan metode sharing knowledge community.

  1. C. Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui penerapan metode sharing knowledge community pada mata kuliah seminar ilmu komputer.
  2. Untuk mengetahui respon mahasiswa terhadap pembelajaran dalam mata kuliah seminar dengan menggunakan metode sharing knowledge community.
  1. D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagi mahasiswa, metode ini tentu akan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan tidak membosankan, meningkatkan kemampuan dalam mengelola pengetahuan, membentuk pola fikir kritis dengan selalu berdiskusi, mengikuti forum brain storming dan membuat inovasi dalam setiap mengikuti proses pembelajaran, mampu bekerja dalam team building, dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar secara signifikan.
  2. Bagi dosen, metode ini akan menjadikan dosen lebih kreatif dalam merancang pembelajaran, meningkatkan keprofesionlan dosen,  sebagai motivasi untuk ikut mengembangkan minat dan kemampuan mahasiswa dan dapat digunakan oleh dosen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
  3. Bagi universitas, sebagai masukkan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas lulusan yang sesuai dengan program pemerintah dan kebutuhan industri.
  4. Bagi orang tua mahasiswa, sebagai sumbangan pendapat untuk mendorong anaknya agar berprestasi yang baik sesuai dengan kemampuan anaknya.
  5. Bagi dunia pendidikan, sebagai referensi media selain moodle atau Course Management System (CMS) yang dapat digunakan sebagai media e-learning dengan pemanfaatan blog berbasis WordPress 2.8 melalui metode sharing knowledge community.
  1. E. Definisi Operasional
    1. Berbagi   pengetahuan   (knowledge   sharing)  merupakan   salah   satu   metode   dalam knowledge management yang digunakan untuk memberikan kesempatan kepada anggota suatu  organisasi,  instansi  atau  perusahaan  untuk  berbagi  ilmu  pengetahuan,  teknik, pengalaman  dan  ide  yang  mereka  miliki  kepada  anggota  lainnya. (Setiarso, 2006:1).
    2. Mata kuliah seminar ilmu komputer merupakan salah satu mata kuliah dalam kelompok Mata Kuliah Keahlian Program Studi (Wajib) bagi mahasiswa program S-1 Ilmu komputer.   Materi perkuliahan difokuskan pada kajian teoritis dari hasil penelusuran pustaka (buku teks,  jurnal, internet dan penelitian). Permasalahan Ilmu komputer yang dijadikan bahan kajian  adalah permasalahan yang terkait dengan  pengembangan profesi (baik itu di bidang sistem informasi, jaringan, pemograman, dan sebagainya). Aspek-aspek yang dijadikan bahan informasi untuk menentukan penilaian akhir  adalah presentasi awal, kinerja selama perkuliahan,  presentasi akhir,  paper, dan tugas (peta fikiran, media blog dan video presentasi).

    BAB II

    STUDI LITERATUR

    1. A. Metode Sharing Knowledge Community
      1. Pengetahuan dan Model Belajar

    Menurut Drucker (Okinawa, 2008:1), saat ini kita sedang berada di era revolusi informasi, yaitu era dimana pengetahuan berhasil diaplikasikan pada pengetahuan itu sendiri. Untuk menunjang era revolusi informasi tersebut, suatu organisasi perlu memiliki pengetahuan eksplisit (know how) dan pengetahuan tasit (know why) secara seimbang dan berkelanjutan. Sementara itu, menurut Ikujiro Nonaka dan Hirotake Takeuchi dalam bukunya “The Knowlegde- Creating Company” (Wahono, 2003:1) menyebutkan bahwa pada hekekatnya pengetahuan dibagi menjadi 2, yaitu tacit knowledge dan explicit knowledge. Explicit knowledge merupakan pengetahuan tertulis, terarsip, tersebar, dan dapat dijadikan referensi bagi orang lain. Sedangkan tacit knowledge merupakan pengetahuan yang berbentuk know-how, pengalaman, skill, pemahaman, maupun rule of  thumbs.

    Menurut Jan Hidajat (Okinawa, 2008:1) dalam bukunya yang berjudul “Knowledge Management dalam konteks Organisasi Pembelajar” model belajar terbagi menjadi dua, yaitu :

    1)        Model Belajar Individual

    Pembelajaran individual merupakan proses peningkatan potensi individual karena terjadi proses transformasi modal informasi baru menjadi kompetensi baru, akibat perluasan atau pendalaman kompetensinya.

    Proses belajar individual terjadi jika : anggota organisasi mengalami proses pemahaman terhadap konsep-konsep baru (know why), yang dilanjutkan dengan meningkatnya kemampuan / pengalaman untuk merealisasikan konsep tersebut (know how) sehingga terjadi perubahan / perbaikan nilai tambah organisasi.

    2)        Model Belajar Organisasional

    Organisasi pembelajar didefinisikan sebagai organisasi yang memiliki kemampuan untuk selalu memperbaiki kinerjanya secara berkelanjutan dan siklikal, karena anggota-anggotanya memiliki komitmen dan kompetensi individual yang mampu belajar dan berbagi pengetahuan – pada tingkat superfisial maupun subtansial.

    Proses belajar organisasi terjadi melalui : proses interaksi di antara anggota organisasi, sehingga terjadi konversi pengetahuan tasit menjadi eksplisit (dan sebaliknya) secara fundamental dan terus-menerus, yang diwujudkan melalui proses eksternalisasi, internalisasi, sosialisasi, dan kombinasi (SECI).

    Transformasi pengetahuan (flow of learning)

    Transformasi pengetahuan terjadi melalui proses 4I’s (intuisi, interpretasi, integrasi, institusionalisasi), sebagai kerangka kerja organisasi pembelajar, yang merupakan suatu interaksi dinamik antara belajar individu – tim – organisasi, melalui proses belajar maju (dari belajar individual menuju belajar organisasional) dan dilanjutkan dengan proses belajar mundur (dari belajar organisasional menuju belajar individual).

    1. Knowledge Management Dalam Konteks Organisasi Pembelajar

    Pengertian knowledge management menurut Jan Hidajat (Okinawa, 2008:1) adalah langkah-langkah sistematik untuk mengelola pengetahuan dalam organisasi, untuk menciptakan nilai dan meningkatkan keunggulan kompetitif. Proses sistematik untuk menemukan, memilih, mengorganisasikan, menyaringkan dan menyajikan informasi dengan cara tertentu, sehingga para pekerja mampu memanfaatkan dan meningkatkan penguasaan pengetahuan dalam suatu bidang kajian yang spesifik, untuk kemudian menginstitusionalisasikannya menjadi pengetahuan perusahaan.

    1. Tiga Pilar Organisasi Pembelajar

    Konsep tiga pilar menurut Hidajat (Okinawa, 2008:1) merupakan salah satu konsep dalam konteks organisasi pembelajar yang menjelaskan bagaimana terjadinya proses belajar dan proses transformasi pengetahuan (kompetensi individual) dari hasil belajar individual menjadi disiplin organisasi pembelajar (human capital) sebagai hasil belajar organisasional.

    Tiga pilar yang dimaksud yaitu :

    1)      Pilar belajar individual

    Pilar ini terbentuk karena setiap manusia anggota organisasi mampu menjadi manusia dewasa, yang mampu bekerja tanpa dipengaruhi kualitas lingkungannya. Kedewasaan seorang manusia tergantung pada keberhasilan proses belajar individualnya yaitu melalui proses belajar horizontal (single-loop learning) dan proses belajar vertikal (double-loop learning), yang dilakukan secara siklikal dan berkelanjutan.

    Proses pembelajaran inividual ini akan menghasilkan kompetensi generik pekerja, yang dibutuhkan oleh organisasi pembelajar.

    2)      Pilar belajar organisasional

    Pilar ini pada hakekatnya berfungsi sebagai “tempat” untuk memfasilitasi masyarakat yang dewasa sehingga mampu berbagi visi, berbagi model mental dan berbagi pengetahuan untuk disinerjikan dan diinstitusionalisasikan menjadi disiplin organisasi pembelajar, kemudian ditransformasikan menjadi human capital organisasi pembelajar.

    Indikasi dari keberhasilan proses belajar organisasi adalah makin luas dan makin intensifnya mekanisme berbagi (berbagi pengetahuan, berbagi visi, atau berbagi model mental).

    3)      Pilar belajar transformasi pengetahuan (habitat belajar)

    Pilar ini berfungsi untuk mengintegrasikan, mengkombinasikan dan mensinerjikan pengetahuan hasil belajar individual menjadi human capital organisasi sebagai hasil belajar organisasional.

    Menurut Senge (Okinawa, 2008:1) pilar ini dibangun oleh lima disiplin belajar yaitu disiplin personal mastery, disiplin berbagi visi, disiplin model mental, disiplin pembelajaran tim dan disiplin berpikir sistemik. Kualitas kelima disiplin tersebut dapat digunakan sebagai indikator untuk menunjukkan kualitas habitat belajar suatu organisasi, dan merupakan jalur yang mampu menghantarkan (mentransformasi) pengetahuan dari proses belajar individual menjadi belajar organisasional.

    Ketiga pilar organisasi tersebut berperan sebagai mesin pembelajar dan sekaligus media habitat belajar dari hasil belajar individual menjadi pengetahuan organisasi, sebagai satu-kesatuan yang utuh dan terintegrasi.

    1. Sharing Knowledge

    Awal mula dari teori mengenai sharing knowledge sendiri diadaptasi dari sebuah teori mengenai knowledge  management. Dalam  satu  dasawarsa  terakhir  pengelolaan  pengetahuan  (knowledge  management), menjadi  salah  satu  metode  peningkatan  produktifitas  suatu  organisasi,  perusahaan  atau instansi (Setiarso, 2006:1).

    Berbagi   pengetahuan   (knowledge   sharing) merupakan   salah   satu   metode   dalam knowledge management yang digunakan untuk memberikan kesempatan kepada anggota suatu  organisasi,  instansi  atau  perusahaan  untuk  berbagi  ilmu  pengetahuan,  teknik, pengalaman  dan  ide  yang  mereka  miliki  kepada  anggota  lainnya. (Setiarso, 2006:1).

    Proses knowledge sharing akan dapat dilakukan jika setiap anggota yang terlibat dalam sebuah komunitas atau organisasi, memiliki kesempatan yang luas untuk mengemukakan ide, kritik, saran, pemikiran kreatif, komentar dan berbagai masukan yang dapat meningkatkan kinerja dari organisasi atau komunitas yang bersangkutan. Peran dari setiap anggota dalam sebuah komunitas berbagi pengetahuan sangat diperlukan, demi terciptanya proses knowledge   sharing yang berkelanjutan.

    Selain itu, peran berbagi pengetahuan diantara anggota komunitas memiliki urgensi yang tinggi  dalam meningkatkan kemampuan anggota untuk mampu berpikir secara kritis, logis dan mampu berinovasi. Jadi inovasi merupakan suatu proses dari ide melalui penelitian pengembangan akan menghasilkan prototipe yang    bisa dikomersialkan. (Setiarso, 2006:1).

    Sebenarnya menurut para ahli misalnya Carl Davidson dan Philip Voss (Setiarso, 2006:1) mengatakan  bahwa  mengelola  knowledge sebenarnya  merupakan  bagaimana  organisasi mengelola  staf  mereka,  sebenarnya  bahwa  knowledge  management adalah  bagaimana orang-orang dari berbagai tempat yang saling berbeda mulai saling bicara.

    Menurut  David  J.Skryme (Setiarso, 2006:1) bahwa  salah  satu  tantangan  knowledge management adalah menjadikan manusia berbagi knowledge mereka. Untuk mengahadapi  tantangan  tersebut  dia  menyarankan  tiga  C  yaitu:  Culture,  Co-opetition (menyatukan kerjasama dengan persaingan) dan Commitment.

    Dalam buku Learning to fly oleh British Oil Company (Setiarso, 2006:5) menyatakan bahwa ‘You Cannot manage  knowledge –  nobody  can  ?  Knowledge  can  be  created,  discovered,  captured, shared,   etc.’   Jadi   hanya   empat   kegiatan   utama   yaitu:   persediaan   pengetahuan, mempercepat aliran knowledge, transformasi knowledge dan pemanfaatan knowledge.

    Merebaknya fenomena manajemen  pengetahuan  (knowledge management) dapat dilihat sebagai  keinginan  mengembalikan  hakikat  “pengetahuan”  dan  menghindari  pandangan bahwa  pengetahuan  adalah  benda  mati. (Setiarso, 2006:5).

    1. Getting Start

    Menurut Jann Hidajat (Okinawa, 2008:1) sebelum memulai sebuah upaya untuk membangun sebuah organisasi pembelajar, sebaiknya perlu melihat kembali prinsip-prinsip kerja untuk meraih keberhasilan akan suatu perubahan yaitu :

    1)   Tetapkan sebuah komitmen yang menjadi sumber energi awal untuk menciptakan sebuah perubahan (biasanya komitmen pimpinan level atas).

    2)   Tetapkan pilot group. Mulai dari hal yang kecil, kemudian dikembangkan secara bertahap.

    3)   Tetapkan target dan alat bantu yang tepat untuk mencapai target yang dimaksud.

    4)   Isukan sebuah krisis yang dapat menyadarkan para anggota, jika menemukan jalan buntu untuk memulai sebuah perubahan.

    1. B. Pembelajaran Mata Kuliah Seminar

    Mata kuliah ini merupakan salah satu mata kuliah dalam kelompok Mata Kuliah Keahlian Program Studi (Wajib) bagi mahasiswa program S-1 Ilmu komputer.   Materi perkuliahan difokuskan pada kajian teoritis dari hasil penelusuran pustaka (buku teks,  jurnal, internet dan penelitian). Permasalahan Ilmu komputer yang dijadikan bahan kajian  adalah permasalahan yang terkait dengan  pengembangan profesi (baik itu di bidang sistem informasi, jaringan, pemograman, dan sebagainya). Prosedur pemilihan masalah yang akan manjadi bahan kajian  diawali prersentasi  awal oleh mahasiswa tentang  konteks permasalahan disertai uraian logis alasan pemilihan masalah melalui layout dalam bentuk peta fikiran menggunakan software mind manager. Setelah mendapatkan persetujuan dari tim pembina mata kuliah seminar Ilmu komputer, mahasiswa wajib membuat kajian secara tertulis dalam bentuk paper ilmiah pada seri I (offline) dan paper ilmiah pada seri II (online dipublikasikan juga melalui blog) yang selanjutnya dipresentasikan dalam perkuliahan. Produk akhir  mahasiswa dalam perkuliahan adalah paper ilmiah yang  telah mengalami revisi.  Aspek-aspek yang dijadikan bahan informasi untuk menentukan penilaian akhir  adalah presentasi awal, kinerja selama perkuliahan,  presentasi akhir,  paper, makalah dan tugas (peta konsep, media blog dan video presentasi).

    1. C. Karya Tulis Ilmiah

    Konsep dan pedoman karya tulis ilmiah disini merupakan hasil adaptasi dari pedoman PKM-GT dan silabus mata kuliah seminar ilmu komputer dan seminar pendidikan ilmu komputer. Sama halnya seperti PKM-GT, pelatihan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah juga menjadi akses mahasiswa dalam berlatih menuliskan ide-ide kreatif sebagai respons intelektual atas persoalan-persoalan aktual yang dihadapi masyarakat. Ide tersebut seyogyanya unik dan bermanfaat sehingga idealisasi kampus sebagai pusat solusi dapat menjadi kenyataan. Sebagai intelektual muda, mahasiswa umumnya cenderung pandai mengungkapkan fakta-fakta sosial, namun melalui PKM-GT, level nalar mahasiswa tidak hanya dituntut sampai sebatas mengekspos fakta tetapi justru harus mampu memberi atau menawarkan solusi. (DP2M Dikti Pedoman PKM, 2009:84).

    Selain itu, dengan tujuan agar karya tulis ilmiah dapat dikatakan berbobot, maka format penilaian pun mengadopsi dari pedoman Akreditasi Berkala Ilmiah. Kriteria  yang  dipergunakan  dalam  akreditasi  yang tertuang dalam Panduan  Akreditasi  Berkala  Ilmiah  ini  disusun  bersama  oleh  LIPI,  Ikatan Penyunting  Indonesia,  Kantor  Menteri  Negara  Riset  dan  Teknologi,  serta  DP2M Ditjen Dikti. (Dikti Pedoman Akreditasi  Berkala  Ilmiah, 2006:1).

    Tujuan  akreditasi  adalah  untuk  meningkatkan  kualitas  berkala  ilmiah  di Indonesia,  sehingga  dapat  meningkatkan  komunikasi  ilmiah  antara  peneliti  dan masyarakat pengguna untuk mencapai sasaran bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan pembangunan di Indonesia. (Dikti Pedoman Akreditasi  Berkala  Ilmiah, 2006:1).

    Karya ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Dari definisi yang lain dikatakan bahwa karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. (Muliadi, 2008:1). Paper ilmiah adalah laporan hasil riset yang ditulis dan dipublikasi oleh satu atau beberapa orang peneliti. (Mikra, 2004:3). Selain itu, format penulisan paper dengan kaidah kajian ilmu komputer merujuk pada pedoman research Universitas Indonesia. (http://www.research-ui.org). Hal ini dikarenakan program studi ilmu komputer merupakan program studi baru dan belum menetapkan standar untuk format penulisan paper ilmiah.

    1. D. Mind Map

    Dalam perkembangan teknologi saat ini, telah banyak kita temukan berbagai program yang dibuat untuk mempermudah pekerjaan, khususnya dalam kaitannya dengan komputer atau multimedia. Program perangkat lunak yang akan dibahas adalah Mind Map yang kreatif dan menghasilkan alat-alat yang digunakan dalam suatu metode multimedia.

    Menurut  Tonny dan Bary Buzan, pemetaan pikiran (mind mapping), yaitu cara yang paling mudah untuk memasuk informasi kedalam otak dan untuk kembali mengambil informasi dari dalam otak. Peta pemikiran merupakan teknik yang paling baik dalam membantu proses berfikir otak secara teratur karena menggunakan teknik grafis yang berasal dari pemikiran manusia yang bermanfaat untuk menyediakan kunci-kunci universal sehingga membuka potensi tak (Tonny dan Bary Buzan, 2004: 68).

    Mind merupakan gagasan berbagai imajinasi. Mind merupakan suatu keadaan yang timbul bila otak (brain) hidup dan sedang bekerja (Taufik Bahaudin, 1999: 53). Lebih lanjut Bobbi de Porter dan Hernacki (199: 152) menjelaskan, peta pikiran merupakan teknik pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk suatu kesan yang lebih dalam.

    Peta pikiran adalah teknik meringkas bahan yang akan dipelajari dan memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau teknik grafik sehingga lebih mudah memahaminya (Iwan Sugiarto, 2004:75).

    Pemetaan pikiran merupakan  teknik visualisasi verbal ke dalam gambar. Peta pikiran sangat bermanfaat untuk memahami materi, terutama materi yang diberikan secara verbal. Peta pikiran bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memnperkuat, dan mengingat kembali informasi yang telah dipelajari (Eric Jensen, 2002: 95). Mind Manager adalah suatu pemahaman tentang alat-alat yang mendukung secara efisien dan benar atau dapat dipercaya, dan  Free Mind merupakan aplikasi untuk memetakan fikiran (Mind Maping) yang dapat berjalan pada semua sistem operasi (Sr. Safe, 2008:1). Untuk lebih jelas, marilah kita pelajari satu per satu, dibawah ini.

    1. Pengertian Mind Map

    Menurut Salim (Sr. Safe, 2008:1), mind map merupakan alat yang paling hebat untuk membuat otak anda untuk berpikir secara teratur dan berfungsi untuk “memetakan” pikiran anda. Mind map juga bekerja seperti otak anda yang menandakan asosiasi satu dengan yang lainnya.

    1. Cara membuat Mind Map

    Mind Map dapat dibuat denga cara yang mudah yaitu :

    1)      Kertas kosong atau bergaris

    2)      Pena dan pensil berwarna

    3)      Otak

    4)      Imajinasi

    1. Fungsi Mind Map

    Mind map dapat membantu kita dalam hal :

    1)   Menjadi lebih kreatif

    2)   Menghemat waktu

    3)   Memecahkan masalah

    4)   Brainstorming meeting

    5)   Mengingat dengan lebih baik

    6)   Membuat rencana

    Selain fungsi diatas, menurut Wahyu (Awaludin, 2008:7) terdapat beberapa fungsi dari mind map diantaranya :

    1)      Memberi pandangan menyeluruh pokok masalah atau area yang luas.

    2)      Memungkinkan kita merencanakan rute atau membuat pilihan-pilihan dan mengetahui ke mana kita akan pergi dan di mana kita berada.

    3)      Mengumpulkan sejumlah besar data di satu tempat.

    4)      Mendorong pemecahan masalah dengan membiarkan ktia melihat jalan-jalan terobosan kreatif baru.

    5)      Menyenangkan untuk dilihat, dibaca, dicerna dan diingat.

    1. Langkah – langkah membuat mind map dengan mengggunakan visualisasi menurut Wahyu (Awaludin, 2008:16) adalah sebagai berikut :

    1)   Mulailah dari tengah kertas kosong.

    2)   Gunakan gambar (simbol) untuk ide utama.

    3)   Gunakan berbagai warna.

    4)   Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat. Buatlah ranting-ranting yang berhubungan ke cabang dan seterusnya.

    5)   Buatlah garis hubung yang melengkung.

    6)   Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis

    7)   Gunakan gambar.

    1. Pengertian Mind Manager

    Mind manager adalah aplikasi komersial yang cukup banyak dipakai untuk melakukan Mind mapping. Aplikasi ini sangat mudah digunakan dengan tampilan yang baik. Diagram pun dapat diekspor ke format ms word, ms powerpoint, dan pdf. Aplikasi ini dibuat dalam Java, yang dapat dijalankan di hampir setiap sistem operasi. Sehingga dapat dijalankan pada sistem operasi Linux maupun Windows.

    Menurut situs www.dylexic.com ((Sr. Safe, 2008:1), mind manager adalah suatu pemahaman tentang alat-alat yang mendukung secara efisien dan management yang benar atau dapat dipercaya dan sangat jelas mengidentifikasikan hasil-hasil yang digunakan oleh gerakan visual. Ini sangat mempermudah/menyederhanakan otak, pembuatan nota, perencanaan, tugas-tugas dan proyek yang kompleks. Teks, nota, gambar dan hyperlinks dapat diciptakan dengan sangat mudah diatur dan ditambah dalam mind map. Multi map (keanekaragaman) ini berfungsi untuk memampukan mind map untuk menjadi pemecah dalam mengelola ukuran-ukuran dalam membantu yang diprioritaskan , difokus dan komunikasi.

    1. E. Blog

    Dalam  penelitian  tugas  akhir  ini,  definisi  blog yang  akan  digunakan  adalah definisi yang diuraikan oleh Lindahl dan Blount (Permana, 2008:14). Dalam artikel yang dimuat dalam majalah Computer IEEE ini, keduanya menyebutkan bahwa weblog atau blog adalah suatu situs yang menggunakan format catatan (log) bertanggal (date and time) yang digunakan untuk menerbitkan informasi secara berkala (periodical).

    Definisi blog yang  tidak jauh berbeda juga bisa dilihat di situs dokumentasi milik   WordPress  (Permana, 2008:14). Menurut situs  ini,  blog  adalah  istilah  yang digunakan untuk mendeskripsikan situs yang merawat (maintain)  informasinya  berdasarkan kronologi atau urutan waktu (chronicle) penerbitannya.

    Masih  menurut  WordPress(Permana, 2008:14),  blog  memiliki  beberapa  ciri  khas  (tapi  tidak mutlak)  yang  membedakannya  dari situs yang  bukan  blog.  Berikut  perbedaan yang dimaksud:

    1)      Area utama situs biasanya  berupa artikel-artikel yang  disusun secara kronologis berdasarkan  waktu  atau  tanggal  terbitnya.  Artikel  terbaru  akan  diletakkan  di posisi teratas.

    2)      Adanya archive untuk menyimpan artikel-artikel yang sudah lama diterbitkan.

    3)      Adanya  fasilitas  untuk  mengomentari  artikel-artikel  yang  telah  diterbitkan  bagi pengunjung situs (leave a comment).

    4)      Daftar   taut   (links)   yang   mengacu   pada   situs-situs   terkait,   biasanya   disebut “blogroll”.

    5)      Satu  atau  lebih  feed seperti  RSS  (Really  Simple  Syndication  atau  Rich  Site Summary), Atom, atau berkas-berkas RDF (Resource Description Framework).

    Menurut Burns  dan  Cox (Permana, 2008:15) ada  beberapa  alasan  atau  fakta  yang  membuat  blog menjadi  sesuatu  yang sangat  populer  seperti  sekarang.  Berikut  faktor-faktor  yang dimaksud:

    1)   Non-Techy.  Pengguna  atau  calon  pengguna  blog  tidak  harus  mengetahui  teori HTML (Hypertext Markup Language) atau FTP (File Transfer Protocol) terlebih dahulu untuk menggunakannya.

    2)   Mudah digunakan. Pengguna bisa menerbitkan tulisannya kapan pun dan di mana pun asalkan terhubung ke internet.

    3)   Murah. Umumnya penyedia jasa blog memberikan layanannya secara gratis.

    4)   Kemudahan komunikasi. Komunikasi berjalan dengan instant alias sangat cepat dan langsung siap untuk digunakan umumnya   menyediakan   fasilitas   untuk   archive,   hyperlinks, pengunjung,   akses   untuk   beberapa   penulis   sekaligus,   dan kemampuan untuk mengelola berkas multimedia (audio dan video).

    Menurut Permana (2008:16) setidaknya  ada  dua  bukti  yang  bisa  menguatkan  popularitas  blog di  dunia. Bukti tersebut ialah ketika “blogger” terpilih sebagai “Word of The Year 1999” versi  Oxford  English  Dictionary (http://www.askoxford.com/,  2007)  dan  ketika  “blog”  terpilih   sebagai   “Word   of   The   Year   2004”   versi   Merriam-Webster   Dictionary (http://www.m-w.com/, 2007).

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. A. Metode Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif analitis. Berbagai macam definisi tentang penelitian deskriptif, di antaranya adalah menurut Sugiyono (Sulipan, 2007:3) yang menyatakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan antara variabel satu dengan variabel yang lain. Pendapat lain menurut Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa, penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Sulipan, 2007:3). Jadi tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat penjelasan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu(Sulipan, 2007:3). Dalam arti ini pada penelitian deskriptif sebenarnya tidak perlu mencari atau menerangkan saling hubungan atau komparasi, sehingga juga tidak memerlukan hipotesis. Namun demikian, dalam perkembangannya selain menjelaskan tentang situasi atau kejadian yang sudah berlangsung sebuah penelitian deskriptif juga dirancang untuk membuat komparasi maupun untuk mengetahui hubungan atas satu variabel kepada variabel lain. Karena itu pula menurut Suharsimi Arikunto penelitian komparasi dan korelasi juga dimasukkan dalam kelompok penelitian deskriptif (Sulipan, 2007:3). Secara lebih mendalam tujuan penelitian korelasi adalah untuk mengetahui sejauh mana hubungan antar variabel yang diteliti. Penelitian jenis ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling hubungannya. Hasil yang diperoleh adalah taraf atau tinggi rendahnya saling hubungan dan bukan ada atau tidak ada saling hubungan tersebut. Dalam penelitian komparatif akan dihasilkan informasi mengenai sifat-sifat gejala yang dipersoalan, diantaranya apa sejalan dengan apa, dalam kondisi apa, pada urutan dan pola yang bagaimana, dan yang sejenis dengan itu.

  1. B. Subjek Penelitian

Menurut Arikunto (2002:108) “populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.” Berdasarkan pernyataan tersebut yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2006 program ilmu komputer FPMIPA UPI.

Menurut Arikunto (2002:109) “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.” Dengan kata lain sampel merupakan bagian dari populasi yang akan diteliti dan menggambarkan populasinya. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi ilmu komputer yang mengontrak mata kuliah seminar ilmu komputer pada semester genap TA 2008/2009 dan berjumlah 30 orang.

  1. C. Prosedur Penelitian

Untuk lebih jelas mengenai penelitian yang dilakukan, penulis menyusun alur penelitian sebagai berikut :

Gambar 3.1. Alur Penelitian deskriptif analitik berorientasi pemecahan masalah

Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa alur penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Berangkat dari permasalahan yang dihadapi di kelas, kemudian di susun perumusan masalah.
  2. Kemudian, mulai melakukan kajian-kajian berdasarkan putaka dan literatur yang sesuai.
  3. Setelah ditemukan acuan pustaka, maka penulis mulai menentukan bahwa penelitian deskriptif analitis ini adalah yang paling sesuai untuk penelitian ini.
  4. Kemudian penulis mulai menyusun instrumen yang dibutuhkan untuk proses penerapan metode dan pengambilan data. Poses persiapan ini mencakup penyusunan silabus dan satuan acara perkuliahan (SAP) mata kuliah seminar ilmu komputer, menyusun modul yang diperlukan selama penerapan metode berlangsung, memabuat kisi-kisi instrumen penelitian. Setelah kisi-kisi di setujui kemudian menyusun instrumen penelitian yang diperlukan, diantaranya menyesuaikan format penilaian karya tulis ilmiah yang terdapat pada format penilaian berkala ilmiah dan PKM-GT Dikti sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan penilaian karya tulis ilmiah pada mata kuliah seminar ilmu komputer, membuat angket, jurnal harian mahasiswa, lembar observasi, pedoman wawancara dan melakukan judgement instrumen kepada dosen pembimbing dan dosen mata kuliah seminar.
  5. Melakukan upaya pemecahan masalah dengan melaksanakan pembelajaran menggunakan metode sharing knowledge community. Melalui 2 seri sebagai berikut :

  1. Seri I (offline)

Seri I dilaksanakan melalui 2 x pertemuan dimana masing-masing pertemuan akan dilaksanakan selama 6 jam atau 6 x 60 menit.

Tahap perencanaan, yaitu dimulai dari memilih metode atau model pembelajaran Sharing Knowledge Community (SKC), kemudian mengumpulkan media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran seperti software mind manager yang akan digunakan untuk membuat mind map, materi yang akan disampaikan dan instrumen penilaian.

Penerapan metode yang akan dilakukan sesuai dengan langkah-langkah implementasi dapat dilakukan melalui tiga tahap perubahan menurut Peter Senge (Okinawa, 2008:1) yaitu :

1)   Tahap pertama (R1)

Yaitu membangun keterampilan belajar individual untuk menghasilkan personal mastery, yang memiliki kemampuan atau pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan tacit knowledge atau eksplicit knowledge baru sehingga tercipta inovasi atau perbaikan organisasi. Tahap ini merupakan tahap kritis, karena membutuhkan energi yang cukup besar untuk memulai sebuah perubahan. Langkah konkretnya dilakukan dengan membuat sebuah outline karya tulis ilmiah, kemudian mempresentasikannya. Outline karya tulis ini dibuat menggunakan software mind manager dengan mengikuti langkah-langkah menggunakan software tersebut (proses eksternalisasi knowledge). Hal ini dilakukan agar mahasiswa terbiasa dalam memetakan hasil pemikiran mereka.

2)   Tahap kedua (R2)

Yaitu membangun kemampuan belajar tim, untuk meningkatkan efektivitas proses berbagi pengetahuan antar anggota. Dalam proses ini, setiap peserta dapat melakukan brain storming dan sharing knowledge. Diharapkan setiap peserta dapat mengenali potensi knowledge dirinya dan peserta lain. Tindakan konkretnya adalah dengan memberikan saran, kritik, masukan, testimonial kepada rekannya sesama peserta kelas sharing knowledge community.

3)   Tahap ketiga (R3)

Yaitu membangun kemampuan belajar organisasional, untuk menghasilkan human capital (yang diwujudkan dalam bentuk modal intelektual, modal kredibilitas, atau modal sosial organisasi, dan pada akhirnya menghasilkan pengetahuan eksplisit baru).

Langkah-langkah berikutnya yaitu :

  1. Mempersiapkan temuan-temuan pengetahuan eksplisit baru untuk diimplementasikan. Atau dengan kata lain berarti learning by doing, yaitu dari referensi yang ada kita mulai belajar dan menemukan ide, pengalaman, dan pemahaman yang baru.
  2. Melanjutkan tiga tahap proses profound change (R1 sampai R3).

Setelah semua tahapan dilewati, maka dilakukan evaluasi atas penerapan metode yang telah diberikan. Bentuk evaluasi berupa pembuatan paper ilmiah dan kemudian dipresentasikan (proses kombinasi knowledge). Setelah itu, akan peserta akan diminta untuk mengisi angket dan sekitar 27% dari peserta akan diwawancara. Hasil dari angket, jurnal dan wawancara akan menjadi masukan untuk perbaikan proses pembelajaran pada seri berikutnya.

Jika proses belajar dan berubah telah menjadi sebuah kebiasaan, dapat diartikan bahwa prosesnya telah berjalan secara berkelanjutan, dan dapat digunakan sebagai indikasi bahwa mahasiswa sudah mencapai taraf dewasa, dan siap menjadi sebuah organisasi pembelajar.

  1. Seri II (online)

Seri II dilaksanakan melalui 2 x pertemuan dimana masing-masing pertemuan akan dilaksanakan selama 6 jam atau 6 x 60 menit.

Tahap perencanaan, didalam perencanaan lanjutan ini, maka perencanaan tindakan atau media dan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran harus berbeda dan lebih baik lagi agar masalah dapat teratasi. Pendekatan yang digunakan masih tetap yaitu metode Sharing Knowledge Community (SKC). Namun untuk memfasilitasi mahasiswa dalam melakukan aktivitas sharing knowledge seperti berdiskusi, publikasi dan lain sebagainya, maka pada sharing kedua ini digunakan media blog. Blog yang digunakan yaitu WordPress 2.8. Instrumen penilaian termasuk pembuatan paper karya tulis ilmiah, presentasi  serta angket.

Penerapan metode yang akan dilakukan sesuai dengan langkah-langkah implementasi dapat dilakukan melalui tiga tahap perubahan menurut Peter Senge (Okinawa, 2008:1) yaitu :

1)   Tahap pertama (R1)

Yaitu membangun keterampilan belajar individual untuk menghasilkan personal mastery, yang memiliki kemampuan atau pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan tacit knowledge atau eksplicit knowledge baru sehingga tercipta inovasi atau perbaikan organisasi. Tahap ini merupakan tahap kritis, karena membutuhkan energi yang cukup besar untuk memulai sebuah perubahan. Langkah konkretnya dilakukan dengan membuat karya tulis ilmiah dan presentasi dalam bentuk paper berangkat dari paper yang telah dibuat dan direvisi sebelumnya mengikuti petunjuk yang telah diberikan melalui DVD modul, software dan isian lainnya. Proses ini disebut sebagai proses internalisasi knowledge. Kemudian membuat blog menggunakan WordPress 2.8 berdasarkan pengalaman pribadi dan mengikuti petunjuk dalam DVD, kemudian mempublikasikannya melalui blog masing-masing. Dan meng-upload video presentasinya. Proses ini disebut sebagai proses sosialisasi knowledge.

2)   Tahap kedua (R2)

Yaitu membangun kemampuan belajar tim, untuk meningkatkan efektivitas proses berbagi pengetahuan antar anggota. Dalam proses ini, setiap peserta dapat melakukan brain storming dan sharing knowledge. Diharapkan setiap peserta dapat mengenali potensi knowledge dirinya dan peserta lain. Tindakan konkretnya adalah dengan melakukan diskusi memberikan saran, kritik, masukan, testimonial kepada rekannya sesama peserta kelas sharing knowledge community melalui fitur comment pada blog.

3)   Tahap ketiga (R3)

Yaitu membangun kemampuan belajar organisasional, untuk menghasilkan human capital (yang diwujudkan dalam bentuk modal intelektual, modal kredibilitas, atau modal sosial organisasi, dan pada akhirnya menghasilkan pengetahuan eksplisit baru). Bagaimana membuat link atau blogroll ke blog teman-teman yang lain agar dapat melakukan proses sharing knowledge, hal ini dilakukan dengan sering mengakses blog server dalam hal ini blog milik instruktur.

Langkah-langkah berikutnya yaitu :

  1. Mempersiapkan temuan-temuan pengetahuan eksplisit baru untuk diimplementasikan. Atau dengan kata lain berarti learning by doing, yaitu dari referensi yang ada kita mulai belajar dan menemukan ide, pengalaman, dan pemahaman yang baru. Hal ini dilakukan dengan melakukan revisi terhadap karya tulis ilmiah dan video presentasi berdasarkan komentar yang masuk, baik dari instruktur, maupun teman sesama mahasiswa.
  2. Melanjutkan tiga tahap proses profound change (R1 sampai R3).

Setelah semua tahapan dilewati, maka dilakukan evaluasi atas penerapan metode yang telah diberikan. Bentuk evaluasi berupa penilaian atas hasil revisi dari paper karya tulis ilmiah dan presentasi yang telah di posting sebelumnya di blog masing-masing peserta dan perubahan blog baik dilihat dari segi display, substansi, manfaat dan hasil penggunaan serta penilaian video presentasi yang juga telah di revisi. Setelah itu, akan peserta akan diminta untuk mengisi angket dan sekitar 27% dari peserta akan diwawancara. Hasil dari angket, jurnal dan wawancara akan menjadi.kesimpulan dari keseluruhan penerapan metode sharing knowledge community ini.

Jika proses belajar dan berubah telah menjadi sebuah kebiasaan, dapat diartikan bahwa prosesnya telah berjalan secara berkelanjutan, dan dapat digunakan sebagai indikasi bahwa mahasiswa sudah mencapai taraf dewasa, dan siap menjadi sebuah organisasi pembelajar.

  1. Menganalisis data dan hasil pembahasan.
  2. Menarik kesimpulan dan saran.
  3. Hasil dari kesimpulan dan saran inilah yang kemudian menjadi hasil pemecahan masalah.

  1. D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Kualitas instrumen akan menentukan kualitas data yang terkumpul, sehingga tepatlah jika hubungan instrumen dengan data ini dikemukakan dalam ungkapan : garbage tool garbage result. Itulah sebabnya menyusun instrument bagi kegiatan penelitian merupakan langkah penting yang harus dipahami betul-betul oleh peneliti. (Arikunto, 2007:134).

  1. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan, maka digunakan instrumen penelitian diantaranya, yaitu tes kemampuan membuat paper ilmiah, dan teknik presentasi paper dan makalah sebagai instrumen utama, instrumen penilaian blog (berdasarkan display, substansi dan hasil penggunaan beserta video presentasi), kelengkapan informasi dalam software mind manager sebagai penilaian outline paper,   wawancara, modul,  angket dan pedoman observasi mahasiswa sebagai instrumen pendukung.

1)   Tes kemampuan membuat paper ilmiah, Penilaian teknik presentasi paper dan Penilaian blog dan video presentasi.

Arikunto (2002:127) menjelaskan bahwa :”Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bekal yang dimiliki oleh individu atau kelompok.”

Tes dalam penelitian ini terdiri tes mengembangkan karya tulis ilmiah pada seri I (tes I) dan tes tingkat kreatifitas dan kajian ide orisinal pada seri II (tes II). Untuk validasi instrumen sendiri, tidak dilakukan uji coba, karena instrumen berasal dari Pedoman PKM DP2M Dikti dan Pedoman Akreditasi Berkala Ilmiah Dikti. Jadi, untuk format penilaian hanya dilakukan justifikasi.

2)   Penilaian dokumentasi data mind manager

Proses penilaiannya sendiri diutamakan pada proses pemetaan fikiran, bukan produk yang dihasilkan. Untuk menghasilkan layout paper yang baik dan benar. Kemudian mempresentasikannya.

3)   Wawancara

Wawancara terhadap peserta dilakukan secara berkala, setiap selesai satu siklus. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kelemahan dari setiap siklus dan untuk melakukan perbaikan pada siklus berikutnya. Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan wawancara ini ialah untuk mengetahui pendapat mahasiswa mengenai proses pembelajaran menggunakan metode sharing knowledge community yang telah dilaksanakan, materi yang diberikan, media yang digunakan, dosen yang menjadi fasilitator, fasilitas yang mendukung proses pembelajaran dan meminta masukan dari mahasiswa.

4)   Angket

Kuesioner atau angket merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang diberi tersebut bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna. (Arikunto, 2007:102).

Angket yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon mahasiswa terhadap pembelajaran menggunakan metode sharing knowledge community. Angket dibuat dengan 5 indikator, yaitu :

  1. Persepsi mahasiswa.
  2. Motivasi mahasiswa.
  3. Minat mahasiswa.
  4. Aktivitas mahasiswa.
  5. Sikap mahasiswa.

5)   Observasi

Lembar observasi digunakan untuk mengetahui kegiatan belajar yang terjadi dalam proses pembelajaran pada saat dilaksanakannya tindakan. Lembar observasi ini berupa lembar untuk mengamati hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan belajar mahasiswa pada saat melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan metode sharing knowledge community.

Adapun kegiatan yang diamati adalah proses belajar mengajar yang terjadi selama pembelajaran berlangsung.

6)   Jurnal harian

Data jurnal merupakan tanggapan mahasiswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar dengan metode sharing knowledge community setiap serinya. Data jurnal di kelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu komentar positif, komentar negatif, komentar biasa dan tidak berkomentar.

  1. Teknik Analisis Data

Data yang diperolah kemudian dikategorikan ke dalam jenis data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif, tes pada seri I dan tes pada seri II. Sedangkan data kualitatif meliputi angket, wawancara dan dokumentasi mind manager.

1)        Analisis data kuantitatif

  1. Menilai tingkat penguasaan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa berdasarkan kriteria berikut ini :

Tabel 3.1. Kriteria Kemampuan Mengembangkan

Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa

Status Skor Predikat (Peringkat/kriteria)
Tidak Lulus < 40 Sangat Kurang (D)
40-69 Kurang (C)
Lulus 70-85 Baik (B)
>85 Sangat Baik (A)

(Panduan Akreditasi Berkala Ilmiah Dikti, 2006:2)

Mahasiswa dikatakan tuntas belajarnya jika telah berhasil memperoleh tingkat keberhasilan 66% dan ketuntasan secara klasikal adalah 85% (Yonata, 2008:1). Mahasiswa dinyatakan berhasil jika skor yang diperolehnya lebih besar atau sama dengan 70. Nilai 70 merupakan standar keberhasilan yang ditetapkan oleh program ilmu komputer dengan merujuk pada pedoman skripsi yang menyatakan bahwa salah satu pra syarat untuk mengambil skripsi adalah telah lulus mata kuliah berbasis penelitian, seminar, dan atau PLP (PLA) dengan nilai minimal B (Setiawan, 2007:9).

Kemudian akan dihitung presentase setiap kriteria pada setiap siklus dengan menggunakan rumus :

Dengan :

Jmsk : Jumlah mahasiswa setiap kriteria

Jsm   : Jumlah seluruh mahasiswa

Selanjutnya data di interpretasikan dengan menggunakan kategori presentase menurut Kuntjaraningrat (Rohansyah, 2008:39) seperti terlihat dalam tabel 3 berikut :

Tabel 3.2. Interpretasi Perhitungan Presentase

Besar Presentase Interpretasi
0% Tidak ada
1% – 25% Sebagian kecil
26% – 49% Hampir setengahnya
50% Setengahnya
51% – 75% Sebagian besar
76% – 99% Pada umumnya
100% Seluruhnya

  1. Menghitung ketuntasan belajar mahasiswa. Analisis ketuntasan belajar mahasiswa menggunakan statistik diskriptif yang dihitung dengan menggunakan rumus (Supadjari, 2001:67):

K = ( T  : T1 ) x 100 %

Keterangan

K          : Persen ketuntasan belajar tiap mahasiswa

T          : Jumlah tujuan pembelajaran yang tuntas

T1        : Jumlah tujuan pembelajaran keseluruhan

2)        Analisis data kualitatif

  1. Analisis data angket

Penskoran menurut suherman (2003:190) : untuk pernyataan favorable. Jawaban SS diberi skor 5, S diberi skor 4, R diberi skor 3, TS  diberi skor 2, dan STS diberi skor 1.

Pengolahan angket diperoleh dengan menghitung rerata skor subjek. Jika rerata subjek lebih dari 3 ia bersikap atau merespon positif, jika rerata subjek kurang dari 3 maka ia bersikap atau merespon negatif. Makin mendekati 5 sikap mahasiswa makin positif. Sedangkan makin mendekati 1 sikap mahasiswa makin negatif.

Untuk menganalisis respon siswa terhadap tiap butir pernyataan dalam angket digunakan rumus sebagai berikut :

Dengan :

P          = Presentase jawaban

f           = frekuensi jawaban

n          = banyaknya responden

Setelah dianalisis, kemudian dilakukan interpretasi data dengan menggunakan kategori presentase berdasarkan interpretasi presentase yang terdapat pada tabel 3.

  1. Analisis hasil wawancara

Data wawancara diolah dengan cara melihat jawaban responden terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan juga hasil diskusi, kemudian dijabarkan mengenai keadaan mahasiswa. (wawancara kepada dosen/instruktur/fasilitator). Kemudian ditarik kesimpulan.

Sedangkan data wawancara  kepada setiap peserta diolah dan dijabarkan kemudian ditarik kesimpulan mengenai hasil pencapaian belajar siswa, baik dari segi kognitif, afektif maupun psikomotor. Hal ini guna memperbaiki proses pembelajaran pada siklus berikutnya dan untuk mengambil kesimpulan bahwa sebuah proses pembelajaran dikatakan berhasil atau tidaknya

  1. Analisis hasil observasi

Lembar observasi dianalisis untuk memeriksa tahapan-tahapan pembelajaran dengan metode sharing knowledge community pada kelas SKC. Hal-hal yang tidak terlaksana pada proses pembelajaran, diperbaiki pada siklus berikutnya.

  1. Analisis dokumentasi mind manager

Hasil peta konsep pada software mind manager dijadikan sebagai dokumentasi penelitian. Dan sebuah website sharing knowledge community.

  1. Analisis jurnal harian

Data jurnal merupakan tanggapan mahasiswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar dengan metode sharing knowledge community setiap siklusnya. Data jurnal di kelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu komentar positif, komentar negatif, komentar biasa dan tidak berkomentar.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan dan dideskripsikan seluruh hasil penelitian yang diperoleh selama melakukan proses penelitian yang telah dilakukan. Sistematika penyajian dalam bab ini adalah sebagai berikut :

  1. A. Hasil Penelitian
    1. 1. Deskripsi Tingkat Kemampuan Mengembangkan Karya Tulis Ilmiah dan Presentasi

Setelah menggunakan metode sharing knowledge community seperti yang telah tergambar pada satuan acara perkuliahan (SAP lampiran A). Selanjutnya diadakan tes yang bertujuan untuk mengetahui hasil belajar mahasiswa pada seri I dan seri II. Berdasarkan nilai tes hasil belajar mahasiswa diperoleh, data tingkat kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi sebagai berikut :

Tabel 4.1. Tingkat Kemampuan Mahasiswa pada Tes Seri I

No. Kriteria Kemampuan

(Skor)

Tingkat kemampuan Banyak Mahasiswa Presentase Jumlah Mahasiswa
1. < 40 Sangat Kurang 0 0%
2. 40-69 Kurang 12 40%
3. 70-85 Baik 15 50%
4. >85 Sangat Baik 3 10%
Jumlah 30 100%

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa mahasiswa yang memenuhi tingkat penguasaan paling sedikit sedang(kategori baik) adalah sebanyak 18 orang atau 60%.

Tabel 4.2. Tingkat Kemampuan Mahasiswa pada Tes Seri II

No. Kriteria Kemampuan

(Skor)

Tingkat kemampuan Banyak Mahasiswa Presentase Jumlah Mahasiswa
1. < 40 Sangat Kurang 0 0%
2. 40-69 Kurang 6 20%
3. 70-85 Baik 15 50%
4. >85 Sangat Baik 9 30%
Jumlah 30 100%

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa mahasiswa yang memenuhi tingkat penguasaan paling sedikit sedang(kategori baik) adalah sebanyak 24 orang atau 80%.

  1. 2. Deskripsi Ketuntasan Belajar Mahasiswa

Berdasarkan nilai tes seri I hasil belajar mahasiswa dengan menerapkan metode sharing knowledge community diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 4.3. Data Ketuntasan Belajar Mahasiswa pada tes Seri I

No. Persentase Ketuntasan Tingkat Ketuntasan Banyak Mahasiswa % jumlah Mahasiswa
1. <66% Tidak Tuntas 5 Orang 16,7%
2. ≥66% Tuntas 25 Orang 83,3%
Jumlah 30 Orang 100%

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa persentase mahasiswa yang tuntas belajar lebih besar daripada persentase mahasiswa yang tidak tuntas belajar. Karena 83,3% mahasiswa sudah tuntas secara  individual maka berdasarkan kriteria ketuntasan klasikal dapat disimpulkan bahwa penerapan metode sharing knowledge community pada mata kuliah seminar telah memenuhi kriteria ketuntasan belajar secara klasikal.

Tabel 4.4. Data Ketuntasan Belajar Mahasiswa pada tes Seri II

No. Persentase Ketuntasan Tingkat Ketuntasan Banyak Mahasiswa % jumlah Mahasiswa
1. <66% Tidak Tuntas 4 Orang 13,3%
2. ≥66% Tuntas 26 Orang 86,7%
Jumlah 30 Orang 100%

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa persentase mahasiswa yang tuntas belajar lebih besar daripada persentase mahasiswa yang tidak tuntas belajar. Karena 86,7% mahasiswa sudah tuntas secara  individual maka berdasarkan kriteria ketuntasan klasikal dapat disimpulkan bahwa penerapan metode sharing knowledge community pada mata kuliah seminar telah memenuhi kriteria ketuntasan belajar secara klasikal.

  1. 3. Deskripsi Ketercapaian Tujuan Pembelajaran Khusus atau indikator

Adapun tujuan pembelajaran khusus atau indikator dalam penelitian ini adalah:

  1. Mengidentifikasi permasalahan yang terkait dengan pembelajaran Ilmu komputer misalnya sistem informasi akademik dll.
  2. Menentukan  permasalahan yang menjadi prioritas untuk dikaji.
  3. Membuat paper  ilmiah.
  4. Menjelaskan alasan pemilihan materi kajian.
  5. Menjelaskan manfaat materi yang akan dikaji.
  6. Membuat media yang menarik dalam mempresentasikan karya tulis ilmiah.
  7. Menggunakan bahasa  Indonesia dengan benar, jelas dan mudah dimengerti.
  8. Membuat blog yang semenarik mungkin dengan memanfaatkan fitur-fitur utama yang terdapat didalamnya.
  9. Menggunakan blog untuk melakukan aktivitas sharing knowledge agar meningkatkan kualitas kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah.
  10. Terampil mengelola waktu dalam mempresentasikan karya tulis ilmiah.
  11. Terampil mengelola diskusi.
  12. Terampil membuat suasana yang menyenangkan.
  13. Bersikap demokratis.

Deskripsi pencapaian K(persen ketuntasan belajar tiap mahasiswa) dapat disajikan pada tabel berikut dengan data selengkapnya lampiran.

Banyak T(tujuan yang tuntas) = 11 TPK

Maka K = 84,61%

Berdasarkan data pada lampiran  dapat dilihat bahwa K yang tercapai ada 11 dari 13 yang ada atau 84,61% tuntas. Berdasarkan kriteria ketuntasan pencapaian K maka ketuntasan pencapaian K pada mata kuliah seminar sudah tercapai.

  1. 4. Analisis Data Hasil Angket

Pada akhir pembelajaran setiap mahasiswa diberikan angket, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui respons mahasiswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community dapat diketahui melalui angket yang diisi oleh seluruh mahasiswa yang mendapatkan mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community. Angket diberikan tidak dimaksudkan untuk menguji responden dalam ini respondennya adalah mahasiswa, tetapi lebih mengutamakan pencarian atau pengungkapan dari mahasiswa. ada beberapa hal yang ingin diketahui dengan pemberian angket ini kepada siswa, yaitu:

1)             Persepsi siswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community dalam meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi.

2)             Motivasi siswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community dalam meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi.

3)             Minat siswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community dalam meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi.

4)             Aktivitas siswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community dalam meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi.

5)             Sikap siswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community dalam meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi.

Setelah data angket terkumpul, didapatkan data tentang respons mahasiswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community dalam meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi sebagai berikut:

1)        Persepsi siswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community dalam meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi.

Indikator tentang presepsi mahasiswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community dalam meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi terdapat pada pernyataan 1 dan 2 disajikan dalam Tabel 4.5. (Seri I) dan Tabel 4.6. (Seri II)

Tabel 4.5. Frekuensi Jawaban Mahasiswa Beserta Interpretasi (Seri I)

No Pernyataan Frekuensi Relatif
STS TS R S SS
1 Pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi yang baru saya ikuti menarik. 0% 13,3% 30% 50% 6,7%
2 Pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi dengan metode Sharing Knowledge Community ini mudah dipahami. 0% 16,7% 53,3% 26,7% 3,3%

Pada angket dengan indikator presepsi mahasiswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community dalam meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi hanya terdapat satu macam pernyataan presepsi mahasiswa yaitu pernyataan favorable beralasan. Untuk pernyataan favorable ada dua poin yaitu pernyataan no 1 dan 2.

Pada pernyataan nomor 1, setengah dari seluruh jumlah mahasiswa menyatakan setuju bahwa pembelajaran yang diikuti menarik dengan alasan banyak berlatih membuat karya tulis dan presentasi sendiri, dan sebagian kecil mahasiswa menyatakan sangat setuju diantaranya beralasan karena dapat menambah pengetahuan kita tentang pembuatan karya tulis dan presentasi. Namun hampir setengah dari mahasiswa menyatakan ragu terhadap pembelajaran mata kuliah seminar dengan cara yang diterapkan selama proses penelitian, mereka beralasan bahwa mereka belum memahami betul mengenai apa yang dibahas oleh mereka sendiri. Bahkan ada 13,3% mahasiswa yang tidak setuju bahwa pembelajaran yang baru diikuti sangat menarik bagi mereka, mereka beralasan penyajian materinya kurang interaktif dan menarik

Pada pernyataan nomor 2 hampir setengahnya mahasiswa setuju  bahwa pembelajaran yang diberikan mudah dipahami dengan alasan informasi tidak hanya datang karena kita yang mencarinya, tetepi informasi dapat didapat berbagai hal. Dengan adanya SKC ini sebenarnya kita akan mendapatkan banyak informasi yang tidak kita ketahui dari orang lain sehingga semakin memudahkan kita dalam mengetahui sebuah informasi, dan sebagian besar dari mereka berpendapat masih ragu, dengan alasan mudah apabila dilakukan secara berjangka, berkala. Tapi tidak apabila dilakukan dalam waktu terbatas ( menimbulkan efek kejutan / ketidaknyamanan ).  Sebagian kecil menyatakan pembelajaran yang diberikan tidak mudah dipahami  karena  cakupannya sangat luas, maka tidak semua materi yang disajikan oleh komunitas dapat di tangkap dengan baik, yang ditangkap hanya fraksional dari seluruh informasi yang ada, namun member kesempatan untuk memilih materi mana yang dapat didalami. Dan sebagian kecil lainnya menyatakan bahwa proses pembelajaran ini sangat mudah dipahami karena tidak banyak aturan, jadi bebas bertanya jika memang ada yang kurang dipahami.

Tabel 4.6. Frekuensi Jawaban Mahasiswa Beserta Interpretasi (seri II)

No Pernyataan Frekuensi Relatif
STS TS R S SS
1 Pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi yang baru saya ikuti menarik. 3,3% 0% 16,7% 66,7% 13,3%
2 Pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi dengan metode Sharing Knowledge Community ini mudah dipahami. 0% 16,7% 30% 40% 13,3%

Pada angket dengan indikator presepsi mahasiswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community dalam meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi hanya terdapat satu macam pernyataan presepsi mahasiswa yaitu pernyataan favorable beralasan. Untuk pernyataan favorable ada dua poin yaitu pernyataan no 1 dan 2.

Pada pernyataan nomor 1 sebanyak 3,3% menyatakan kalau proses pembelejaran dengan metode ini tidak menarik. Sebagian kecil  menyatakan bahwa pembelajaran seminar  dengan metode ini cukup menyita waktu, apalagi jika harus mengedit dan mengatur tulisan d blog. Padahal masih banyak tugas dari mata kuliah lain. Sebagian besar lainnya merasa tertarik dengan pembelajaran ini karena menimbulkan cara pembelajaran yang berbeda dan dengan blog ini bisa saling berbagi dan mengoreksi hasil karya tulis sekaligus mempromosikan ke dunia luar. Bahkan sekitar 13,3% menyatakan sangat tertarik dengan pembelajaran ini.

Pada pernyataan nomor 2, sebanyak  3,3% mahasiswa pembelajaran penyusunan karya tulis dengan metode sharing knowledge community ini sulit dipahami tanpa memeberikan alasan. Sebagian kecil lainnnya tidak setuju kalau pembelajaran dengan metode ini mudah dipahami kerana studi kasus tersebut membuat mereka tertantang untuk membuat karya ilmiah dan presentasi. Sementara itu sekitar 30% menyatakan ragu kalau pembelajaran dengan metode ini mudah dipahami. Alasannya, mereka menganggap terkesan seperti pemaksaan ketimbang pembelajaran. Namun hampir setengahnya menyatakan bahwa pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community ini mudah dipahami, karena dengan metode ini, referensi  yang diberikan cukup jelas. Bahkan 13,3% mahasiswa menyatakan bahwa pembelajaran dengan metode ini sangat mudah untuk di pahami karena penjelasannya sangat mendetail.

2)        Motivasi mahasiswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community untuk meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi mahasiswa.

Indikator motivasi mahasiswa terhadap mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community untuk meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi mahasiswa terdapat pada pernyataan 7 Tabel 4.7. (seri I) dan Tabel 4.8. (seri II)

Tabel 4.7.

Frekuensi Jawaban Mahasiswa Beserta Interpretasi (seri I)

No Pernyataan Frekuensi Relatif
STS TS R S SS
7 Studi kasus yang diberikan dalam pembelajaran ini menggali pengetahuan mengenai  penyusunan karya tulisdan presentasi saya lebih baik. 3,3% 3,3% 23,3% 20% 6,7%

Pada pernyataan nomor 7 sebagian kecil mahasiswa sangat tidak setuju dengan pernyataan yang menyatakan bahwa studi kasus yang diberikan dalam pembelajaran ini menggali pengetahuan mengenai  penyusunan karya tulis dan presentasi saya lebih baik, dengan alasan mereka merasa tidak mendapatkan studi kasus. Sekitar  3,3% mahasiswa juga menyatakan ketidaksetujuannya bahwa studi kasus yang diberikan dalam pembelajaran ini menggali pengetahuannya mengenai  penyusunan karya tulis dan presentasi lebih baik, karena merasa studi kasus yang diberikan kurang sesuai dengan risetnya. Sebagian kecil lainnya menyatakan ragu-ragu dengan pembelajaran ini, karena merasa dapat lebih memperdalam kemampuan di bidang yang dimilikinya. Sementara sebagian kecil lainnya menyatakan setuju jika studi kasus yang diberikan dalam pembelajaran ini menggali pengetahuannya mengenai  penyusunan karya tulis dan presentasi lebih baik. Mereka beralasan, karena sebelumnya kurang memahami mengenai penyusunan karya tulis dan presentasi. Bahkan sebagian kecil lainnya menyatakan sangat setuju dengan pembelajaran ini karena jika proses pembelajaran hanya berjalan satu arah, (dari dosen saja) kurang begitu jelas.

Tabel 4.8.

Frekuensi Jawaban Mahasiswa Beserta Interpretasi (seri II)

No Pernyataan Frekuensi Relatif
STS TS R S SS
7 Studi kasus yang diberikan dalam pembelajaran ini menggali pengetahuan mengenai  penyusunan karya tulis saya dan presentasi  lebih baik. 3,3% 6,7% 26,7% 56,7% 10%

Pada pernyataan nomor 7, sekitar  3,3 % menyatakn tanpa alasan sangat tidak setuju kalau studi kasus yang diberikan dalam pembelajaran ini menggali pengetahuannya mengenai  penyusunan karya tulis dan presentasi lebih baik, tanpa memberikan alasan. Sedangkan sebagian kceil lainnya menyatkan tidak setuju karena terkesan seperti pemaksaan ketimbang pembelajaran. Dan setengahnya menyatakan ragu-ragu kalau studi kasus yang diberikan dalam pembelajaran ini menggali pengetahuannya mengenai  penyusunan karya tulis dan presentasi lebih baik, tanpa memberikan alasan.sementara itu sebgian besar dari mahasiswa setuju kalau studi kasus yang diberikan dalam pembelajaran ini menggali pengetahuannya mengenai  penyusunan karya tulis dan presentasi lebih baik. Dengan alasan penulisan karya tulis dan presentasi ternyata berbeda tergantung peraturan instansi yang bersangkutan jadi menggali pengetahuannya dalam penyusunan. Bahkan sekitar 10% mahasiswa menyatakan sangat setuju kalau studi kasus yang diberikan dalam pembelajaran ini menggali pengetahuannya mengenai  penyusunan karya tulis dan presentasi lebih baik karena studi kasus tersebut membuatnya semakin tertantang untuk membuat karya tulis ilmiah dan presentasi.

3)        Minat mahasiswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community untuk meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi mahasiswa.

Indikator mahasiswa tentang minat terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community untuk meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi mahasiswa terdapat pada pernyataan 6 yang disajikan dalam Tabel 4.9. (Seri I) dan Tabel 4.10. (Seri II).

Tabel 4.9.

Frekuensi Jawaban Mahasiswa Beserta Interpretasi (Seri I)

No Pernyataan Frekuensi Relatif
STS TS R S SS
6 Saya senang belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan dalam pembelajaran penyusunan karya tulis dan preentasi menggunakan metode  Sharing Knowledge Community. 0% 10% 56,7% 33,3% 0%

Pada pernyataan nomor 6, sekitar 10% mahasiswa menyatakan tidak setuju jika belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan dalam pembelajaran penyusunan karya tulis  dan presentasi menggunakan metode  sharing knowledge community. Alasannnya tidak terlalu berpengaruh terhadap karya tulis dan presentasi yang dibuat. Sedangkan sebagian besar mahasiswa menyatakan ragu jika belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan dalam pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi menggunakan metode  sharing knowledge community, karena belum mempelajari semua bahasan. Hampir setengahnya setuju belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan dalam pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi menggunakan metode  sharing knowledge community. Alasannnya spiralisasi pengetahuan berarti penyatuan atau pemusatan pengetahuan kita yang bisa kita tuangkan kedalam lisan maupun tulisan dan media pendistribusian pengetahuan kita dalam metode tersebut.

Tabel 4.10.

Frekuensi Jawaban Mahasiswa Beserta Interpretasi (Seri II)

No Pernyataan Frekuensi Relatif
STS TS R S SS
6 Saya senang belajar penyusunan karya tulis dengan spiralisasi pengetahuan dalam pembelajaran penyusunan karya tulis menggunakan metode  Sharing Knowledge Community. 3,3% 6,7% 40% 46,7% 6,7%

Dari pernyataan nomor 6, sekitar  3,3 % menyatakan sangat tidak setuju belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan dalam pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi menggunakan metode  sharing knowledge community tanpa memberikan alasan. Dan sebagian kecil mahasiswa menyatakan tidak setuju karena tidak mengerti mengenai spiralisasi pengetahuan. Sebanyak 40% mahasiswa menyatkan ragu. karena tidak terlalu mengerti tentang spiralisasi pengetahuan. Sedangkan sebanyak 46,7% menyatakan setuju belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan dalam pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi menggunakan metode  sharing knowledge community dengan alasan, materi yang diberikan menjadi mudah di mengerti. Bahkan sebagian kecil lainnya menyatkan sangat setuju karena referensi yang diberikan cukup jelas.

4)        Aktivitas mahasiswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community untuk meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi mahasiswa.

Indikator mahasiswa tentang minat terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community untuk meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa terdapat pada pernyataan 3, 5, 8 dan 9 yang disajikan dalam Tabel 4.11. (Seri I) dan Tabel 4.12. (Seri II).

Tabel 4.11.

Frekuensi Jawaban Mahasiswa Beserta Interpretasi (Seri I)

No Pernyataan Frekuensi Relatif
STS TS R S SS
3 Kesempatan berdiskusi dalam pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi ini membuat saya lebih berani mengemukakan pendapat 0% 6,7% 36,7% 56,7% %
5 Saya senang bertukar pendapat dengan teman ketika menyelesaikan masalah yang diberikan. 0% 0% 10% 56,7% 33,3%
8 Saya lebih memahami belajar menyusun karya tulis dan presentasi dengan metode sharing knowledge community. 6,7% 6,7% 66,7% 20% 0%
9 Belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan memacu saya untuk menggali tacit knowledge dan explicit knowledge dari kemampuan penyusunan karya tulis dan presentasi yang saya peroleh sebelumnya. 0% 0% 50% 50% 0%

Dari pernyataan nomor  3, sekitar 6,7% mahasiswa sekitar  menyatakan bahwa tidak setuju, karena berdiskusi diantara sesama teman sudah biasa. Dan hampir setengahnya mennyatakan ragu jika kesempatan berdiskusi dalam pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi ini membuatnya lebih berani mengemukakan pendapat, karena belum mengerti mengenai diskusi yang dimaksud. Sedangkan sebagian besar mahasiswa menyatakan setuju dengan pernyataan jika kesempatan berdiskusi dalam pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi ini membuatnya lebih berani mengemukakan pendapat, alasannya karena ini bisa dimasukan kedalam kriteria pemanfaatan teknologi sehingga proses pemberian masukan dapat dilakukan kapan saja tanpa perlu menyita waktu dan tempat, tetapi proses pemahaman pendapat menjadi kurang jelas karena tidak adanya tatap muka langsung / media sebagai penjelas apa yang akan dijelaskan menjadi samar-samar.

Dari pernyataan nomor  5, yang menyatakan perasaan senang bertukar pendapat dengan teman ketika menyelesaikan masalah yang diberikan, sebagian kecil menyatakan ragu karena tidak memiliki partner dalam penyusunan makalah, karena bidang kajian yang berbeda. Sedangkan sebagian besar lainnya menyatakan setuju karena bisa sharing ilmu. Bahkan hampir setengahnya menyatakan sangat senang bertukar pendapat dengan teman ketika menyelesaikan masalah yang diberikan dengan alasan bisa memberikan masukan, satu sama lain.

Dari pernyataan nomor 8, sekitar  6,7% menyatakan sangat tidak setuju jika dikatakan lebih memahami belajar menyusun karya tulis dan presentasi dengan metode sharing knowledge community, alasannya tidak mengetahui dengan jelas apa yang dimaksud dengan metode sharing knowledge community. Dan sebagian kecilnya menyatakan tidak setuju karena proses sharing sendiri tidak memiliki petunjuk mendetail. Sementara itu sebagian besar mahasiswa merasa ragu, jika dikatakan lebih memahami belajar menyusun karya tulis dan presentasi dengan metode sharing knowledge community, karena merasa belum mempelajari semua bahasan. Sedangkan sebanyak 20% mahasiswa merasa setuju jika mereka lebih memahami belajar menyusun karya tulis dan presentasi dengan metode sharing knowledge community, karena metodenya sangat efektif kalau menurut mereka.

Berdasarkan pernyataan nomor  9, setengah dari mahasiswa merasa ragu jika belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan memacu  untuk menggali tacit knowledge dan explicit knowledge dari kemampuan penyusunan karya tulis dan presentasi yang di peroleh sebelumnya. Alasannya karena tidak bagitu memahami konsep dari tacit knowledge dan explicit knowledge. Dan setengah lainnya, merasa setuju jika belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan memacu  untuk menggali tacit knowledge dan explicit knowledge dari kemampuan penyusunan karya tulis dan presentasi yang di peroleh sebelumnya, karena menganggap metode ini sebagai pengalaman belajar baru.

Tabel 4.12.

Frekuensi Jawaban Mahasiswa Beserta Interpretasi (Seri II)

No Pernyataan Frekuensi Relatif
STS TS R S SS
3 Kesempatan berdiskusi dalam pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi ini membuat saya lebih berani mengemukakan pendapat 3,3% 0% 30% 63,3% 6,7%
5 Saya senang bertukar pendapat dengan teman ketika menyelesaikan masalah yang diberikan. 3,3% 3,3% 6,7% 60% 30%
8 Saya lebih memahami belajar menyusun karya tulis dan presentasi dengan metode sharing knowledge community. 3,3% 0% 43,3% 50% 3,3%
9 Belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan memacu saya untuk menggali tacit knowledge dan explicit knowledge dari kemampuan penyusunan karya tulis dan presentasi yang saya peroleh sebelumnya. 0% 0% 46,7% 50% 3,3%

Berdasarkan pernyataan nomor 3, sebagian kecil mahasiswa menyatakan sangat tidak setuju jika melalui metode ini kesempatan berdiskusi dalam pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi ini membuatnya lebih berani mengemukakan pendapat, tanpa memberikan alasan. Sedangkan sekitar 30%  mahasiswa menyatakan masih ragu jika kesempatan berdiskusi dalam pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi ini membuatnya lebih berani mengemukakan pendapat, alasannya karena belum memanfaatkan diskusi sebelumnya. Sedangkan sebagian besar mahasiswa menyatakan jika kesempatan berdiskusi dalam pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi ini membuatnya lebih berani mengemukakan pendapat, karena biasanya kalau di dunia maya kita bisa lebih berani menemukakan pendapat. (bagi orang yang susah mengemukakan pendapat secara face to face). Bahkan sebagian kecil lainnya sangat setuju jika melalui metode ini jika kesempatan berdiskusi dalam pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi ini membuatnya lebih berani mengemukakan pendapat. Karena menurut mereka dengan media tersebut mungkin lebih mudah mengemukakan pendapat, kalau masalah keberanian tergantung orangnya itu sendiri.

Dari pernyataan nomor 5, dapat disimpulkan bahwa sekitar  3,3% mahasiswa menyatakan sangat tidak setuju  jika bertukar pendapat dengan teman ketika menyelesaikan masalah yang diberikan, tanpa memberikan alasan. Dan sebagian kecil lainnya menyatakan tidak setuju karena merasa hanya terbatas pada masalah yang dirasa menarik saja. Sedangkan sekitar 6,7% mahasiswa menyatakan ragu-ragu bertukar pendapat dengan teman ketika menyelesaikan masalah yang diberikan, dengan alasan terbiasa mengerjakan tugas sendirian. Sedangkan  sebagian besar mahasiswa merasa senang bertukar pendapat dengan teman ketika menyelesaikan masalah yang diberikan, karena bisa tambah informasi, tambah ilmu, tambah masukan/jalan keluar dalam menyelesaikan masalah yang ada. Bahkan  hampir setengahnya menyatakan sangat senang, dengan alasan karena dengan banyak pendapat dapat memberikan banyak inspirasi yang berguna untuk menyelesaikan masalah.

Dari pernyataan nomor 8, sekitar   3,3 % menyatakan sangat tidak setuju bahwa dengan metode ini membuatnya lebih memahami belajar menyusun karya tulis, alasannya : karena sudah ada beberapa standarisasi yang telah baku yang dapat diajarkan oleh satu orang dari pada harus berembuk untuk membuat standar sendiri. Ssementara itu sekitar 43,3%  menyatakan masih ragu jika metode ini membuatnya lebih memahami belajar menyusun karya tulis dan presentasi karena, menurutnya metode lain pun bisa dipahami dengan mudah. Sedangakan setengahnya menyatakan setuju jika mereka lebih memahami belajar menyusun karya tulis dan presentasi dengan metode sharing knowledge community. Alasannya dengan metode ini saya diberikan pengarahan yang jelas tentang bagaimana cara yang baik untuk meyusun sebuah karya tulis dan presentasi karena dengan SKC ini kita bisa bertanya kepada setiap anggota kelompok untuk memberikan masukan dan arahan dalam pembuatan karya tulis dan presentasi. Bahkan sebagian kecilnya merasa sangat memahami belajar menyusun karya tulis dengan metode sharing knowledge community, karena referensinya jelas.

Dari pernyataan nomor 9, sekitar  3,3% menyatakan sangat tidak setuju,  tanpa memberikan alasan. Sementara, hampir setengahnya menyatakan ragu jika belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan memacunya untuk menggali tacit knowledge dan explicit knowledge dari kemampuan penyusunan karya tulis dan presentasi yang saya peroleh sebelumnya, dengan alasan kurang mengerti maksud dari tacit knowledge dan explicit knowledge. Sedangkan setengahnya menyatakan setuju jika belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan memacunya untuk menggali tacit knowledge dan explicit knowledge dari kemampuan penyusunan karya tulis yang saya peroleh sebelumnya, karena ingin menularkan kebisaan kepada orang lain, karena merasa akan senang jika melihat orang lain bahagia apalagi kalau kebahagiaan itu salah satu faktornya karena kita jadi setiap pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki mudah-mudahan bisa dibagikan baik dalam lisan maupun tulisan. Bahkan sebagian kecil lainnya menyatakan sangat setuju karena lewat dosen yang bersangkutan kurang jelas, terutama jika hanya berlangsung satu arah saja.

5)        Sikap mahasiswa terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community untuk meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi mahasiswa.

Indikator mahasiswa tentang minat terhadap pembelajaran mata kuliah seminar menggunakan metode sharing knowledge community untuk meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi mahasiswa terdapat pada pernyataan 4, disajikan dalam Tabel 4.13.

Tabel 4.13.

Frekuensi Jawaban Mahasiswa Beserta Interpretasi (Seri I)

No Pernyataan Frekuensi Relatif
STS TS R S SS
4 Saya senang dengan pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi dengan metode  Sharing Knowledge Community karena dapat berinteraksi, bersosialisasi, berkomunikasi dengan anggota kelompok yang lainnya. 3,3% 10% 36,7% 36,7% 13,3%

Dari pernyataan nomor 4, sekitar  3,3% menyatakan sangat tidak setuju bahwa pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi dengan metode  sharing knowledge community dapat berinteraksi, bersosialisasi, berkomunikasi dengan anggota kelompok yang lainnya. Alasannya karena dalam pembelajaran karya tulis dan presentasi dimana standar penulisan adalah masalah utamanya, pembagian pengetahuan bukanlah menjadi masalah utama, karena konsentrasi tiap-tiap peserta berbeda dan sering kali tidak berhubungan, sharing knowledge tidak memiliki keoptimalan fungsi. Dan sekitar 10% menyatakan tidak setuju karena belum pernah berinteraksi, bersosialisasi, berkomunikasi dengan anggota kelompok yang lainnya dengan metode  ini.  sementara itu, hampir setenghnya menyatakan masih ragu, karena pembagian kelompok kemarin tidak jelas, malah sepertinya tidak ada kelompok, tapi kalau ada itu bisa sangat membantu. Sedangkan sebanyak 36,7% menyatakan senang dengan pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi dengan metode  Sharing Knowledge Community karena dapat berinteraksi, bersosialisasi, berkomunikasi dengan anggota kelompok yang lainnya. Bahkan sebagian kecil menyatakan sangat setuju karena dengan metode itu akan menambah kualitas percaya diri seseorang.

Tabel 4.14.

Frekuensi Jawaban Mahasiswa Beserta Interpretasi (Seri II)

No Pernyataan Frekuensi Relatif
STS TS R S SS
4 Saya senang dengan pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi dengan metode  Sharing Knowledge Community karena dapat berinteraksi, bersosialisasi, berkomunikasi dengan anggota kelompok yang lainnya. 3,3% 3,3% 30% 50% 13,3%

Berdasarkan pernyataan nomor 4, sekitar 3,3 % menyatakan sangat tidak setuju karena pembelajaran karya tulis dan presentasi dimana standar penulisan adalah masalah utamanya, pembagian pengetuan bukan lah menjadi masalah utama, karena konsentrasi tiap-tiap peserta berbeda dan sering kali tidak berhubungan, sharing knowledge tidak memiliki keoptimalan fungsi. Dan sekitar 3,3% lainnya menyatakan tidak setuju karena pembagian kelompok kemarin tidak jelas, malah sepertinya tidak ada klompok, tapi kalau ada itu bisa sangat membantu. Sementara itu, hampir setengahnya menyatakan ragu jika dengan pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi dengan metode  sharing knowledge community dapat berinteraksi, bersosialisasi, berkomunikasi dengan anggota kelompok yang lainnya, karena kita diberi forum untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi dengan anggota lain, itu sangat membantu. Sedangkan setengahnya menyatakan setuju, karena satu sama lain bisa sharing. Bahkan 13,3% menyatakan sangat setuju, dengan alasan dengan adanya fasilitas komunikasi ini, membuatnya dapat selalu keep in touch dengan peserta yang lain sekaligus berkomunikasi dan berdiskusi.

Dari hasil angket keseluruhan seri I, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa belum memenuhi target 50% respon positif pada beberapa pernyataan berikut :

  1. Pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi dengan metode Sharing Knowledge Community ini mudah dipahami (respon positif 30% pada pernyataan no.2)
  2. Saya senang dengan pembelajaran penyusunan karya tulis dan presentasi dengan  metode Sharing Knowledge Community  karena dapat berinteraksi, bersosialisasi, berkomunikasi dengan anggota kelompok yang lainnya.(respon positif 50% pada pernyataan no.4)
  3. Saya senang belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan dalam pembelajaran penyusunan karya tulis menggunakan metode  Sharing Knowledge Community.(respon positif 33,3% pada pernyataan no.6)
  4. Saya lebih memahami belajar menyusun karya tulis dan presentasi dengan metode sharing knowledge community.(respon positif 20% pada pernyataan no.8).
  5. Belajar penyusunan karya tulis dan presentasi dengan spiralisasi pengetahuan memacu saya untuk menggali tacit knowledge dan explicit knowledge dari kemampuan penyusunan karya tulis yang saya peroleh sebelumnya.(respon positif 50% pada pernyataan no.6)

Sedangkan pada data hasil angket pada seri II dapat diketahui bahwa lebih dari 50% mahasiswa memberikan respon positif terhadap metode pembelajaran yang baru dilaksanakan. Hal ini di dasari oleh perbaikan-perbaikan yang dilakukan berdasarkan permasalahan yang dihadapi pada seri sebelumnya.

Hasil analisis pada angket seri II menunjukkan tingkat kepuasan mahasiswa terhadap proses pembelajaran menggunakan metode sharing knowledge community.

  1. 5. Analisis Data hasil Observasi

Dalam penelitian ini lembar observasi diberikan kepada dua orang observer pada kedua siklus, baik itu seri I maupun seri II. Observer mengamati setiap aktivitas yang sedang berlangsung di kelas (offline) maupun online, baik itu aktivitas dosen atau instruktur dengan mahasiswa, maupun mahasiswa dengan mahasiswa. Lembar observasi digunakan untuk mengetahui aktivitas selama pembelajaran berlangsung selain itu juga bisa menggambar suasana kelas selama proses pembelajaran. Berikut data hasil observasi selama pembelajaran yang terjadi selama 4 kali pertemuan yang disajikan dalam Tabel 4.15. (Seri I) dan Tabel 4.16. (Seri II).

Tabel 4.15

Hasil Observasi pada Seri I

(Pembuatan outline paper dan presentasi, dengan peta konsep)

No Aspek yang diobservasi Pert. 1
O1 O2
I
  1. Pendahuluan
    1. Dosen memotivasi mahasiswa.
    2. Dosen menyampaikan tujuan pembelajaran.

SB

B

SB

SB

II
  1. Kegiatan Inti
    1. Memberikan pengarahan singkat kepada mahasiswa (jika perlu) dalam membuat ringkasan materi sebagai portofolio menggunakan software mind manager.
    2. Mahasiswa merefleksikan pengalaman dalam perkuliahan sebelumnya terkait dengan pengetahuan yang telah dimilikinya tentang Ilmu komputer.
    3. Mahasiswa membuat sebuah outline karya tulis  ilmiah dan presentasi menggunakan peta konsep.
    4. 4. Setiap peserta dikelompokan menjadi 5 kelompok. Dengan masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang. Setiap anggota dapat melakukan brain storming dan sharing knowledge.
    5. Proses brain storming dan sharing knowledge. Bagaiman mahasiswa mendiskusikan hasil refleksi di dalam kelas hingga diperoleh permasalahan yang masih memerlukan pengkajian lebih lanjut dalam perkuliahan.
    6. Mahasiswa mencari referensi yang berhubungan dengan karya tulis ilmiah yang dibuat. Bisa melalui referensi buku, jurnal ilmiah, maupun artikel-artikel di internet. Kemudian mendiskusikannya di dalam kelompok.
    7. Jika karya ilmiah dan presentasi yang dibuat membutuhkan analisis dan perancangan. Maka pada tahap ini, setiap mahasiswa diharapkan untuk dapat merancang dan menganalisis materi yang dikajinya.
    8. Proses pembuatan paper ilmiah.
    9. Mengarahkan mahasiswa (jika ada) untuk berusaha mendeteksi suatu kesalahan dalam suatu penyelesaian masalah.

10. Proses presentasi outline paper. Mahasiswa melakukan sosialisasi dengan melakukan presentasi kembali paper ilmiah yang telah di revisi.

11. Presentasi paper pada sidang seminar.

12. Interaksi sosial antar mahasiswa dengan dosen.

13. Antusiasisme mahasiswa dalam membuat sebuah karya tulis dan presentasi.

14. Keaktifan dan keberanian mahasiswa dalam mengemukakan pendapat di depan kelas dan menanggapi pendapat orang lain.

15. Pemahaman materi yang diberikan melalui metode sharing knowledge community.

B

B

B

B

B

B

B

B

B

B

B

B

B

C

B

SB

B

SB

B

B

B

B

B

B

B

B

B

B

B

B

III
  1. Penutup
    1. 1. Dosen memberikan penghargaan, refleksi dan evaluasi

B

B

Keterangan:

O1 : observer 1                  SB       : sangat baik                C         : cukup

O2 : observer 2                  B         : baik                           K         : kurang

J           : jelek

Berdasarkan tabel di atas, peneliti berasumsi bahwa:

  1. Pada setiap pertemuan dosen sangat baik dalam memberikan motivasi kepada mahasiswa.
  2. Dosen menyampaikan tujuan pembelajaran dengan baik.
  3. Dosen memberikan pengarahan singkat kepada mahasiswa dalam membuat outline paper menggunakan peta konsep.
  4. Proses dimana mahasiswa merefleksikan pengalaman dalam perkuliahan sebelumnya terkait dengan pengetahuan yang telah dimilikinya tentang Ilmu komputer berlangsung  dengan baik.
  5. Kegiatan dimana mahasiswa membuat outline paper menggunakan peta konsep, berlangsung dengan baik.
  6. Proses pengelompokkan mahasiswa menjadi 5 kelompok. Dengan masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang. Setiap anggota dapat melakukan brain storming dan sharing knowledge, berlangsung dengan baik.
  7. Proses brain storming dan sharing knowledge. Bagaiman amahasiswa mendiskusikan hasil refleksi di dalam kelas hingga diperoleh permasalahan yang masih memerlukan pengkajian lebih lanjut dalam perkuliahan berlangsuk dengan baik.
  8. Ketika mahasiswa mencari referensi yang berhubungan dengan karya tulis ilmiah yang dibuat. Bisa melalui referensi buku, jurnal ilmiah, maupun artikel-artikel di internet. Kemudian mendiskusikannya di dalam kelompok, berjalan seperti yang seharusnya, dengan baik.
  9. Pada tahap ini, setiap mahasiswa diharapkan untuk dapat merancang dan menganalisis materi yang dikajinya, tahap inipun berjalan dengan baik.
  10. Proses pembuatan paper ilmiah, dinilai baik.
  11. Interaksi sosial antar mahasiswa dengan dosen, dinyatakan baik.
  12. Mengarahkan mahasiswa untuk berusaha mendeteksi suatu kesalahan dalam suatu penyelesaian masalah.Ada beberapa pertemuan yang kurang menyampaikan tujuan pembelajaran yang sedang berlangsung kepada mahasiswa, dinyatakan baik.
  13. Proses presentasi outline paper. Mahasiswa melakukan sosialisasi dengan melakukan presentasi kembali paper ilmiah yang telah di revisi, berjalan dengan baik.
  14. Presentasi paper pada sidang seminar, berlangsung dengan baik.
  15. Interaksi sosial antar mahasiswa dengan dosen, berjalan dengan baik.
  16. Antusiasisme mahasiswa dalam membuat sebuah karya tulis dan presentasi, baik.
  17. Keaktifan dan keberanian mahasiswa dalam mengemukakan pendapat di depan kelas dan menanggapi pendapat orang lain, dinilai cukup. Mahasiswa sendiri masih harus di stimulasi oleh pertanyaan-pertanyaan dari dosen.
  18. Pemahaman materi yang diberikan melalui metode sharing knowledge community, dinilai sudah baik.
  19. Dosen memberikan penghargaan, refleksi dan evaluasi, berjalan dengan baik.

Dari keseluruhan proses pembelajaran dalam kegiatan inti tiap pertemuan, hal yang cukup terlihat dengan baik adalah ketika dosen membimbing mahasiswa dalam menyelesaikan permasalahan mengenai tema yang mereka ambil. Dosen memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk sharing, bertanya dan membahas permasalahan dari tema seminar yang mereka ambil. Selain itu dosen mengarahkan mahasiswa untuk berusaha mendeteksi suatu kesalahan dalam penyelesaian masalah yang berkaitan dengan tema seminar. Hal ini mengindikasikan bahwa peran dosen sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran sudah cukup baik, sehingga diharapkan tujuan dari pembelajaran yang sedang dilaksanakan akan tercapai.

Selain itu ada beberapa aspek dalam kegiatan inti pembelajaran yang kurang menonjol dalam setiap pertemuan. Aspek tersebut adalah interaksi sosial antar kelompok dengan kelompok, kelompok dengan luar kelompok, dan kelompok dengan dosen, keaktifan dan keberanian mahasiswa dalam mengemukakan pendapat di depan kelas dan menanggapi pendapat orang lain. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya kebiasaan mahasiswa dalam proses pembelajaran yang terbiasa dengan cara belajar individu, tanpa kelompok dan kebiasaan untuk tidak mengungkapkan ketidaktahuan didalam kelas.

Tabel 4.16.

Hasil Observasi pada Seri II

(Pembuatan Karya Tulis Ilmiah dan Presentasi Dengan Blog Sebagai Media Sharing Knowledge Community)

No Aspek yang diobservasi Pert.
O1 O2
I
  1. Pendahuluan
    1. Instruktur memberikan modul mengenai cara membuat blog dan kaidah penulisan karya tulis ilmiah dan presentasi.

B

SB

II
  1. Kegiatan Inti
    1. Melakukan mentransformasikan paper yang telah di revisi ke dalam bentuk karya tulis ilmiah dan presentasi mengikuti petunjuk yang telah diberikan melalui DVD modul, software dan isian lainnya.
    2. Mahasiswa membuat blog menggunakan WordPress 2.8 berdasarkan pengalaman pribadi dan mengikuti petunjuk dalam DVD.
    3. Mahasiswa mempubilkasikan karya tulis ilmiah dan presentasi mereka melalui blog masing-masing.
    4. Mahasiswa meng-upload video presentasinya.
    5. Mahasiswa kemudian mempresentasikannya
    6. Melakukan diskusi memberikan saran, kritik, masukan, testimonial kepada rekannya sesama peserta kelas sharing knowledge community melalui comment pada blog.
    7. Memberikan link referensi bagi blog temannya.
    8. Pemanfaatan fitur lainnya.
    9. Mahasiswa melakukan revisi terhadap karya tulis ilmiah dan video presentasi berdasarkan komentar yang masuk, baik dari instruktur, maupun teman sesama mahasiswa.

SB

B

B

B

B

SB

B

C

B

B

B

SB

B

B

B

B

B

B

III
  1. Penutup
    1. Instruktur memberikan penghargaan, refleksi dan evaluasi, melalui comment pada blog.

SB

B

Dari keseluruhan seri II dapat disimpulkan bahwa :

  1. Instruktur memberikan modul mengenai cara membuat blog dan kaidah penulisan karya tulis ilmiah dan presentasi, berlangsung dengan baik
  2. Proses melakukan mentransformasikan paper yang telah di revisi ke dalam bentuk karya tulis ilmiah dan presentasi mengikuti petunjuk yang telah diberikan melalui DVD modul, software dan isian lainnya, juga berlangsung dengan baik.
  3. Kegiatan dimana mahasiswa membuat blog menggunakan WordPress 2.8 berdasarkan pengalaman pribadi dan mengikuti petunjuk dalam DVD, berjalan baik, dapat dilihat dari blog yang telah mereka buat.
  4. Proses mahasiswa mempubilkasikan karya tulis ilmiah dan presentasi mereka melalui blog masing-masing, juga berlangsung dengan baik.
  5. Mahasiswa meng-upload video presentasinya, di blog masing-masing. Proses ini berjalan dengan baik.
  6. Mahasiswa kemudian mempresentasikannya, presentasinya dapat terlihat dari video yang di upload di masing-masing blog. Kegiatan ini berlangsung dengan baik.
  7. Kegiatan diskusi memberikan saran, kritik, masukan, testimonial kepada rekannya sesama peserta kelas sharing knowledge community melalui comment pada blog, juga berlangsunng dengan baik.
  8. Proses memberikan link referensi bagi blog temannya, terlihat dengan baik,dengan adanya link teman-temannya di blog masing-masing mahasiswa.
  9. Pemanfaatan fitur lainnya, berlangsung cukup, karena ada beberapa yang tidak memanfaatkan fitur lainnya secara maksimal.
  10. Mahasiswa melakukan revisi terhadap karya tulis ilmiah dan video presentasi berdasarkan komentar yang masuk, baik dari instruktur, maupun teman sesama mahasiswa, proses inipun berjalan baik.
  11. Instruktur memberikan penghargaan, refleksi dan evaluasi, melalui comment pada blog, berjalan dengan baik.

Dari keseluruhan proses pembelajaran dalam kegiatan inti tiap pertemuan (online), hal yang cukup terlihat dengan baik adalah ketika instruktur membimbing mahasiswa dalam menyelesaikan permasalahan mengenai tema yang mereka ambil. Instruktur memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk sharing, bertanya dan membahas permasalahan dari tema seminar yang mereka ambil. Selain itu instruktur mengarahkan mahasiswa untuk berusaha mendeteksi suatu kesalahan dalam penyelesaian masalah yang berkaitan dengan tema seminar. Hal ini mengindikasikan bahwa peran instruktur sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran sudah cukup baik, sehingga diharapkan tujuan dari pembelajaran yang sedang dilaksanakan akan tercapai.

Selain itu ada beberapa aspek dalam kegiatan inti pembelajaran yang kurang menonjol dalam setiap pertemuan. Aspek tersebut adalah interaksi sosial antar kelompok dengan kelompok, kelompok dengan luar kelompok, dan kelompok dengan instruktur, keaktifan dan keberanian mahasiswa dalam mengemukakan pendapat di depan kelas dan menanggapi pendapat orang lain. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya kebiasaan mahasiswa dalam proses pembelajaran konvensional. Jadi karena, jadwal online itu tidak menentu, maka sulit untuk sellau terjadi komunikasi dua arah.

Namun mahasiswa lebih berani berkomentar dan mengemukakan pendapatnya, jika dibanding dengan ketika mereka belajar bertatap muka di kelas.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa keseluruhan tindakan instruktur sudah sesuai dengan satuan acara perkuliahan yang telah disusun.

  1. 6. Analisis Data Hasil Jurnal Harian Mahasiswa

Jurnal harian diberikan kepada mahasiswa pada akhir pembelajaran disetiap seri untuk mengetahui tanggapan siswa mengenai pembelajaran yang telah berlangsung. Berikut hasil rekapitulasi jurnal harian pada setiap pertemuan yang disajikan dalam Tabel 4.17.

Tabel 4.17.

Rekapitulasi Jurnal Harian Mahasiswa Setiap Seri

Kategori Komentar Siklus I Siklus II
Jumlah % Jumlah %
Positif 10 33,3 19 63,3
Negatif 2 6,6 0 0
Biasa-biasa 3 10 1 3
Tidak Berkomentar 15 50 10 33,3

Dari Tabel 4.25 dapat dilihat bahwa respons positif mahasiswa dari seri I ke seri II meningkat. Hal itu disebabkan, karena minimnya proses tatap muka pada seri I, dan frekuensi konsultasi dalam seri II melalui blog, begitu intensif. Namun secara keseluruhan dari tiap serui, mahasiswa memberikan respons yang sangat baik terhadap pembelajaran yang diberikan. Hal itu dapat dilihat dari kategori komentar positif yang presentasenya melebihi dari 50%. Fakta ini mengindikasikan bahwa mahasiswa menerima dengan baik pembelajaran mata kuliah seminar dengan metode sharing knowledge community untuk meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah dan presentasi.

  1. 7. Analisis Data Hasil Wawancara

Wawancara dilaksanakan untuk memberikan data yang tidak diperoleh dari instrumen lainnya sebagai pelengkap dan penjelasan serta dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan penilaian bagi siswa. Berikut ini hasil wawancara dengan murid dan guru matematika.

  • Hasil wawancara dengan Ari Sulistiyono, salah satu mahasiswa mata kuliah seminar yang memperoleh nilai baik pada seri I :

P(Peneliti)       :”Bagaimana tanggapan anda mengenai pembelajaran dengan menggunakan metode Sharing Knowledge Community melalui spiralisasi pengetahuan yang baru saja dilaksanakan?”

M(Mahasiswa) :”Mungkin saya belum paham benar cara kerja metode spiralisasi pengetahuan. Tapi setelah membaca artikel SPIRALISASI PENGETAHUAN : Teknik “Menghidupkan” Pengetahuan Kita oleh Romi Satria Wahono maka maksud yang bisa saya ambil adalah bagaiman menghidupkan pengetahuan kita agar mampu memberikan mencerahkan orang lain.”

P(Peneliti)       :”Apakah anda menyukainya? jika iya, berikan alasannya, jika tidak berikan pula alasannya.”

M(Mahasiswa) :” Waduh mungkin harus dilakukan tidak hanya satu kali pertemuan dan penjelasaan yang diberikan tidak hanya melalui teori saja tetapi harus learning by doing.”

P(Peneliti)       :”Menurut pendapat anda, apa perbedaan antara metode SKC ini dengan metode pembelajaran berbasis kelompok yang lain? Atau dengan metode pembelajaran yang selama ini anda alami.”

M(Mahasiswa) :”Biasanya saat kita belajar kelompok kita hanya terfokus untuk menyelesaikan suatu permasalahan, banyaknya orang yang berpikir tentang hal yang sama maka akan memberikan kemudahan dalam proses penyelesaian masalah dan proses pertukaran pikiran akan terbentuk sehinnga yang tidak tau akan menjadi tau. Dalam SKC ini bagaian dasarnya merupakan konsep tadi tetapi lebih diperluas, sehingga kita mampu mengenali potensi diri, mendapatkan masukan dari orang lain sehingga kita mampu bercermin tentang apa yang terbaik dari diri kita.”

P(Peneliti)       :”Apa saja kelebihan dan kekurangan dari aktivitas pembelajaran dengan menggunakan metode SKC yang dilakukan hari ini? Apa saran anda?”

M(Mahasiswa):”Suatu sistem pembelajaran yang bagus hanya kurang ditanggapi oleh para audience sehingga tujuan dan manfaatnya kurang terasa, seharusnya kegiatan seperti ini dilaksanakan semenjak awal perkuliahan sehingga mampu memacu semangat dan kualitas para anggotanya.”

P(Peneliti)       :”Bagaimana pendapat anda mengenai materi yang disampaikan, apakah telah cukup untuk membantu anda dalam mengembangkan kemampuan membuat paper ilmiah? Apa saran anda?”

M(Mahasiswa) :”Materi yang disampaikan sangat bagus jika kita mampu memahami dan mengerti tentang apa yang disampaikan.  Kembali ke bahasan semula kegiatan seperti ini sangat baik bila diadakan secara berkesinambungan dan terus-menerus.”

P(Peneliti)       :”Bagaimana pendapat anda mengenai dosen atau instruktur dalam memfasilitasi anda selama proses pembelajaran berlangsung? (penguasaan materi, cara penyampaian, sistematika alur materi, keaktifan dalam membimbing, kedekatan dengan peserta dan penampilan? Apa saran anda?”

M(Mahasiswa) :”Dosen yang membimbing dalam kuliah seminar ini adalah Pak Wawan dan Pak Eddy mereka memberikan penjelasan bagaimana proses pembuatan suatu karya ilmiah / paper, tapi sebaiknya praktek penulisan karya ilmiah harus sudah dilakukan saat pertengahan semester sebagai penilaian dasar bagaimana cara menulis yang kita pahami sehingga tidak saat terakhir kita melakukan praktek sehingga hanya memiliki waktu yang sedikit guna memperbaikinya. Saya ucapkan terimakasih kepada instruktur yang rela meluangkan waktunya guna mengadakan kegiatan seperti ini. Instuktur sangat berkompeten dan memiliki semangat yang tinggi dalam memberikan penjelasan walau banyak faktor menyebabkan kegiatan tersebut kurang maksimal.”

P(Peneliti)       :”Bagaimana pendapat anda mengenai fasilitas yang mendukung proses pembelajaran? Apa saran anda?”

M(Mahasiswa) :” Mungkin seharusnya instruktur dibagi menjadi beberapa orang yang menangani tiap beberapa orang sehingga mampu memaksimalkan kegiatan tersebut, dalam hal yang saya rasakan banyak yang berminat tapi karena kita kekurangan fasilitas sehingga kegiatan yang ada kurang maksimal.”

P(Peneliti)       :”Bagaimana pendapat anda mengenai anggota satu kelompok? Apakah anda sudah cukup mengenali mereka dan potensi yang mereka miliki? Apa saran anda?”

M(Mahasiswa) :”Saya sudah mengenal anggota kelompok saya lebih dari 3 tahun sehingga saya sudah mengenal watak dan karakter bahkan keahlian mereka hanya disayangkan dari aset berharga yang kita miliki kurang kita munculkan sehingga seperti terlihat pintar untuk diri sendiri.

P(Peneliti)       :” Kesulitan apa yang anda hadapi selama belajar membuat paper ilmiah terutama dalam proses pemecahan masalah dalam pembelajaran menggunakan metode sharing knowledge community ini? “

M(Mahasiswa) :” Kesuliatan yang saya temui adalah dalam hal cara penyampaian tentang apa yang saya pahami, dari sisi tersebut jika kita kurang bisa menjelaskan apa yang kita pahami maka percuma saja.

P(Peneliti)       :” Apakah pembelajaran menggunakan metode SKC dapat membantu anda dalam meningkatkan kemampuan mengembangkan paper ilmiah? (manfaat yang diperoleh dari materi hari ini).”

M(Mahasiswa) :” Disini kita dituntut untuk menuangkan apa yang kita pikirkan secara sistematis.”

  • Hasil wawancara dengan Krisna Febrianto, salah satu mahasiswa yang mendapat nilai bagus pada seri II:

P(Peneliti)       :”Bagaimana tanggapan anda mengenai pembelajaran dengan menggunakan metode Sharing Knowledge Community melalui spiralisasi pengetahuan yang baru saja dilaksanakan (pembelajaran via blog)?”

M(Mahasiswa) :” saya dapet pengetahuan lebih, soalnya belajarnya lebih fleksibel, ilmu bisa dapet dari siapa aja, entah itu dari yang muda, sebaya ato lebih tua, tidak akan merasa canggung. Berbeda dengan metode belajar lainnya, kita hanya sebagai objek bukan subjek/objek.”

P(Peneliti)       :”Apakah anda menyukainya? jika iya, berikan alasannya, jika tidak berikan pula alasannya.”

M(Mahasiswa) :” iya, alasannya : masalah yang dihadapi bisa cepat terselesaikan, karena dapet masukan dari berbagai pihak , melalui sharing itu (katakanlah kita punya masalah x, terus kita share deh maslah itu di forum, biasa banyak yg ngasih solusi).”

P(Peneliti)       :”Menurut pendapat anda, apa perbedaan antara metode SKC ini dengan metode pembelajaran berbasis kelompok yang lain? Atau dengan metode pembelajaran yang selama ini anda alami.”

M(Mahasiswa) :” SKC : permaslahan lebih cepat terselesaikan, karena ilmu dapet di mana saja, kapan saja dan dari siapa saja. Kalo yg laen saya rasa lebih bersifat kaku, ya contohnya penerapan belajar kaya di SMA, guru sebaia subjek dan kita sebagi objek (artinya yg disuapin ilmu).”

P(Peneliti)       :”Apa saja kelebihan dan kekurangan dari aktivitas pembelajaran dengan menggunakan metode SKC yang dilakukan melalui blog? Apa saran anda?”

M(Mahasiswa):”kelebihannya, belajar lebih fleksibel, tidak canggung dalam mengutarakan  pendapat, solusi lebih cepat ditemukan., kekurangannya, kadang komentar yang diberikan tidak sesuai dengan yang kita harapkan.”

P(Peneliti)       :”Bagaimana pendapat anda mengenai materi yang disampaikan, apakah telah cukup untuk membantu anda dalam mengembangkan kemampuan membuat karya tulis ilmiah? Apa saran anda?”

M(Mahasiswa) :” ya, info ttg tata tulis KI saya bisa dpatkan di sini, makasih atas infonya. Saranny: alangkah bagusnya prodi kita ada mata kuliah TTKI (tata tulis Karya ilmiah) sama kaya kuliah di ITB (itu diberikan pas TPB).”

P(Peneliti)       :”Bagaimana pendapat anda mengenai dosen atau instruktur dalam memfasilitasi anda selama proses pembelajaran berlangsung? (penguasaan materi, cara penyampaian, sistematika alur materi, keaktifan dalam membimbing, kedekatan dengan peserta dan penampilan? Apa saran anda?”

M(Mahasiswa) :” : saya rasa dosen baik pa wawan ato pa eddy sudah cukup baik, namun sayang informasi ke kita kurang tersamapaikan (kita hanya di kasih materinya saja, tanpa ada contoh, kalopun ada itu hanya beberapa). Nah kalo teteh : aku fikir dah ngasih masukan yg cukup, cuma pas saat pengumpulan tugas dari kita, kadang waktunya dikit, padahl kan kita lagi banyak tugas pada waktu itu, tapi kalo untuk TTKI baguslah, saya jadi lebih tau.”

P(Peneliti)       :”Bagaimana pendapat anda mengenai fasilitas yang mendukung proses pembelajaran? Apa saran anda?”

M(Mahasiswa) :” kayaknya lebih gimana akses internetnya ya gitu..oh iya, akhirnya dengtan mindmanager, saya bisa bikin presentasi dengan cepat, baru make banghet pas seminar, makasih softwarenya.: itu kan baru soft kopi kedepannya sih bagusnya ada hard kopinya juga, kadang kan orang males juga kalo mesti nyalain komputer.”

P(Peneliti)       :”Bagaimana pendapat anda mengenai anggota satu kelompok? Apakah anda sudah cukup mengenali mereka dan potensi yang mereka miliki? Apa saran anda?”

M(Mahasiswa) :” hmmm..teteh mungkin tau sendiri lah mhs ilkom itu pada individual ato terkotak-kotak, jadi kemungkinan kecil untuk tau potensi masing2, apa peduli..mungkin kurang lebih gitu.”

P(Peneliti)       :” Kesulitan apa yang anda hadapi selama belajar membuat karya tulis  ilmiah terutama dalam proses pemecahan masalah dalam pembelajaran menggunakan metode sharing knowledge community ini? “

M(Mahasiswa) :” kayaknya lebih ke aturannya dari buat KT itu sendiri, terkadang masinh banyak yg salah, jadi mesti di revisi deh kyk misal bikin daftar pustaka ada yg masih salah, dll.”

P(Peneliti)       :” Apakah pembelajaran menggunakan metode SKC dapat membantu anda dalam meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah? (manfaat yang diperoleh dari materi hari ini).”

M(Mahasiswa) :” ya, tapi sayang kadang antar penulisan KT masih ada aja perbedaan jadi saya pusing harus ngerujuk pada aturan yg mana.”

  • Hasil cuplikan wawancara dengan Dosen mata kuliah seminar ilmu komputer, Bapak Dr. Wawan Setiawan, M. Kom.

P(Peneliti)       :”Model pembelajaran apa yang biasa Bapak gunakan dalam kegiatan belajar mengajar?”

D(Dosen)        :”Saya kalo modelnya itu, diskusi ada, campuran sih. Selebihnya kalo gaya saya inkuiri, kalo pendekatan inkuiri, ada diskusi, penugasan individu atau kelompok.”

P(Peneliti)       :”Bagaimana aktivitas mahasiswa selama proses belajar mengajar berlangsung?”

D(Dosen)        :”umumnya mereka harus di stimulasi dengan pertanyaan-pertanyaan dan digerakkan oleh tugas. Jadi inisiasi itu masih sedikit yang punya.”

P(Peneliti)       :”Apakah mahasiswa aktif selama proses pembelajaran membuat karya tulis ilmiah ini berlangsung?”

D(Dosen)        :” mereka standarlah aktifitasnya. Kira-kira 60% lah dari mereka yang aktif, dan 40% nya biasa-biasa saja. Nah keaktifan mereka di seminar ini didorong oleh tema-tema yang diarahkan ke skripsi. Baru semangatnya tinggi.”

P(Peneliti)       :”Apakah dalam pembelajaran Bapak sering memberikan permasalahan atau soal-soal dan melakukan diskusi kelas? Sering dilakukan atau tidak?”

D(Dosen)        :” selalu, studi kasus, saya kasih contoh tulisan.”

P(Peneliti)       :”Menurut Bapak, apakah kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah yang berakibat terhadap proses pemecahan masalah dalam kegiatan pembelajaran?”

D(Dosen)        :”Terutama mereka lemah di risetnya, pengetahuan mereka mengenai riset.”

Dari hasil cuplikan wawancara di atas antara peneliti dengan mahasiswa maupun peneliti dengan dosen mata kuliah, maka dapat dikatakan bahwa dalam melakukan pembelajaran mata kuliah seminar biasanya dosen mata kuliah lebih sering menggunakan model pembelajaran konvensional dengan metode inkuiri. Kesempatan berdiskusi di kelas kadang-kadang dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi kelas juga mahasiswa. Sedangkan kesempatan untuk berbagi pengetahuan jarang diberikan kepada mahasiswa karena biasanya pembelajaran berlangsung satu arah. Dari dosen ke mahasiswa dan membuat tingkat keaftifan mahasiswa di kelas hanya masuk dalam kategori sedang, karena harus di stimulasi oleh pertanyaan dari dosen.

Sedangkan dari hasil wawancara dengan mahasiswa bisa dikatakan bahwa pembelajaran yang selama ini mereka peroleh yaitu belajar dengan cara konvensional. Dosen menjelaskan materi dan memberikan contoh soal kemudian memberikan latihan soal kepada mahasiswa. Adapun respons positif dari mahasiswa mengenai pemberian metode sharing knowledge community, mahasiswa memanfaatkan situasi belajar untuk saling berkomunikasi satu sama lain, saling bertukar pendapat dalam pemecahan masalah yang sedang dihadapi, dan dengan melalui blog, proses komunikasi dan sharing pun menjadi lebih fleksibel, karena tidak perlu berattap muka secara langsung. Namun mereka berpendapat akan lebih efektif jika pembelajaran yang sedang diterapkan didahului oleh pemberian materi yang akan diberikan pada saat pembelajaran. Hal itu bisa disebabkan mahasiswa terbiasa dengan menerima materi baru yang diberikan oleh dosen. Dan untuk jadwal online harusnya ditetapkan, agar proses komunikasi dua arah dapat berlangsung secara maksimal.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dalam penelitian ini serta pengujian indikator tindakan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Penerapan metode sharing knowledge community dapat membantu mahasiswa dalam kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa.
  2. Sebagian besar mahasiswa memberikan respons positif terhadap pembelajaran mata kuliah seminar ilmu komputer menggunakan metode sharing knowledge community dapat membantu dalam kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah. Respons yang positif ini akan berdampak pada motivasi mahasiswa dalam belajar terutama dalam usaha untuk meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa.

  1. B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan mengenai pembelajaran mata kuliah seminar ilmu komputer menggunakan metode sharing knowledge community, maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Selain dapat meningkatkan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa, penggunaan metode sharing knowledge community juga dapat memacu antusiasme mahasiswa dalam pembelajaran mata kuliah yang lain. Oleh karena itu diharapkan dosen dapat menggunakan pembelajaran ini dalam pembelajaran mata kuliah yang lain untuk ke depannya.
  2. Dalam pemberian materi sebaiknya, dilakukan mulai dari awal perkuliahan dan di lakukan pengaturan jadwal yang konsisten.
  3. Selain dosen, diperlukan asisten, atau instruktur yang bisa melayani konsultasi dalam pengambilan materi, pemecahan masalah maupun membimbing dalam hal penulisan. Karena mungkin dosen terlalu sibuk dalam mengajar mata kuliah lainnya. Kemudian, jumlah instruktur harus berbanding dengan rasio jumlah mahasiswa yang mengontrak mata kuliah seminar.
  4. Penelitian terhadap penggunaan metode sharing knowledge community dalam pembelajaran mata kuliah seminar ini disarankan untuk dilanjutkan dengan aspek penelitian yang lain pada kajian yang lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, dkk., (2006). Learner-centered Teaching and Education at USC: A Resource for Faculty [Online] .Tersedia: http ://www.usc.edu/academe/acsen/documents/LC_Resoirce_final1.pdf.[3 Agustus 2007 ].

Arikunto, Suharsimi. (1989). Proposal Penelitian.Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi.(2007).Manajemen Penelitian. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Awaludin, wahyu. (2008). Mind_Mapping. [Online]. Tersedia : http://images.terbangkelangit.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SMOMkgoKCF0AAENcax41/Mind_Mapping.ppt?nmid=114280123. [12 Agustus 2009].

Badan Akreditasi Berkala Ilmiah.(2006). Panduan Akreditasi Berkala Ilmiah. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Tinggi.

Bahaudin. Taufik. (1999). Brainware Management: Generasi Kelima Manajemen

Manusia. Elex Media Komputindo: Jakarta.

Buzan. Tony dan Barry. (2004). Memahami Peta Pikiran : The Mind Map Book.

Interaksa: Batam.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1995). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

DP2M Dikti.(2009). Panduan PKM. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Tinggi..

Febrian, Jack. (2007). Kamus Komputer & Teknologi Informasi. Bandung : Informatika.

Jensen. Eric dan Karen Makowitz. (2002). Otak Sejuta Gygabite: Buku Pintar       Membangun Ingatan Super. Kaifa : Bandung.

Mchombu, Kingo J. (2004). Sharing Knowledge for Community Development and Transformation: A Handbook. .[Online].Tersedia : http://www.oxfam.ca/publications/SharingKnowledge.htm. [28 Oktober 2008].

Muchlas. (2009). Pengalaman dan Gagasan:Pembimbingan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa di Universitas Ahmad Dahlan.[Online].Tersedia :  http://muchlas.ee.uad.ac.id/?download=Sarasehan%20Pembimbing%20Karya%20Ilmiah.ppt. [6 Mei 2009]

Okinawa. (2008). Resume buku Knowledge Management dalam konteks Organisasi Pembelajar. .[Online].Tersedia :  http://www.oq1510.wordpress.com/2008/10/22/resume-km/. [6 Maret 2009]

Panggabean, Luhut P. (2001). Statistika Dasar. Bandung : Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI.

Pannen, Paulina dan Sekarwinahya, Mestika. (1994). “Belajar Aktif” dalam Mengajar Yang Sukses. Jakarta: Pusat Antar Universitas Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Permana, Wim. (2008). Implementasi WordPress Sebagai Blogging Software Pendukung Student-Centered Learning. Skripsi Sarjana jurusan ilmu komputer FMIPA UGM : tidak diterbitkan.

Porter. De Bobbi dan Hernacki. (1999). Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Kaifa : Bandung.

Ramayanti, S. (2008). Pengaruh Pendekatan Problem-Centered Learning dalam Pembelajaran Matematika Terhadap Kompetensi Strategis Siswa SMP. Skripsi sarjana jurusan pendidikan matematika FPMIPA UPI : tidak diterbitkan.

Rohansyah, Wanda. (2008). Penerapan Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Diskursus Dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematik Siswa SMP. Skripsi sarjana jurusan pendidikan matematika FPMIPA UPI : tidak diterbitkan.

Ruseffendi, E. T. (1994). Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. Semarang: IKIP Semarang Press.

Safa, Pakde. 2008. Aspek Penilaian dalam KTSP Bag 1 ( Aspek Kognitif). [Online]. Tersedia : http://mjafareffendi.wordpress.com/2008/11/11/aspek-penilaian-dalam-ktsp-bag-1-aspek-kognitif/.html. [23 Maret 2009].

Setiarso, Bambang. (2006). Berbagi Pengetahuan : Siapa yang Mengelola Pengetahuan?. [Online] . Tersedia : http://ilmukomputer.org/2008/11/25/berbagi-pengetahuan-siapa-yang-mengelola-pengetahuan/. [6 Februari 2009]

Setiawan, Wawan, dkk. (2007). Pedoman Skripsi. Bandung : Program Studi Pendidikan Ilmu Komputer Program Studi Ilmu Komputer FPMIPA UPI.

Soetarno. (1984). Pemahaman Individu. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Sparrow, L., Sparrow, H. and Swan, P., (2000). Student centred learning: Is it possible?,[Online].Tersedia:http://lsn.curtin.edu.au/tlf/tlf2000/sparrow. html[ 25 Mei 2007]

Sudjana. (2002). Metoda Statistika. Bandung : Tarsito.

Sudrajat, Akhmad. (2008). Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). [online].Tersedia: Error! Hyperlink reference not valid. Juli 2009]

Suherman, E. (2003). Evaluasi Pembelajaran Matematika. Bandung : Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI.

Suherman, E. (2003). Metode Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika (Contextual Teaching and Learning, CTL). Makalah disajikan dalam acara Diklat CTL bagi guru-guru SLTP se-Jawa Barat.

Suherman, E., Turmudi, Suryadi, D., Herman, T., Suhendra, Prabawanto, S., Nurjanah, Rohayati, A. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Technical Cooperation Project for Development of Science                            and Mathematics Teaching for Primary and Secondary Education in                      Indonesia (IMSTEP).

Sulipan, Dr. (2007). Penelitian Deskriptif Analitis. [Online]. Tersedia : http://www2.ktiguru.org/file.php/1/moddata/data/3/9/46/Penelitian_Deskriptif_Analitis.pdf. [12 Agustus 2009].

Surya, Muhammad. (2007). Potensi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran di Kelas. [online]. Tersedia : http://www.e-dukasi.net/artikel/index.php?id=43 . [28 Maret 2008].

Susilana, Rudi. (2006). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UPI.

Wahono, Romi, S. (2003). Spiralisasi pengetahuan : Teknik “Menghidupkan” Pengetahuan Kita. Yogyakarta.:Digital Library Al-Manar Production.

Wirawan, Pradita Tria. (2007). Penerapan Student Centered Learning Berbasis Sharing Knowledge Community. Annual Essay jurusan hubungan internasional FISIPOL UGM : tidak diterbitkan.

WS, Winke. (1983). Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.

Yonata, Bertha. (2008). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia Berbantuan Internet Dengan Seting Multi Model. Tesis Magister Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Surabaya. [Online]. Tersedia : http://suaraguru.wordpress.com/2009/02/08/ringkasan-tesis-bertha-yonata/.[12 Agutus 2009]

————-. (2009). PP-Majalah-ST. [online]. Tersedia : http://www.research-ui.org/download/PP-Majalah-ST.pdf . [15 Juli 2009].


    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    Categories

    %d bloggers like this: