Posted by: Rika Ekawati | June 6, 2009

ANALISIS PENERAPAN E-LEARNING OPEN SOURCE

Perubahan kurikulum menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) membawa pengaruh yang cukup besar pada sistem yang dijalankan oleh setiap satuan pendidikan. Pemberian otonomi yang sebesar-besarnya mengharuskan kepada setiap sekolah untuk mampu mengelola segala yang berkaitan dengan sekolah dengan baik. Dalam konteks ini, setiap sekolah khususnya Sekolah Menengah Atas (SMA) harus mampu mengembangkan sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan pembelajaran siswa. Salah satunya yaitu menggunakan e-Learning Open Source (Moodle).

Moodle dapat dimanfaatkan pada berbagai model pembelajaran, yang memberikan dimensi baru bagi pembelajaran konvensional. Kontribusi penggunaan Moodle dalam peningkatan kualitas pembelajaran di Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu lebih mengefektifkan waktu, mempermudah komunikasi antara siswa dan guru serta meningkatkan motivasi belajar siswa. Dengan mengetahui manfaat moodle itu, maka pembelajaran menggunakan Moodle bisa meningkatkan kualitas pembelajaran.

Namun dalam pelaksanaannya, dijumpai beberapa kendala yang mungkin terjadi diantaranya tidak ada maintenance pada setiap SMA, umumnya siswa hanya menggunakan infrastruktur yang ada di lembaga, kultur belajar yang ada belum terbiasa dengan media elektronik dan belum memiliki bandwith sendiri. Sehingga untuk memanfaatkan Moodle ini sangatlah sulit untuk diimplementasikan. Kendala-kendala yang disebutkan diatas dapat diatasi dengan membudayakan belajar berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Cara membudayakan TIK itu adalah dengan memulai mengimplementasikan di tingkat lembaga pendidikan formal. Misalnya mengimplementasikan e-Learning open source (Moodle) di SMA dalam KTSP.

Untuk mengimplementasikan e-Learning open source (Moodle) dalam KTSP, sebaiknya kita mulai mempersiapkan sistemnya terlebih dahulu. Sebuah institusi yang memanfaatkan software ini tidak perlu membayar. Setelah mempersiapkan sistem Moodle, optimalisasi empat komponen penting dalam membangun budaya belajar dengan menggunakan Moodle. Tahap selanjutnya adalah pembekalan bagi guru-guru berupa workshop dan sosialisasi penggunaan e-Learning pada siswa melalui tutorial serta pelatihan. Model pembelajaran menggunakan Moodle berakibat pada perubahan budaya belajar dalam kontek pembelajarannya. Hal ini membuat siswa untuk belajar lebih mandiri, dimana sangat relevan dengan tuntutan KTSP dan tuntutan kemajuan teknologi saat ini.

Dalam KTSP, setiap satuan pendidikan memiliki otonomi untuk mengembangkan sekolahnya. Oleh karena itu, Moodle ini dapat dijadikan sebagai alternatif implementasi KTSP. Penggunaan Moodle ini memungkinkan tercapainya indikator keberhasilan proses pembelajaran dan sebagai tools untuk mencapai kompetensi kompetitif global.

Dengan adanya aplikasi sistem e-Learning berbasis open source (Moodle) maka pelaksanaan pembelajaran lebih berkualitas karena semua yang diperlukan akan dapat disediakan secara online sehingga dapat diakses kapan saja dengan biayanya murah. Tentu saja hal ini mendukung program pemerintah dalm rangka Indonesia Go Open Source (IGOS).

Dengan demikian, menggunakan e-Learning yang berbasis open source ini, berarti mengembangkan implementasi dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sekaligus mendukung program pemerintah dalam rangka Indonesia Go Open Source (IGOS).


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: