Posted by: Rika Ekawati | June 18, 2009

KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MERUJUK PADA SEKOLAH BERBASIS ISLAM

Manajemen Lembaga Pendidikan Islam
1. Lembaga Penyelenggara Pendidikan
Badan atau lembaga penyelenggara pendidikan, baik pemerintah maupun swasta (biasanya berbentuk yayasan) berfungsi sebagai motor penggerak utama sekaligus penanggung jawab penuh terselenggaranya pendidikan di sekolah yang dipimpinnya.
Setiap lembaga penyelenggara pendiidkan haruslah selalu mengupayakan agar setiap kegiatan atau aktivitasnya dilaksanakan dengan profesional dan penuh tanggung jawab. Allah SWT. Berfirman :
“Dan katakanlah, bekerjalah kamu sekalian, maka Allah dan Rasul-Nya sera orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu” (QS. At Taubah :105).
Hal lain yang harus diperhatikan oleh lembaga penyelenggara pendidikan adalah perlu adanya kesinambungan antara tuntunan pemenuhan kewajiban terhadap para personil pendidikan (karyawan, pendidik dan tata usaha) dengan pemenuhan hak-hak mereka, misalnya menyangkut kesejahteraan.
1.1 Lingkup Jenis dan Jenjang Lembaga Pendidikan
Sekolah umum beserta lama pendidikannya :

  1. Play Group (PG) 1-2 tahun
  2. Taman Kanak-kanak (TK) 1-2 tahun
  3. Sekolah Dasar SD) 6 tahun
  4. Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3 tahun
  5. Sekolah Menengah Atas / Kejuruan SMA/K) 3 tahun
  6. Perguruan Tinggi (PT) 1-6 tahun
  7. Sekolah agama / pesantren
    1. TKA / TPA / Bustanul Aftal / Raudatlul Aftal 1-2 tahun
    2. Madarasah Ibtidaiyyah (setingkat SD) 6 tahun
    3. Madrasah Tsanawiyyah (setingkat SMP) 3 tahun
    4. Madrasah Aliyyah / Mu’alimin / Mu’alimat (SMA) 3 tahun
    5. Perguruan Tinggi / Pesantren Tinggi 1-6 tahun

1.2 Kriteria Lembaga Penyelenggara Pendidikan
Ada beberapa kriteria bagi lembaga penyelenggara pendidikan terutama di bidang SDM atau orang-orang yang memimpinnya haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut :
Kuat aqidah, ibadah dan mu’amalahnya.
Memahami dan menguasai seluk beluk pendidikan.
Menguasai dan menerapkan manajemen ynag baik, sehat dan terbuka.
Berakhlakul karimah (berakhlak mulia).
Melaksanakan tugas dengan profesional.
Fokus pada tugas atau jabatan yany diemban (usahakan tidak merangkap jabatan).
Tidak semata-mata mencari keuntungan materi, tapi lebih ditekankan pada ibadah dan ikhlas karena Allah.
Menjalin hubungan yang baik dan harmonis secara internal maupun eksternal.
Kuat dan potensial dalam bidang SDM, manajemen, pembiayaan, sarana
2. Manajemen Keuangan/Pembiayaan
“Dan janganlah sebagian dari kamu memakan harta sebagian yang lain di antaramu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. Al Baqarah : 188).
Keuangan atau pembiayaan mempunyai peran penting dalam berlangsungnya kegiatan atau aktivitas di suatu lembaga pendidikan.
Pendidikan yang baik memperhatikan dan memperlihatkan kualitas (pemerataan pendidikan), relevansi, dan efisiensi serta efektivitas yang baik pula.
Faktor-faktor yang menentukan dalam pembiayaan pendidikan (terutama dalam lingkup pemerintahan) adalah:
Pendapatan nasional dan pendapatan per kapita.
Tingkat pendidikan yang diberikan prioritas, misalnya tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP).
Prioritas yang diberikan oleh negara, misalnya pendidikan pertanian dan pendidikan industri.
Jumlah penduduk, termasuk anak usia sekolah (7-15 tahun) sekitar 20% jumlah penduduk.
Sumber keuangan atau pembiayaan disuatu lembaga pendidikan dapat berasal dari:
Iuran dari siswa (misalnya SPP, BP3, dan sebagainya).
Bantuan dari pemerintah ( dana BOS).
Secara internal atau eksternal membuka bidang usaha lain.
Bantuan dari luar yang halal dan tidak mengikat.
Ada beberapa saran yang berhubungan dengan masalah keuangan atau pembiayaan pendidikan, yaitu:
Temaptkan orang yang biasa menjaga amanah (jujur) pada bagian pemegang dan pengelola keuangan.
Rencanakan anggaran dengan akurat, efektif dan efisien.
Cari dan kelola sumber keuangan dari dalam serta dari luar dengan profesional.
Gunakan keuangan/pembiayaan dengan efektif dan efisien.
Awasi penggunaan keuangan/pembiayaan secara tepat.
Berilah teguran/peringatan atau sanksi kepada orang yang menyalahgunakn wewenang keuangan.
Terapkan administrasi dan manajemen yang rapi, tertib dan bertanggung jawab.
3. Sistem Pendidikan dan Kurikulum Pendidikan
Secara umum sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah terdiri atas 3 jenis, yaitu: (1) Sistem pendidikan yang sepenuhnya/seluruhnya materi pelajaran secara umum, (2) Sistem pendidikan yang sepenuhnya materi pelajaran agama (seperti pesantren), dan (3) Sistem pendidikan yang memadukan mata pelajaran umum dan mata pelajaran agama.
Menurut Syekh Muhammad Qutb, sistem pendidikan islam harus memuat sdikitnya empat unsur:
Sistem ibadah (seluruh aspek kehidupan).
Pembinaan rohani (supaya tetap tunduk kepada Allah).
Pembinaan intelektual (agar digunakan dalam kebenaran).
Pendidikan jasmani (agar difungsikan secara benar sesuai tuntutan Islam).
Sedangkan menurut Dr. Kusnadi SH (2002:17) sistem pendidikan islam haruslah meliputi:
Ketentuan umum yang menjelaskan pengertian- pengertian segala komponene yang terkait dalam penyelengaraan pendidikan.
Dasar, fungsi, tujuan pendidikan.
Hak umat islam untuk memperoleh pendidikan.
Satuan, jalur dan jenis pndidikan.
Jenjang pendidikan.
Anak/peserta didik.
Pendidik.
Sumber daya pendidikan.
Kurikulum pendidikan.
10. Hari belajar.
11. Bahasa pengantar.
12. Badan pertimbangan pendidikan.
13. Pengelolaan pendidikan.
14. Ketentuan- ketentuan lain.
Kurikulum pendidikan
Kurikulum adalah program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Ada enam prinsip dasar dalam pembinaan dan pengembangan kurikulum:
Prinsip kontinuitas (berkesinambungan).
Prinsip fleksibilitas (luwes/mudah disesuaikan).
Prinsip efisiensi (waktu, tenaga, pengguanaan sarana dan pembiayaan).
Prinsip efektivitas (berdaya guna/tepat guna).
Prinsip relevansi (kesesuaaian).
Prinsip pendidikan seumur hidup.
Kurikulum mempunyai sejumlah fungsi, di antaranya:
Fungsi kurikulum bagi lembaga pendidikan bersangkutan yaitu sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan dan sebagai pedoman dalam mengatur pendidikan sehari-hari.
Fungsi kurikulum bagi Kepala Sekolah/Lembaga Pendidikan:

  1. Merencanakan kegiatan lembaga pendidikan.
  2. Mengarahkan kegiatan lembaga pendidikan.
  3. Mengawasi dan menilai kegiatan lembaga pendidikan.
  4. Melaporkan kegiatan lembaga pendidikan.
  5. Fungsi kurikulum bagi Pendidik:
    1. Pembimbing kegiatan belajar.
    2. Sebagai perantara penyamapian ilmu.
    3. Penghubung antara sekolah dan masyarakat.
    4. Fungsi kurikulum bagi Orang Tua Anak/Peserta Didik:
      1. Dapat membantu anaknya dengan tepat menurut keperluannya.
      2. Mengetahuai kebutuhan lembaga pendidikan.
      3. Dapat membantu lembaga pendidikan, baik dengan materi sarana maupun buah pikiran.
      4. Fungsi kurikulum bagi Masyarakat:
        1. Ikut memberikan bantuan guna memperlancara pelaksanaan program pendidikan yang membutuhkan kerjasama dengan pihak orang tua atau masyarakat.
        2. Ikut memberikan kritik atau saran yang membangaun(kontruktif) dalam rangka penyempurnaan program pendidikan dilembaga pendidikan agar lebih serasi dengan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja.

3.1 Pengelolaan Kegiatan Intra Kurikuler
Strategi pelaksanaan kurikulum secara menyeluruh dilembaga pendidikan adalah sebagai berikut:
Membuat perencanaan.
Melaksanakan pengajaran.
Mengadakan penialian.
Mengadakan bimbingan dan konseling/penyuluhan.
Melaksanakan administrasi dan supervisi/pengawasan.
Selain itu ada sejumlah program pengejaran (mata pelajaran) yang perlu disampaikan di lembaga pendidikan (Islam khususnya). Berikut ini adalah beberapa di antaranya:
Pelajaran baca tulis Al-Qur’an.
Pelajaran tafsir Al-Qur’an.
Pelajaran hadits.
Pelajaran bahasa Arab.
Pelajaran aqidah/keimanan.
Pelajaran fiqih ibadah.
Pelajaran akhlak.
Pelajaran tarikh/sejarah islam.
Pendidikan kewarganegaraan.
10. Pelajaran bahasa dan sastra indonesia.
11. Pelajaran ilmu sosial ( Geografi, Sejarah, Ekonomi).
12. Pelajaran sains/Ilmu Alam (Biologi, Fisika dan Kimia).
13. Pelajaran matematika/berhitung.
14. Pelajaran bahasa inggris.
15. Pelajaran kesenian/kenudayaan islam.
16. Pelajaran pendidikan jasmani.
17. Pelajaran antropologi/sosiologi.
18. Pelajaran bahasa dan sastra daerah.
19. Pelajaran komputer/multimedia.
20. Pelajaran ekstrakurikuler
Beberapa UPT yang mendukung keberhasilan kurikulum pendidikan yaitu:
Masjid
Perpustakaan.
Laboratorium.
Koperasi.
Kantin.
Organisasi Siswa/Santri/Mahasiswa.
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Organisasi Profesi Guru/Dosen (PGRI, dll).
Organisasi persatuan lembaga pendidikan (MPS, dll).
10. Oraganisasi orang tua siswa (Komite Sekolah, dll).
3.2 Manajemen Pengelolaan Kegitan Ekstra Kurikuler
“Katakanlah (Hai Muhammad), setiap orang berbuat sesuai dengan keadaan dirinya, dan Tuhan mengetahui siapa diantara mereka yang lebih lurus jalan hidupnya” (QS. Al Isra:84).
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh lembaga pendidkan sehubungan dengan penyelenggaraan kegiatan ekstra kurikuler ini, yaitu:
Data dan seleksi siswa/santri yang akan mengikuti tiap kegiatan dengan teliti dan cermat.
Tentukan petugas, pelatih, pembina atau penanggung jawab dari tiap sub kegiatan.
Laksanakan kegiatan dengan administrasi yang rapi dan tertib (misalnya daftar hadir) serta atur pembagian waktu dan tempat dengan baik.
Berilah penghargaan dan honorarium yang layak/memadai pada setiap petugas/penanggung jawab setiap kegiatan.
Monitor setiap program/kegiatan agar tidak terjadi penyimpangan, baik program mupun perilaku.
Kembangkan terus kemampuan atau potensi pelatih/pembina yang bertugas melalui penataran. Dan lain sebaginya.
Beri kesempatan dan penghargaan pada para siswa/santri yang berprestasi.
4. Pemimpin Lembaga Pendidikan
Menurut Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, dkk. (1986:192-193) harus memiliki persyaratan:
Sehat jasmani dan rohani.
Memiliki kecerdasan atau intelegensi cukup baik.
Percaya pada diri sendiri.
Mampu bersatu dengan personil yang dipimpinnya atau memiliki sifat kebersamaan.
Cakap bergaul dan ramah-tamah.
Kreatif, penuh inisiatif dan memiliki hasrat/kemauan untuk maju an berkembang menjadi lebih baik.
Berpengaruh dan mampu mewujudkan hubungan manusiawi yang berwibawa sebagai organisatoris.
Memiliki pengetahuan, keahliandan keterampilan dalam bidang administrasi dan pendidikan.
Suka menolong, memberi petunjuk secara bijaksana.
10. Memiliki keseimbangan/kestabilan emosional dan bersifat sabar.
11. Memiliki semangat pengabdian ( bekerja) dan kesetiaan yang tinggi.
12. Jujur, rendah hati, sederhana dan dapat dipercaya.
13. Berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab.
14. Bijaksana dan selalu berlaku adil.
15. Berdisplin.
16. Memiliki pengetahuan dan pandangan ke depan.
Adapun tugas dan kemampuan yang harus dilaksanakan dan dimiliki kepala sekolah menurut Shroda dan Voich, adalah:
a. Sebagai Perencana
Tugasnya:
Membuat program kerja.
Mengatur anggaran.
Merumuskan tata tertib sekolah, dan sebagainya.
Kemampuannya:
Mengetahui tujuan pendidikan.
Mengetahui cara membuat program.
Mengetahui cara mengatur anggaran, dan sebagainya.
b. Sebagai Pelaksana
Tugasnya:
Menyelenggarakan rapat.
Menerima tamu.
Mengadakan kunjungan/observasi kelas.
Mengadakan pertemuan pribadi.
Menyalurkan masalah.
Menyelenggarakan tata tertib sekolah.
Membantu pemecahan masalah secara khusus.
Menjaga tata tertib sekolah.
Mendeteki kelemahan guru.
10. Memperbaiki pengajaran.
11. Mengadakan hubungan dengan masyarakat.
12. Membuat penilaian terhadap kinerja dan prestasi guru.
13. Melaksanakan UKS.
14. Membina siswa, dan sebagainya.
Kemampuannya:
Mengetahui materi pelajaran siswa.
Mengetahui metode mengajar.
Mengetahui cara membuat dan memperguankan alat pelajaran.
Mengetahui teknologi pendidikan.
Mengetahui tentang anak.
Mengetahui tentang lingkungan anak.
Mampu berkomunikasi.
Mengetahui struktur Depdiknas.
Mengetahui cara mengelola kelas.
10. Mengetahui masalah bangunan dan perlengkapan sekolah.
11. Bisa membuat laopran, dan sebaginya.
c. Sebagai Pengawas/Pemeriksa
Tugasnya:
Memeriksa kehadiran guru.
Memeriksa keadaan bangunan sekolah.
Memeriksa satuan pelajaran.
Memeriksa kegiatan kelas.
Memeriksa tatalaksana/ tata usaha kelas.
Mengawasi kegiatan ekstrakurikuler, dan sebagainya.
Kemampuannya:
Membuat statistik.
Mengevaluasi pendidikan, dan sebagainya.
5. Pendidik
Betapa mulianya kedudukan para pendidik dalam islam seperti tercermin dalam firman Allah, diantaranya:
“Allah mengangkat derajat orang-orang beriman diantaramu dan orang-orang berilmu (bweberapa derajat lebih tinggi)” (QS. AL Mujadalah : 11).
5.1. Eksistensi Pendidik
Pendidik merupakan orang kedua yang har8us dihormati setelah orang tua. Rasullullah pernah bersabda:
“Bukanlah termasuk umatku, orang yang tidak menghormati orangtua (orang ynag lebih tua), tidak menyayangi anak-anak (orang yang lebih muda), dan tidak memuliakan para ulama (orang yang berilmu)” (HR. Ahmad, Thabrani & Hakim).
5.2. Kompetensi Guru/Pendidik
Kompetensi guru/pendidik adalah segala kemampuan yang harus dimiliki oleh guru/pendidik (misalnya persyaratn, sifat, dan kepribadia) sehingga ia dapat melaksanakan tugasnya dengan benar.
M. Ngalim Purwanto, MP (2000:139) mengemukakan syarat-syarat untuk menjadi guru/pendidik sebagai berikut:
Berijazah atau berlatar belakang pendidikan keguruan.
Sehat jasmani dan rohani.
Taqwa kepada Tuhan YME dan berkelakuan baik.
Bertanggung jawab.
Berjiwa nasional.
Imam Al-Ghazali dalam “Mukaddimah Ihya Ulumuddin” menjelaskan aturan-aturan yang harus dipenuhi oleh orang yang berilmu (termasuk guru, pendidik dan ulama), yaitu:
Sabar.
Senantiasa tabah.
Duduk dengan sikap yang anggun (rendah hati).
Tak berbangga diri dihadapan siapa pun, kecuali terhadap para penindas agar mereka merasa kecut.
Rendah hati dalam pertemuan-pertemuan.
Tak bercanda (harus serius).
Baik hati terhadap penuntut ilmu.
Tak angkuh.
Menuntun yang belajar dengan cara yang baik.
10. Bersedia mengakui ketidaktahuannya terhadap suatu masalah.
11. Penuh perhatian terhadap siapa pun yang bertanya dan mencoba memahaminya.
12. Menerima hujjah (pendapat) orang lain.
13. Berpihak kepada yang benar.
14. Mengingatkan penuntut ilmu agar tidak menuntut ilmu yang merugikannya.
15. Mencegahnya dari menuntut ilmu demi selain Allah.
16. Mengupayakan agar penuntut ilmu menunaikan kewajiban pribadinya sebelum menunaikan kewajibannya.
17. Mengoreksi ketakwaan diri sendiri dulu agar penuntut ilmu mengikuti perilakunya dan memperoleh manfaat dari kata-katanya.
5.3. Tugas Pendidik
Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin dijelaskan ada empat tugas pendidik/pengajar:
Menunjukkan kasih sayang kepada pelajar atau murid dan menganggapnya seperti anak sendiri; sebagaimana sabda Rasulullah:”Sesungguhnya aku bagi kamu adalah seperti ayah kepada anaknya”.
Mengikuti teladan pribadi Rasulullah.
Tidak menunda memberi nasihat dan ilmu yang diperlukan oleh para peserta didik.
Menasehati peserta didik dan melarangnya dari akhlak tercela.
Secara umum tugas pendidik adalah:
Mujadid, yaitu sebagai pembaharu ilmu, baik dalam teori maupun praktek, sesuai syari’at islam.
Mujtahid, yaitu sebagai pemikir yang ulung.
Mujahid, yaitu sebagai pejuang kebenaran.
Secara khusus tugas pendidik adalah:
Perencana: mempersiapkan bahan, metode, dan fasilitas pengajaran serta mental untuk mengajar.
Pelaksana: pemimpin dalam proses pembelajaran.
Penilai: mengumpulkan data, mengklasifikasi, menganalisa, dan menilai keberhasilan PBM.
Pembimbing: membimbing, menggali, serta mengembangkan potensi murid ke arah yang lebih baik.
6. Peserta Didik
Peserta didik adalah orang yang menuntut ilmu di lembaga pendidikan.
6.1. Hakikat Belajar
Dalam menuntut ilmu (belajar) ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan:
Ilmu yang dituntut adalah ilmu yang diridhoi Allah.
Berniat baik dan ikhlas karena Allah SWT.
Beribadah dengan benar dan taat melaksanakan perintah-Nya dan menajuhi larangan-Nya.
Bersungguh-sungguh, rajin dan ulet.
Bersikap hormat dan sopan kepada siapa pun.
Mengajarkan dan mengamalkan ilmu yang didapat.
6.2. Adab Peserta Didik
Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin dijelaskan bahwa pelajar mempunyai tugas:
Mendahulukan kebersihan jiwa.
Mengurangi kesenangan duniawi.
Tidak sombong dalam menuntut ilmu dan tidak membangkang kepada guru.
Menghindar dari mendengarkan perselisihan-perselisihan diantara sesama manusia.
Tidak menolak suatu bidang ilmu yang terpuji.
Mengalihkan perhatian kepada ilmu yang terpenting, yaitu ilmu akherat.
Menghiasi bathinnya dengan sifat yang menyampaikannya kepada Allah SWT, dengan ikhlas.
6.3. Adab Terhadap Pendidik
Diantaranya adalah:
Mengucapkan salam apabila bertemu dengannya.
Bertutur kata yang sopan bila bicara dengannya.
Menyimak, mendengar dan memperhatikan ucapannya.
Mengerjakan semua tugas yang diberikannya.
Bertanya atau berdiskusi dengannya jika tidak mengerti.
Mengamalkan ilmu yang telah didapat.
Membantu dan mendo’akan mereka agar diberkahi Allah SWT.
7. Proses Pembelajaran (Ta’lim wa Ta’lum)
7.1. Persiapan Pembelajaran
Sebelum dilaksanakan proses pembeljaran hendaknya dipersiapkan:
Mushaf Al-Qur’an dan Hadits.
Kitab-kitab rujukan/ referensi materi.
Buku tulis dan alat-alat tulis.
Papn tulis dan perlengkapan.
Tempat berlangsungnya pembelajaran.
7.2. Upaya Peserta Didik Dalam Belajar
Supaya ilmu yang dipelajari diridlai oleh Allah SWT, maka sebelum belajar, lebih baik berdo’a dahulu. Ada beberapa do’a yang bisa dibaca, seperti:
“Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu untuk diriku” (QS. Thaha : 144).
Setelah berdo’a, langkah peserta didik berikutnya adalah:
Menguatkan niat untuk belajar.
Mempersiapkan perlengkapan belajar.
Memperhatikan guru ketika menerangkan.
Bersungguh-sungguh dalam belajar.
Menghindarkan diri dari sifat dan perbuatan tercela.
Tawadlu.
7.3. Kemampuan Pendidik dalam Mengajar
Diantaranya:
Menguasai bahan/materi pelajaran.
Mengelola program dan proses pembelajaran.
Mengelola kelas dengan kondusif, efektif, efisien serta produktif.
Menggunakan media serta sumber belajar.
Menguasai landasan-landasan pendidikan.
Menilai prestasi anak untuk kepentingan pembelajaran.
Mengenal serta melaksanakan fungsi serta program bimbingan dan konseling/penyuluhan.
Mengenal dan melaksanakan administrasi sekolah.
Memahami prinsip-prinsip serta menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna kepeluan pembelajaran.
7.4. Proses Pembelajaran efektif
Cara mewujudkan proses pembelajaran efektif diantaranya:
Penyamapaian materi pelajaran dengan bahasa yang jelas dan menarik.
Menggunakan metode yang bervariasi.
Adanya korelasi antara materi dengan humor.
Menggunakan alat peraga yang tepat.
Memberi penghargaan dan hukuman yang mendidik, sesuai perbuatannya.
7.5. Metode Pengajaran
Berdasarkan penelitian (dikemukakan oleh Dr. Vernon A. Magnesen, 1983) ternyata penguasaan materi pelajaran oleh peserta didik menunjukkan:
10% dari apa yang dibaca.
20% dari apa yang didengar.
30% dari apa yang dilihat.
50% dari apa yang dilihat dan didengar.
70% dari apa yang dikatakan.
90% dari apa yang dikatakan dan dilakukan.
Menurut Cahyadi Takariawan ada beberapa contoh variasi (metode) penyampaian materi, terutama dalam memulainya, yaitu dengan:
Ilustrasi berupa kisah di zaman Rasulullah, sahabat, Tabi’in atau zaman setelah itu yang relevan dengan tema pembahasan.
Pengalaman pribadi atau kisah dalam kehidupan sehari-hari.
Menyampaikan tujuan pengajaran yang hendak dicapai.
Ulasan ayat Al-Qur’an atau Hadits.
Pertanyaan atau meminta pendapat para murid tentang suatu kejadian tertentu.
Studi kasus aktual, menganalisis bersama kemudian hubungkan dengan materi pembahasan.
Senantiasa melandaskan atau mengembalikan kepada nash-nash.
Penekanan pada logika materi dan bukan pada hal-hal pendukungnya.
8. Fasilitas Lembaga Pendidikan
Pengertian dan fasilitas di sini adalah segala sesuatu yng membantu, baik secara langsung, terhadap kelancaran jalannya proses di suatu lembaga pendidikan, misalnya:
Bangunan sekolah.
Ruang kelas.
Ruang/gedung laboratorium.
Ruang/gedung perpustakaan.
Meja dan kursi belajar.
Buku-buku pelajaran.
Mesjid/mushola.
Alat praga.
Ruang kesenian.
Lapangan olahraga, dan sebagainya.
Kegiatan pegelolaan sarana, prasarana dan fasilitas lembaga pendidikan menurut Hadari Nawawi mencakup:
Perencanaan jenis dan jumlahnya.
Pengadaan sarana, prasarana dan fasilitas.
Penerimaan dan penyimpanan.
Pencatatan/inventarisasi.
Penyimpanan dan pemakaian.
Penghapusan (barang yang sudah rusak/tak dipakai) dan pelaporan.
Demikian berbagai hal mengenai lembaga pendidikan meskipun serba ringkas namun semoga memberi gambaran umum sehingga kita mengetahui, memahami dan bisa mengambil langkah-langkah yang diperlukan bagi peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan umat Islam khususnya serta pendidikan umat manusia pada umumnya.
Sumber:
Muchtar,Heri Jauhari.(2005).Fikih Pendidikan.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: