Posted by: Rika Ekawati | July 2, 2009

Proposal Skripsi Rika Ekawati (056622)

A. Judul

“Pengaruh Implementasi Metode Sharing Knowledge Community Terhadap Peningkatan Kemampuan  Mengembangkan  Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Program Ilmu Komputer FPMIPA UPI”.

B. Latar Belakang Masalah

Menurut Cannon (Permana, 2008:1), istilah Student-Centered Learning (SCL) atau yang sering juga dikenal dengan Learner-Centered Teaching adalah suatu paradigma atau metode  dalam  dunia  pembelajaran  dan  pengajaran  di  mana  di  dalamnya  mahasiswa memiliki   tanggung   jawab   atas   beberapa   aktivitas   penting   seperti   perencanaan pembelajaran,  interaksi  antara  guru  dan  sesama  pelajar,  penelitian,  dan  evaluasi terhadap  pembelajaran  yang  telah  dikerjakan. Paradigma  baru ini  muncul  sebagai  jawaban  atas  paradigma  lama  yang  cenderung  berpihak  kepada Teacher-Centered Learning (TCL).

Menurut Anderson  dkk (Permana, 2008:1) Teacher Centered Learning (TCL), dianggap sudah tidak lagi relevan dalam memenuhi tuntutan perkembangan global, dimana dosen atau guru menjadi aktor utama (sage on the stage) dari hampir  sebagian besar kegiatan belajar-mengajar.

Dengan paradigma seperti ini, mahasiswa menjadi  tidak  bisa  berbuat  terlalu  banyak  ketika  materi  yang  akan  diterimanya ternyata   sangat   tidak   sesuai   dengan   minat   dan   kemampuan   yang   dimilikinya. Akibatnya,  pelajar  yang  berada  dalam  lingkungan  seperti  ini  umumnya  akan  sulit untuk   melibatkan            dirinya ke   dalam   kegiatan   belajar-mengajar   yang sedang diambilnya. (Permana, 2008:1).

Selain itu, menurut O’Neill  dan McMahon (Permana, 2008:2) para pelajar ini justru akan menjadi pasif, tidak antusias (apathetic) dan  bahkan  merasa  bosan  atas  pembelajaran  yang  sedang  dijalaninya. Dengan fakta yang cukup memprihatinkan di atas, menurut Bender (Permana, 2008:2) hadirnya SCL menjadi  sesuatu  yang  tidak  hanya  dibutuhkan  tapi  juga  diinginkan  oleh  banyak kalangan.

Menurut Harsono (Permana, 2008 :12) mahasiswa merupakan subjek utama dalam implementasi SCL ini. Dengan karakteristik dan kelebihan model pembelajaran berbasis SCL adalah sebagai berikut :

1)        Lingkungan yang terpusat pada peserta didik (pembelajar),

2)        Kuasa dan tanggung jawab hampir sepenuhnya berada di tangan peserta didik,

3)        Guru bertindak sebagai fasilitator sekaligus pembimbing sementara peserta didik menjadi pengambil keputusan,

4)        Kegiatan belajar diwarnai dengan sesuatu yang bisa bersifat kooperatif, kolaboratif, atau mandiri. Peserta didik belajar dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Peserta didik tergerak untuk saling tolong satu sama lain dan saling tukar-menukar ide dan keahlian. Peserta didik berkompetisi dengan performa dirinya sendiri di waktu lampau bukan dengan peserta didik lainnya,

5)        Tugas bersifat autentik dan interdisipliner,

6)        Kegiatan belajar sangat mungkin berlangsung di luar kelas,

7)        Cara materi atau informasi diproses dan digunakan merupakan hal yang lebih diprioritaskan,

8)        Peserta didik mengevaluasi, membuat keputusan sekaligus bertanggung jawab atas kegiatan belajar yang dijalaninya. Peserta didik menguasai materi dengan cara membangunnya sendiri,

9)        Materi dipelajari dalam konteks yang relevan menurut peserta didik.

Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT) menjadi akses mahasiswa dalam berlatih menuliskan ide-ide kreatif sebagai respons intelektual atas persoalan-persoalan aktual yang dihadapi masyarakat. Ide tersebut seyogyanya unik dan bermanfaat sehingga idealisasi kampus sebagai pusat solusi dapat menjadi kenyataan. Sebagai intelektual muda, mahasiswa umumnya cenderung pandai mengungkapkan fakta-fakta sosial, namun melalui PKM-GT, level nalar mahasiswa tidak hanya dituntut sampai sebatas mengekspos fakta tetapi justru harus mampu memberi atau menawarkan solusi. (Panduan PKM DP2M Dikti, 2009:84).

Sebagai salah satu PKM yang ditampilkan dalam PIMNAS, maka tata tertib dan segala sesuatu yang terkait pada persyaratan presentasi diatur tersendiri di dalam Pedoman PIMNAS 2009. (Panduan PKM DP2M Dikti, 2009:84).

Selain itu, menyadari bahwa kondisi berkala ilmiah di Indonesia belum dapat dikatakan berbobot, Dirjen Dikti melaksanakan kebijakan untuk meningkatkan mutu berkala dalam  memenuhi  persyaratan  minimum  seperti  telah  dituangkan  dalam  kriteria yang  ditetapkan.  Kriteria  yang  dipergunakan  dalam  akreditasi  tertuang  dalam Panduan  Akreditasi  Berkala  Ilmiah  yang  disusun  bersama  oleh  LIPI,  Ikatan Penyunting  Indonesia,  Kantor  Menteri  Negara  Riset  dan  Teknologi,  serta  DP2M Ditjen Dikti. (Panduan Akreditasi Berkala Ilmiah Dikti, 2006:1).

Tujuan  akreditasi  adalah  untuk  meningkatkan  kualitas  berkala  ilmiah  di Indonesia,  sehingga  dapat  meningkatkan  komunikasi  ilmiah  antara  peneliti  dan masyarakat pengguna untuk mencapai sasaran bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan pembangunan di Indonesia. (Panduan Akreditasi Berkala Ilmiah Dikti, 2006:1).

Namun menurut Muchlas (2009:1) kualitas raw input yang rendah menyebabkan pula apresiasi mahasiswa terhadap kegiatan- kegiatan ilmiah juga rendah. Universitas menghadapi kesulitan dalam mencari kelompok  mahasiswa yang  siap untuk dilatih metodologi penelitian. Pada sisi lain partisipasi dosen dalam pembimbingan juga kurang karena tidak adanya sistem penugasan yang jelas. Tingkat kompetisi rata-rata calon mahasiswa sangat rendah, bahkan beberapa program studi tidak melakukan seleksi terhadap calon mahasiswanya. Rendahnya tingkat kompetisi calon menjadikan kualitas raw input secara umum juga rendah sehingga tak memiliki prasyarat yang cukup untuk belajar metodologi penelitian.

Menurut Wirawan (2007:3), Salah satu aspek penting dalam Student Centered Learning (SCL) adalah terbentuknya daya pikir kritis pada mahasiswa sehingga dapat membangun karakter menjadi agent of change.

Sebuah forum atau wadah informal yang mampu menampung kreatifitas dan tempat bertukar informasi mempunyai peran yang signifikan dalam memfasilitasi kreatifitas mahasiswa dan memicu daya kritis mahasiswa, Forum ini kita sebut sharing knowledge community. (Wirawan, 2007:3).

Menurut Muchlas (2009:16) tujuan dari metode sharing dalam penyusunan karya tulis ilmiah secara khusus adalah agar mahasiswa dapat memperoleh topik dan menuliskan judul suatu jenis karya ilmiah yang akan dilombakan dan dapat memperoleh out line isi proposal dari suatu judul karya ilmiah.

Menurut Permana (2008:2) salah  satu  faktor  atau  aspek  yang  diyakini  mampu  mempercepat  suksesnya implementasi metode sharing knowledge community ini adalah   teknologi   informasi   dan   komunikasi   (information and communication technology). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan. Penelitian ini menggunakan software mind manager untuk peta konsep dalam proses penulisan karya tulis ilmiah pada kedua siklus dan pada khusus untuk siklus kedua, akan menggunakan WordPress 2.2  sebagai  blogging  software yang  dapat  dimanfaatkan  oleh  mahasiswa  untuk mendukung implementasi SCL melalui aktivitas blogging dan podcasting sebagai media sharing knowledge dalam komunitas blogger ilmu komputer.

C. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

“Apakah ada pengaruh implementasi metode sharing knowledge community terhadap peningkatan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa program ilmu komputer FPMIPA UPI?”

Untuk mempermudah pengkajian secara sistematis terhadap permasalahan yang akan diteliti, masalah dapat diuraikan menjadi pertanyaan-pertanyaan penelitian berikut:

  1. Apakah penerapan metode sharing knowledge community memberikan pengaruh yang terhadap peningkatan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa program ilmu komputer FPMIPA UPI?”
  2. Bagaimana pengaruh penerapan metode sharing knowledge community terhadap peningkatan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa program ilmu komputer FPMIPA UPI?”
  3. Bagaimana pengaruh media blog dalam penerapan metode sharing knowledge community terhadap peningkatan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa program ilmu komputer FPMIPA UPI?”
  4. Bagaimana respon mahasiswa terhadap pembelajaran pengembangan karya tulis ilmiah dalam mata kuliah seminar dengan menggunakan metode sharing knowledge community?

D. Batasan Masalah

Agar penelitian lebih terarah dan memberikan gambaran yang jelas, maka penelitian ini dibatasi pada hal-hal berikut :

  1. Subjek penelitian adalah mahasiswa program studi ilmu komputer dan pendidikan ilmu komputer angkatan 2006 yang telah lulus mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), Basis Data, Algoritma Pemograman, Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Sistem Informasi atau Sistem Informasi Pendidikan dan memiliki IPK antara 2,25-3,35 (IPK sampai semester 5). Mahasiswa yang dijadikan subjek penelitian berjumlah kurang lebih 35 orang.
  2. Mata kuliah yang dijadikan penelitian adalah mata kuliah seminar (3 SKS). Materi pembelajaran yang akan dikaji dibatasi pada pedoman penulisan karya tulis ilmiah, teknik presentasi karya tulis ilmiah, pemanfaatan software mind manager sebagai software yang membantu dalam proses peta konsep dan pemanfaat blog sebagai media sharing knowledge community.
  3. Hasil belajar yang diteliti menyangkut kemampuan mengembangkan kemampuan karya tulis ilmiah dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi menggunakan metode sharing knowledge community.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui pengaruh metode sharing knowledge community memberikan pengaruh yang terhadap peningkatan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa program ilmu komputer FPMIPA UPI.
  2. Untuk melihat peningkatan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa program ilmu komputer FPMIPA UPI menggunakan metode sharing knowledge community.
  3. Untuk mengetahui pengaruh blog sebagai media metode sharing knowledge community.
  4. Menunjukkan  bahwa  blog berbasis WordPress 2.2 dapat digunakan oleh mahasiswa sebagai sarana untuk mendukung dan menyukseskan Student-Centered Learning melalui metode sharing knowledge community.
  5. Untuk mengetahui respon mahasiswa terhadap pembelajaran pengembangan karya tulis ilmiah dalam mata kuliah seminar dengan menggunakan metode sharing knowledge community.
  6. Untuk meningkatkan motivasi mahasiswa dalam berprestasi dengan tergabung dalam sebuah komunitas.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagi mahasiswa, metode ini tentu akan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan tidak membosankan, meningkatkan kemampuan dalam mengelola pengetahuan, membentuk pola fikir kritis dengan selalu berdiskusi, mengikuti forum brain storming dan membuat inovasi dalam setiap mengikuti proses pembelajaran, mampu bekerja dalam team building, dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar secara signifikan.
  2. Bagi dosen, metode ini akan menjadikan dosen lebih kreatif dalam merancang pembelajaran, meningkatkan keprofesionlan dosen,  sebagai motivasi untuk ikut mengembangkan minat dan kemampuan mahasiswa sebagai wujud implementasi Student Centered Learning (SCL), dan dapat digunakan oleh dosen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
  3. Bagi universitas, sebagai masukkan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas lulusan yang sesuai dengan program pemerintah dan kebutuhan industri.
  4. Bagi orang tua mahasiswa, sebagai sumbangan pendapat untuk mendorong anaknya agar berprestasi yang baik sesuai dengan kemampuan anaknya.
  5. Bagi dunia pendidikan, sebagai referensi media selain moodle atau Course Management System (CMS) yang dapat digunakan sebagai media e-learning. Pemanfaatan blog berbasis WordPress 2.2 ini juga dapat menyukseskan Student-Centered Learning (SCL) melalui metode sharing knowledge community.

G. Penjelasan Istilah

  1. Berbagi   pengetahuan   (knowledge   sharing)  merupakan   salah   satu   metode   dalam knowledge management yang digunakan untuk memberikan kesempatan kepada anggota suatu  organisasi,  instansi  atau  perusahaan  untuk  berbagi  ilmu  pengetahuan,  teknik, pengalaman  dan  ide  yang  mereka  miliki  kepada  anggota  lainnya. (Setiarso, 2006:1).
  2. Karya tulis ilmiah yang dimaksud disini adalah gagasan tertulis berupa ide-ide kreatif sebagai respons intelektual atas persoalan-persoalan aktual yang dihadapi masyarakat. (DP2M Dikti, 2009:84).
  3. Mind Map atau peta konsep menggunakan tools yaitu software mind manager (salah satunya) menurut Library University Of Guelph (E.B, 2007:1) adalah sebagai berikut :
    1. sebuah cara grafis dalam mengelola fikiran dan menunjukkan bagaimana konsep-konsep itu saling berhubungan atau berbeda (memperhatikan kelengkapan peta konsep mungkin cara yang terbaik untuk memahami seperti apa mereka.
    2. Sebuah diagram urutan dari rangkaian “node” yang terdiri dari topic-topik yang berhubungan (konsep inti) dan sub topic (yang didalamnya termasuk contoh dan bukti untuk sebuah topic).
    3. Koneksi yang berlabel oleh sebab atau akibat, relationships dan inter-relationships, perbedaan atau hierarki.
      1. Williams  dan  Jacobs  (Permana, 2008:4)  mengatakan  bahwa  blog merupakan  suatu  alat bantu  yang  sangat  potensial  untuk  meningkatkan  intensitas  interaksi  antara  para mahasiswa dengan rekan satu kampus atau dengan blogger serta komunitas lain yang ada di dunia maya. Sementara  itu,  Du  dan  Wagner  (Permana, 2008:5)  mengatakan  bahwa  blog merupakan teknologi yang mampu memfasilitasi para pelajar untuk mengekspresikan diri secara kreatif,  visible (terindeks  oleh  mesin  pencari  seperti  Google sehingga  lebih  mudah ditemukan oleh netter yang  membutuhkan informasi yang  ada dalam blog-nya),  dan accountable (menjaga  integrasi  dirinya  dengan  apa  yang  ditulisnya  dalam  blog sehingga dapat memerangi tradisi “tumpang nama”).

    H. Hipotesis

    “Ada peningkatan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa program ilmu komputer FPMIPA UPI dengan implementasi metode sharing knowledge community.”

    I. Studi Literatur

      1. Sharing Knowledge Community
        1. Pengetahuan dan Model Belajar

    Menurut Drucker (Okinawa, 2008:1), saat ini kita sedang berada di era revolusi informasi, yaitu era dimana pengetahuan berhasil diaplikasikan pada pengetahuan itu sendiri. Untuk menunjang era revolusi informasi tersebut, suatu organisasi perlu memiliki pengetahuan eksplisit (know how) dan pengetahuan tasit (know why) secara seimbang dan berkelanjutan. Sementara itu, menurut Ikujiro Nonaka dan Hirotake Takeuchi dalam bukunya “The Knowlegde- Creating Company” (Wahono, 2003:1) menyebutkan bahwa pada hekekatnya pengetahuan dibagi menjadi 2, yaitu tacit knowledge dan explicit knowledge. Explicit knowledge merupakan pengetahuan tertulis, terarsip, tersebar, dan dapat dijadikan referensi bagi orang lain. Sedangkan tacit knowledge merupakan pengetahuan yang berbentuk know-how, pengalaman, skill, pemahaman, maupun rule of  thumbs.

    Menurut Jan Hidajat (Okinawa, 2008:1) dalam bukunya yang berjudul “Knowledge Management dalam konteks Organisasi Pembelajar” model belajar terbagi menjadi dua, yaitu :

    1)      Model Belajar Individual

    Pembelajaran individual merupakan proses peningkatan potensi individual karena terjadi proses transformasi modal informasi baru menjadi kompetensi baru, akibat perluasan atau pendalaman kompetensinya.

    Proses belajar individual terjadi jika :

    Anggota organisasi mengalami proses pemahaman terhadap konsep-konsep baru (know why), yang dilanjutkan dengan meningkatnya kemampuan / pengalaman untuk merealisasikan konsep tersebut (know how) sehingga terjadi perubahan / perbaikan nilai tambah organisasi.

    2)      Model Belajar Organisasional

    Organisasi pembelajar didefinisikan sebagai organisasi yang memiliki kemampuan untuk selalu memperbaiki kinerjanya secara berkelanjutan dan siklikal, karena anggota-anggotanya memiliki komitmen dan kompetensi individual yang mampu belajar dan berbagi pengetahuan – pada tingkat superfisial maupun subtansial.

    Proses belajar organisasi terjadi melalui :

    Proses interaksi di antara anggota organisasi, sehingga terjadi konversi pengetahuan tasit menjadi eksplisit (dan sebaliknya) secara fundamental dan terus-menerus, yang diwujudkan melalui proses eksternalisasi, internalisasi, sosialisasi, dan kombinasi (SECI).

    Transformasi pengetahuan (flow of learning)

    Transformasi pengetahuan terjadi melalui proses 4I’s (intuisi, interpretasi, integrasi, institusionalisasi), sebagai kerangka kerja organisasi pembelajar, yang merupakan suatu interaksi dinamik antara belajar individu – tim – organisasi, melalui proses belajar maju (dari belajar individual menuju belajar organisasional) dan dilanjutkan dengan proses belajar mundur (dari belajar organisasional menuju belajar individual).

    1. Knowledge Management Dalam Konteks Organisasi Pembelajar

    Pengertian knowledge management menurut Jan Hidajat (Okinawa, 2008:1) adalah langkah-langkah sistematik untuk mengelola pengetahuan dalam organisasi, untuk menciptakan nilai dan meningkatkan keunggulan kompetitif. Proses sistematik untuk menemukan, memilih, mengorganisasikan, menyaringkan dan menyajikan informasi dengan cara tertentu, sehingga para pekerja mampu memanfaatkan dan meningkatkan penguasaan pengetahuan dalam suatu bidang kajian yang spesifik, untuk kemudian menginstitusionalisasikannya menjadi pengetahuan perusahaan.

    1. Tiga Pilar Organisasi Pembelajar

    Konsep tiga pilar menurut Hidajat (Okinawa, 2008:1) merupakan salah satu konsep dalam konteks organisasi pembelajar yang menjelaskan bagaimana terjadinya proses belajar dan proses transformasi pengetahuan (kompetensi individual) dari hasil belajar individual menjadi disiplin organisasi pembelajar (human capital) sebagai hasil belajar organisasional.

    Tiga pilar yang dimaksud yaitu :

    Pilar belajar individual

    Pilar ini terbentuk karena setiap manusia anggota organisasi mampu menjadi manusia dewasa, yang mampu bekerja tanpa dipengaruhi kualitas lingkungannya. Kedewasaan seorang manusia tergantung pada keberhasilan proses belajar individualnya yaitu melalui proses belajar horizontal (single-loop learning) dan proses belajar vertikal (double-loop learning), yang dilakukan secara siklikal dan berkelanjutan.

    Proses pembelajaran inividual ini akan menghasilkan kompetensi generik pekerja, yang dibutuhkan oleh organisasi pembelajar.

    Pilar belajar organisasional

    Pilar ini pada hakekatnya berfungsi sebagai “tempat” untuk memfasilitasi masyarakat yang dewasa sehingga mampu berbagi visi, berbagi model mental dan berbagi pengetahuan untuk disinerjikan dan diinstitusionalisasikan menjadi disiplin organisasi pembelajar, kemudian ditransformasikan menjadi human capital organisasi pembelajar.

    Indikasi dari keberhasilan proses belajar organisasi adalah makin luas dan makin intensifnya mekanisme berbagi (berbagi pengetahuan, berbagi visi, atau berbagi model mental).

    Pilar belajar transformasi pengetahuan (habitat belajar)

    Pilar ini berfungsi untuk mengintegrasikan, mengkombinasikan dan mensinerjikan pengetahuan hasil belajar individual menjadi human capital organisasi sebagai hasil belajar organisasional.

    Menurut Senge (Okinawa, 2008:1) pilar ini dibangun oleh lima disiplin belajar yaitu disiplin personal mastery, disiplin berbagi visi, disiplin model mental, disiplin pembelajaran tim dan disiplin berpikir sistemik. Kualitas kelima disiplin tersebut dapat digunakan sebagai indikator untuk menunjukkan kualitas habitat belajar suatu organisasi, dan merupakan jalur yang mampu menghantarkan (mentransformasi) pengetahuan dari proses belajar individual menjadi belajar organisasional.

    Ketiga pilar organisasi tersebut berperan sebagai mesin pembelajar dan sekaligus media habitat belajar dari hasil belajar individual menjadi pengetahuan organisasi, sebagai satu-kesatuan yang utuh dan terintegrasi.

    1. Sharing Knowledge

    Awal mula dari teori mengenai sharing knowledge sendiri diadaptasi dari sebuah teori mengenai knowledge  management. Dalam  satu  dasawarsa  terakhir  pengelolaan  pengetahuan  (knowledge  management), menjadi  salah  satu  metode  peningkatan  produktifitas  suatu  organisasi,  perusahaan  atau instansi (Setiarso, 2006:1).

    Berbagi   pengetahuan   (knowledge   sharing) merupakan   salah   satu   metode   dalam knowledge management yang digunakan untuk memberikan kesempatan kepada anggota suatu  organisasi,  instansi  atau  perusahaan  untuk  berbagi  ilmu  pengetahuan,  teknik, pengalaman  dan  ide  yang  mereka  miliki  kepada  anggota  lainnya. (Setiarso, 2006:1).

    Proses knowledge sharing akan dapat dilakukan jika setiap anggota yang terlibat dalam sebuah komunitas atau organisasi, memiliki kesempatan yang luas untuk mengemukakan ide, kritik, saran, pemikiran kreatif, komentar dan berbagai masukan yang dapat meningkatkan kinerja dari organisasi atau komunitas yang bersangkutan. Peran dari setiap anggota dalam sebuah komunitas berbagi pengetahuan sangat diperlukan, demi terciptanya proses knowledge   sharing yang berkelanjutan.

    Selain itu, peran berbagi pengetahuan diantara anggota komunitas memiliki urgensi yang tinggi  dalam meningkatkan kemampuan anggota untuk mampu berpikir secara kritis, logis dan mampu berinovasi. Jadi inovasi merupakan suatu proses dari ide melalui penelitian pengembangan akan menghasilkan prototipe yang    bisa dikomersialkan. (Setiarso, 2006:1).

    Sebenarnya menurut para ahli misalnya Carl Davidson dan Philip Voss (Setiarso, 2006:1) mengatakan  bahwa  mengelola  knowledge sebenarnya  merupakan  bagaimana  organisasi mengelola  staf  mereka,  sebenarnya  bahwa  knowledge  management adalah  bagaimana orang-orang dari berbagai tempat yang saling berbeda mulai saling bicara.

    Menurut  David  J.Skryme (Setiarso, 2006:1) bahwa  salah  satu  tantangan  knowledge management adalah menjadikan manusia berbagi knowledge mereka. Untuk mengahadapi  tantangan  tersebut  dia  menyarankan  tiga  C  yaitu:  Culture,  Co-opetition (menyatukan kerjasama dengan persaingan) dan Commitment.

    Dalam buku Learning to fly oleh British Oil Company (Setiarso, 2006:5) menyatakan bahwa ‘You Cannot manage  knowledge –  nobody  can  ?  Knowledge  can  be  created,  discovered,  captured, shared,   etc.’   Jadi   hanya   empat   kegiatan   utama   yaitu:   persediaan   pengetahuan, mempercepat aliran knowledge, transformasi knowledge dan pemanfaatan knowledge.

    Merebaknya fenomena manajemen  pengetahuan  (knowledge management) dapat dilihat sebagai  keinginan  mengembalikan  hakikat  “pengetahuan”  dan  menghindari  pandangan bahwa  pengetahuan  adalah  benda  mati. (Setiarso, 2006:5).

    1. Getting Start

    Menurut Jann Hidajat (Okinawa, 2008:1) sebelum memulai sebuah upaya untuk membangun sebuah organisasi pembelajar, sebaiknya perlu melihat kembali prinsip-prinsip kerja untuk meraih keberhasilan akan suatu perubahan yaitu :

    1)        Tetapkan sebuah komitmen yang menjadi sumber energi awal untuk menciptakan sebuah perubahan (biasanya komitmen pimpinan level atas).

    2)        Tetapkan pilot group. Mulai dari hal yang kecil, kemudian dikembangkan secara bertahap.

    3)        Tetapkan target dan alat bantu yang tepat untuk mencapai target yang dimaksud.

    4)        Isukan sebuah krisis yang dapat menyadarkan para anggota, jika menemukan jalan buntu untuk memulai sebuah perubahan.

    1. Karya Tulis Ilmiah

    Konsep dan pedoman karya tulis ilmiah disini merupakan hasil adaptasi dari pedoman PKM-GT dan silabus mata kuliah seminar ilmu komputer dan seminar pendidikan ilmu komputer. Sama halnya seperti PKM-GT, pelatihan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah juga menjadi akses mahasiswa dalam berlatih menuliskan ide-ide kreatif sebagai respons intelektual atas persoalan-persoalan aktual yang dihadapi masyarakat. Ide tersebut seyogyanya unik dan bermanfaat sehingga idealisasi kampus sebagai pusat solusi dapat menjadi kenyataan. Sebagai intelektual muda, mahasiswa umumnya cenderung pandai mengungkapkan fakta-fakta sosial, namun melalui PKM-GT, level nalar mahasiswa tidak hanya dituntut sampai sebatas mengekspos fakta tetapi justru harus mampu memberi atau menawarkan solusi. (DP2M Dikti Pedoman PKM, 2009:84).

    Selain itu, dengan tujuan agar karya tulis ilmiah dapat dikatakan berbobot, maka format penilaian pun mengadopsi dari pedoman Akreditasi Berkala Ilmiah. Kriteria  yang  dipergunakan  dalam  akreditasi  yang tertuang dalam Panduan  Akreditasi  Berkala  Ilmiah  ini  disusun  bersama  oleh  LIPI,  Ikatan Penyunting  Indonesia,  Kantor  Menteri  Negara  Riset  dan  Teknologi,  serta  DP2M Ditjen Dikti. (Dikti Pedoman Akreditasi  Berkala  Ilmiah, 2006:1).

    Tujuan  akreditasi  adalah  untuk  meningkatkan  kualitas  berkala  ilmiah  di Indonesia,  sehingga  dapat  meningkatkan  komunikasi  ilmiah  antara  peneliti  dan masyarakat pengguna untuk mencapai sasaran bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan pembangunan di Indonesia.

    1. Mind Map atau Peta Konsep

    Peta konsep atau mind map menurut Library University Of Guelph (E.B, 2007:1) adalah sebagai berikut :

    Concept Mapping is a graphical way of organizing your thoughts and showing how concepts are related or differentiated (looking at completed concept maps might be the best way to understand what they are ”, a diagrammed series of “nodes” consisting of linked topics (core concepts) and subtopics (which include examples and evidence for the topics),  Connections are labelled by cause/effect, relationships and inter-relationships, differences, or hierarchies.

    Merujuk pada pengertian diatas, maka peta konsep dapat diartikan sebagai:

    1. Sebuah cara mengelola fikiran dalam bentuk grafis dan menunjukkan bagaimana konsep-konsep itu saling berhubungan atau saling membedakan (memperhatikan kelengkapan peta konsep mungkin cara yang terbaik untuk memahami seperti apa pola fikir mereka).
    2. Sebuah diagram urutan dari rangkaian “node” yang terdiri dari topik-topik yang berhubungan (konsep inti) dan sub topik (yang didalamnya termasuk contoh dan bukti untuk sebuah topik).
    3. Koneksi yang berlabel oleh sebab atau akibat, relationships dan inter-relationships, perbedaan atau hierarki (struktur).

    Dari artikel yang dikemukakan oleh menurut Library University Of Guelph (E.B, 2007:1), peneliti dapat mengungkapkan beberapa alasan mengapa menggunakan peta konsep, diantaranya adalah :

    1. Peta konsep adalah sebuah strategi belajar aktif yang memindahkan ingatan seseorang diluar proses berfikir atau hafalan kepada pemikiran kritis.
    2. Peta konsep membantu dalam mempelajari bagaimana kita belajar. Hal ini merupakan sebuah eksplisit, representasi enkapsulasi dari ide-ide penting dalam satu halaman yang sangat bagus untuk di review.
    3. Peta konsep meningkatkan konstruksi dari pengetahuan lebih kaya lagi karena kita harus mengorganisasikan, memilih, menghubungkan dan menginterpretasikan data.
    4. Pemetaan membutuhkan kita melakukan break down terhadap bagian-bagian dari sebuah komponen untuk melihat bagaimana berbagai gal dipasangkan. Hal ini akan membantu kita untuk melihat celah dalam pengetahuan dan area dari penyederhanaan berlebih, pertentangan atau salah penafsiran.

    Masih dari artikel yang sama yang di posting oleh Library University Of Guelph (E.B, 2007:1), diungkapkan juga beberapa manfaat dari peta konsep menurut diantaranya:

    1. Review untuk tes atau ujian.
    2. Proses pengkonsepan ide, system dan relationships.
    3. Brainstorming, pengorganisasian konsep dan prinsipil.
    4. Identifikasi kesalahan dan area yang membingungkan.
    5. Menaksir pengetahuan utama, membangkitkan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban dari bacaan atau tes tertulis dan mengorganisasikan argumentasi.

    Selain itu, menurut artikel Library University Of Guelph (E.B, 2007:1) siapapun dapat menggunakan peta konsep. Peta konsep adalah alat pembelajaran yang melintasi disiplin dan level tahun. Konsep pemetaan dapat dibuat secara independen atau kolaboratif. Berikut cara kerja peta konsep:

    1. Mengidentifikasi topik utama atau konsep uatama.
    2. Lakukan proses brainstorming untuk mengetahui segalanya tentang topik tersebut.
    3. Organisasikan informasi menurut poin utama.
    4. Tempatkan informasi pada peta bertolak dari konsep utama, ke poin utama, kemudian ke detail yang signifikan.
    5. Lakukan review terhadap relevansi materi course dan kosa kata secara disiplin dan spesifik untuk meyakinkan bahwa kita telah melengkapi semuanya, dan kemudian hubungkan label strands dengan kata-kata atau frase yang mengindikasikan sifat alami dari relationships.
    6. Gunakan branches, arrows dan simbol seperti tanda berhenti atau tanda yield untuk mengindikasikan sifat alami dari relationships dua buah ide.
    7. Gunakan warna yang berbeda, jenis huruf atau garis untuk kelompok dan cirri khusus konsep.
    8. Sertakan detail   eksplanasi, definisi, aturan, formula/rumus atau equation.
    9. Analisis hasil pemetaan dengan mengajukan beberapa pertanyaan berikut:
    • Apakah konsep utama memposisikan dan mendefinisikan secara teliti?
    • Bagaimana keseluruhan ide bisa bersama dengan tepat?
    • Sudahkah mempertimbangkan seluruh informasi yang berhubungan dari dosen, buku teks dan lab?
    • Sudahkah mencatat seluruh relationships, eksepsi dan kondisi yang relevan?
    • Apa saja poin yang masih meragukan dan dapatkah dilakukan klarifikasi atas itu?
    1. Blog

    Dalam  penelitian  tugas  akhir  ini,  definisi  blog yang  akan  digunakan  adalah definisi yang diuraikan oleh Lindahl dan Blount (Permana, 2008:14). Dalam artikel yang dimuat dalam majalah Computer IEEE ini, keduanya menyebutkan bahwa weblog atau blog adalah suatu situs yang menggunakan format catatan (log) bertanggal (date and time) yang digunakan untuk menerbitkan informasi secara berkala (periodical).

    Definisi blog yang  tidak jauh berbeda juga bisa dilihat di situs dokumentasi milik   WordPress  (Permana, 2008:14). Menurut situs  ini,  blog  adalah  istilah  yang digunakan untuk mendeskripsikan situs yang merawat (maintain)  informasinya  berdasarkan kronologi atau urutan waktu (chronicle) penerbitannya.

    Masih  menurut  WordPress(Permana, 2008:14),  blog  memiliki  beberapa  ciri  khas  (tapi  tidak mutlak)  yang  membedakannya  dari situs yang  bukan  blog.  Berikut  perbedaan yang dimaksud:

    1. Area utama situs biasanya  berupa artikel-artikel yang  disusun secara kronologis berdasarkan  waktu  atau  tanggal  terbitnya.  Artikel  terbaru  akan  diletakkan  di posisi teratas.
    2. Adanya archive untuk menyimpan artikel-artikel yang sudah lama diterbitkan.
    3. Adanya  fasilitas  untuk  mengomentari  artikel-artikel  yang  telah  diterbitkan  bagi pengunjung situs (leave a comment).
    4. Daftar   taut   (links)   yang   mengacu   pada   situs-situs   terkait,   biasanya   disebut “blogroll”.
    5. Satu  atau  lebih  feed seperti  RSS  (Really  Simple  Syndication  atau  Rich  Site Summary), Atom, atau berkas-berkas RDF (Resource Description Framework).

    Menurut Burns  dan  Cox (Permana, 2008:15) ada  beberapa  alasan  atau  fakta  yang  membuat  blog menjadi  sesuatu  yang sangat  populer  seperti  sekarang.  Berikut  faktor-faktor  yang dimaksud:

    1. Non-Techy.  Pengguna  atau  calon  pengguna  blog  tidak  harus  mengetahui  teori HTML (Hypertext Markup Language) atau FTP (File Transfer Protocol) terlebih dahulu untuk menggunakannya.
    2. Mudah digunakan. Pengguna bisa menerbitkan tulisannya kapan pun dan di mana pun asalkan terhubung ke internet.
    3. Murah. Umumnya penyedia jasa blog memberikan layanannya secara gratis.
    1. Kemudahan komunikasi. Komunikasi berjalan dengan instant alias sangat cepat dan langsung siap untuk digunakan umumnya   menyediakan   fasilitas   untuk   archive,   hyperlinks, pengunjung,   akses   untuk   beberapa   penulis   sekaligus,   dan kemampuan untuk mengelola berkas multimedia (audio dan video).

    Menurut Permana (2008:16) setidaknya  ada  dua  bukti  yang  bisa  menguatkan  popularitas  blog di  dunia. Bukti tersebut ialah ketika “blogger” terpilih sebagai “Word of The Year 1999” versi  Oxford  English  Dictionary (http://www.askoxford.com/,  2007)  dan  ketika  “blog”  terpilih   sebagai   “Word   of   The   Year   2004”   versi   Merriam-Webster   Dictionary (http://www.m-w.com/, 2007).

    J. Populasi dan Sampel

    1. Populasi

      Menurut Arikunto (2002:108) “populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.” Berdasarkan pernyataan tersebut yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2006 program ilmu komputer FPMIPA UPI.

      2. Sampel

        Menurut Arikunto (2002:109) “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.” Dengan kata lain sampel merupakan bagian dari populasi yang akan diteliti dan menggambarkan populasinya. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi ilmu komputer dan pendidikan ilmu komputer angkatan 2006 yang telah lulus mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), Basis Data, Algoritma Pemograman, Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Sistem Informasi atau Sistem Informasi Pendidikan dan memiliki IPK antara 2,25-3,35 (IPK sampai semester 5). Mahasiswa yang dijadikan subjek penelitian berjumlah kurang lebih 35 orang.

        K. Desain Penelitian

        Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

        Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah sebuah bentuk kegiatan inkuiri refleksi-diri yang dilakukan oleh para pelaku pendidikan dalam situasi kependidikan untuk memperbaiki rasionalitas dan keadilan tentang (a) praktek-praktek kependidikan, (b) pemahaman mereka tentang praktek-praktek tersebut, dan (c) situasi dimana praktek-praktek tersebut dilaksanakan. (Kardiawarman, 2007:14).

        Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan one group pre-test and post-test design. Dalam desainnya penelitian dilaksanakan terhadap satu kelompok saja tanpa kelompok pembanding. Penelitian tindakan ini terdiri dari dua siklus, yaitu siklus 1 dan siklus 2. Perbedaan antara pretes dan postes diasumsikan merupakan efek dari perlakuan atau tindakan. Secara umum, desain penelitiannya dapat digambarkan sebagai berikut :

        Gambar 1. Desain one group pretest-postest design

        L. Langkah-langkah Penelitian

        Untuk lebih jelas mengenai penelitian yang dilakukan, penulis menyusun alur penelitian sebagai berikut :

        Gambar 2. Skema Alur Penelitian

        Berdasarkan skema alur diatas, maka rencana tindakan penelitian dapat diuraikan sebagai berikut :

        Siklus I

        Siklus I dilaksanakan melalui 2 x pertemuan dimana masing-masing pertemuan akan dilaksanakan selama 6 jam atau 6 x 60 menit.

        Tahap perencanaan, yaitu dimulai dari memilih metode atau model pembelajaran, dalam penelitian ini akan digunakan pembelajaran dengan pendekatan Student Centered Learning (SCL) dan metode Sharing Knowledge Community (SKC), kemudian mengumpulkan media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran seperti software mind manager yang akan digunakan untuk mendokumentasikan setiap kegiatan dalam setiap pertemuan, materi yang akan disampaikan dan instrumen penilaian termasuk soal pretes dan postes  serta angket.

        Tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan langkah-langkah implementasi dapat dilakukan melalui tiga tahap perubahan menurut Peter Senge (Okinawa, 2008:1) yaitu :

        Tahap pertama (R1)

        Yaitu membangun keterampilan belajar individual untuk menghasilkan personal mastery, yang memiliki kemampuan atau pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan tacit knowledge atau eksplicit knowledge baru sehingga tercipta inovasi atau perbaikan organisasi. Tahap ini merupakan tahap kritis, karena membutuhkan energi yang cukup besar untuk memulai sebuah perubahan. Langkah konkretnya dilakukan dengan membuat sebuah outline karya tulis ilmiah, kemudian mempresentasikannya. Outline karya tulis ini dibuat menggunakan software mind manager dengan mengikuti langkah-langkah menggunakan software tersebut. Hal ini dilakukan agar mahasiswa terbiasa dalam memetakan hasil pemikiran mereka.

        Tahap kedua (R2)

        Yaitu membangun kemampuan belajar tim, untuk meningkatkan efektivitas proses berbagi pengetahuan antar anggota. Dalam proses ini, setiap peserta dapat melakukan brain storming dan sharing knowledge. Diharapkan setiap peserta dapat mengenali potensi knowledge dirinya dan peserta lain. Tindakan konkretnya adalah dengan memberikan saran, kritik, masukan, testimonial kepada rekannya sesama peserta kelas sharing knowledge community.

        Tahap ketiga (R3)

        Yaitu membangun kemampuan belajar organisasional, untuk menghasilkan human capital (yang diwujudkan dalam bentuk modal intelektual, modal kredibilitas, atau modal sosial organisasi, dan pada akhirnya menghasilkan pengetahuan eksplisit baru).

        Langkah-langkah berikutnya yaitu :

        • Mempersiapkan temuan-temuan pengetahuan eksplisit baru untuk diimplementasikan. Atau dengan kata lain berarti learning by doing, yaitu dari referensi yang ada kita mulai belajar dan menemukan ide, pengalaman, dan pemahaman yang baru.
        • Melanjutkan tiga tahap proses profound change (R1 sampai R3).

        Setelah semua tahapan dilewati, maka dilakukan evaluasi atas tindakan yang telah diberikan. Bentuk evaluasi berupa postes. Postes dibagi menjadi dua bagian, yang pertama adalah pembuatan karya tulis ilmiah. Kemudian yang kedua adalah penilaian presentasi karya ilmiah. Setelah itu, akan peserta akan diminta untuk mengisi angket dan sekitar 27% dari peserta akan diwawancara. Hasil dari angket dan wawancara akan menjadi masukan untuk perbaikan proses pembelajaran pada siklus berikutnya.

        Jika proses belajar dan berubah telah menjadi sebuah kebiasaan, dapat diartikan bahwa prosesnya telah berjalan secara berkelanjutan, dan dapat digunakan sebagai indikasi bahwa mahasiswa sudah mencapai taraf dewasa, dan siap menjadi sebuah organisasi pembelajar.

        Siklus II

        Siklus II dilaksanakan melalui 2 x pertemuan dimana masing-masing pertemuan akan dilaksanakan selama 6 jam atau 6 x 60 menit.

        Tahap perencanaan, didalam perencanaan lanjutan ini, maka perencanaan tindakan atau media dan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran harus berbeda dan lebih baik lagi agar masalah dapat teratasi. Pendekatan yang digunakan masih tetap yaitu Student Centered Learning (SCL) dan metode Sharing Knowledge Community (SKC). Untuk dokumentasi materi, tetap digunakan  software mind manager. Namun untuk memfasilitasi mahasiswa dalam melakukan aktivitas sharing knowledge seperti berdiskusi, publikasi dan lain sebagainya, maka pada siklus kedua ini digunakan media blog. Blog yang digunakan yaitu WordPress. Instrumen penilaian termasuk soal pretes dan postes  serta angket.

        Tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan langkah-langkah implementasi dapat dilakukan melalui tiga tahap perubahan menurut Peter Senge (Okinawa, 2008:1) yaitu :

        Tahap pertama (R1)

        Yaitu membangun keterampilan belajar individual untuk menghasilkan personal mastery, yang memiliki kemampuan atau pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan tacit knowledge atau eksplicit knowledge baru sehingga tercipta inovasi atau perbaikan organisasi. Tahap ini merupakan tahap kritis, karena membutuhkan energi yang cukup besar untuk memulai sebuah perubahan. Langkah konkretnya dilakukan dengan menuliskan cara-cara membuat blog menggunakan WordPress 2.2, melakukan analisis mengenai fitur dan manfaat berdasarkan pengalaman pribadi dengan catatan menggunakan software mind manager, kemudian mempresentasikannya. Proses ini dimasukan kedalam penilaian pretes.

        Tahap kedua (R2)

        Yaitu membangun kemampuan belajar tim, untuk meningkatkan efektivitas proses berbagi pengetahuan antar anggota. Dalam proses ini, setiap peserta dapat melakukan brain storming dan sharing knowledge. Diharapkan setiap peserta dapat mengenali potensi knowledge dirinya dan peserta lain. Tindakan konkretnya adalah dengan melakukan diskusi memberikan saran, kritik, masukan, testimonial kepada rekannya sesama peserta kelas sharing knowledge community.

        Tahap ketiga (R3)

        Yaitu membangun kemampuan belajar organisasional, untuk menghasilkan human capital (yang diwujudkan dalam bentuk modal intelektual, modal kredibilitas, atau modal sosial organisasi, dan pada akhirnya menghasilkan pengetahuan eksplisit baru). Bagaimana membangun sebuah blog untuk bersama, bagaimana mengelola pemikiran yang berbeda antara satu dengan lainnya. Bagaiman mengatur agar karya tulis ilmiah yang telah dibuat pada siklus sebelumnya dapat di publish pada blog bersama.

        Langkah-langkah berikutnya yaitu :

        • Mempersiapkan temuan-temuan pengetahuan eksplisit baru untuk diimplementasikan. Atau dengan kata lain berarti learning by doing, yaitu dari referensi yang ada kita mulai belajar dan menemukan ide, pengalaman, dan pemahaman yang baru. Hal ini dilakukan dengan membuat sebuah blog dengan mengikuti pedoman pembuatan blog. Kemudian melakukan inovasi yang lebih baik dalam memanfaatkan fitur-fitur yang terdapat dalam WordPress.
        • Melanjutkan tiga tahap proses profound change (R1 sampai R3).

        Setelah semua tahapan dilewati, maka dilakukan evaluasi atas tindakan yang telah diberikan. Bentuk evaluasi berupa postes. Postes dibagi menjadi dua bagian, yang pertama adalah pembuatan blog. Kemudian yang kedua adalah penilaian presentasi display, substansi, manfaat dan hasil penggunaan. Setelah itu, akan peserta akan diminta untuk mengisi angket dan sekitar 27% dari peserta akan diwawancara. Hasil dari angket dan wawancara akan menjadi masukan untuk perbaikan proses pembelajaran pada siklus berikutnya. Jika siklus 3 memang diperlukan.

        Jika proses belajar dan berubah telah menjadi sebuah kebiasaan, dapat diartikan bahwa prosesnya telah berjalan secara berkelanjutan, dan dapat digunakan sebagai indikasi bahwa mahasiswa sudah mencapai taraf dewasa, dan siap menjadi sebuah organisasi pembelajar.

        Pada tahap akhir ini, diberikan tugas berupa pembuatan website bersama, untuk memfasilitasi komunikasi para blogger yang tergabung dalam komunitas sharing knowledge.

        Siklus III (Jika diperlukan)

        Indikator kinerja PTK :

        Penelitian tindakan kelas untuk mengatasi permasalahan rendahnya kemampuan mengembangkan karya tulis mahasiswa program ilmu komputer angkatan 2006 dengan menggunakan metode sharing knowledge community dikatakan berhasil jika :

        1. Jumlah mahasiswa yang mengalami peningkatan gain dalam kategori peningkatan tinggi berjumlah lebih dari 27% total peserta.
        2. Jumlah mahasiswa yang memberikan respon positif melalui angket terhadap pembelajaran menggunakan metode ini minimal 51% dari total peserta.
        3. Sekitar 27% dari peserta yang diwawancara menyatakan respon positif terhadap proses pembelajaran menggunakan metode ini.
        4. Jumlah mahasiswa yang mendapatkan nilai B () minimal 50% dari total jumlah peserta.
        5. Nilai rata-rata kelas 60.

        M. Instrumen

        Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Kualitas instrument akan menentukan kualitas data yang terkumpul, sehingga tepatlah jika hubungan instrumen dengan data ini dikemukakan dalam ungkapan : garbage tool garbage result. Itulah sebabnya menyusun instrument bagi kegiatan penelitian merupakan langkah penting yang harus dipahami betul-betul oleh peneliti. (Arikunto, 2007:134).

        Untuk mendapatkan data yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan, maka digunakan tujuh instrumen penelitian, yaitu tes kemampuan membuat karya tulis ilmiah dan teknik presentasi karya tulis ilmiah sebagai instrumen utama, instrumen penilaian blog (berdasarkan display, substansi dan hasil penggunaan), kelengkapan informasi dalam software mind manager sebagai dokumentasi data portofolio,   wawancara,  angket dan pedoman observasi siswa sebagai instrumen pendukung.

        1. Tes kemampuan membuat karya tulis ilmiah, Penilaian teknik presentasi karya tulis ilmiah dan Penilaian blog

        Arikunto (2002:127) menjelaskan bahwa :”Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bekal yang dimiliki oleh individu atau kelompok.”

        Tes dalam penelitian ini terdiri dari tes awal (pretes), yaitu tes yang diberikan sebelum diberikan tindakan dan tes akhir (postes), yaitu tes yang diberikan setelah diberikan tindakan. Hal ini dilakukan karena peneliti ingin mengamati sejauh mana perbedaan hasil belajar tersebut terjadi sebelum dan sesudah pembelajaran yang mengimplementasikan metode sharing knowledge community. Untuk validasi instrumen sendiri, tidak dilakukan uji coba, karena instrumen berasal dari Pedoman PKM DP2M Dikti dan Pedoman Akreditasi Berkala Ilmiah Dikti. Jadi, untuk format penilaian hanya dilakukan justifikasi.

        1. Penilaian dokumentasi data mind manager

        Proses penilaiannya sendiri diutamakan pada proses pemetaan fikiran, bukan produk yang dihasilkan.

        1. Wawancara

        Wawancara terhadap peserta dilakukan secara berkala, setiap selesai satu siklus. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kelemahan dari setiap siklus dan untuk melakukan perbaikan pada siklus berikutnya. Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan wawancara ini ialah untuk mengetahui pendapat mahasiswa mengenai proses pembelajaran menggunakan metode sharing knowledge community yang telah dilaksanakan, materi yang diberikan, media yang digunakan, dosen yang menjadi fasilitator, fasilitas yang mendukung proses pembelajaran dan meminta masukan dari mahasiswa.

        1. Angket

        Kuesioner atau angket merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang diberi tersebut bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna. (Arikunto, 2007:102).

        Angket yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon mahasiswa terhadap pembelajaran menggunakan metode sharing knowledge community. Angket dibuat dengan 5 indikator, yaitu :

        a.  Persepsi mahasiswa.

        b.  Motivasi mahasiswa.

        c.  Minat mahasiswa.

        d.  Aktivitas mahasiswa.

        e.  Sikap mahasiswa.

        1. Observasi

        Lembar observasi digunakan untuk mengetahui kegiatan belajar yang terjadi dalam proses pembelajaran pada saat dilaksanakannya tindakan. Lembar observasi ini berupa lembar untuk mengamati hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan belajar mahasiswa pada saat melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan metode sharing knowledge community.

        Adapun kegiatan yang diamati adalah proses belajar mengajar yang terjadi selama pembelajaran berlangsung.

        N. Analisis Data

        Data yang diperolah kemudian dikategorikan ke dalam jenis data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif, meliputi pretes dan postes. Sedangkan data kualitatif meliputi angket, wawancara dan dokumentasi mind manager.

        1. Analisis data kuantitatif
          1. Menghitung rata-rata kelompok tindakan untuk mengetahui rata-rata hitung kelompok tersebut.
          2. Menghitung simpangan baku dari kelompok tindakan untuk mengetahui penyebaran kelompok.
          3. Menghitung nilai normalisasi gain dengan rumus :

        (D.E. Meltzer dalam Madrohim, 2007)

        Kriteria peningkatan gain menurut Meltzer adalah sebagai berikut :

        Tabel 1. Kriteria peningkatan kemampuan mengembangkan

        karya tulis ilmiah

        Gain ternormalisasi

        Kriteria peningkatan

        G < 0,5

        peningkatan rendah

        0,5 ≤ G ≤ 0,7

        peningkatan sedang

        G > 0,7

        peningkatan tinggi

        1. Menilai tingkat penguasaan kemampuan mengembangkan karya tulis ilmiah mahasiswa berdasarkan kriteria berikut ini :

        Tabel 2. Kriteria Kemampuan Kemampuan Mengembangkan

        Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa

        Status

        Skor

        Predikat (Peringkat)

        Tidak Lulus

        < 40

        Sangat Kurang

        40-69

        Kurang

        Lulus

        70-85

        Baik (B)

        >85

        Sangat Baik (A)

        (Panduan Akreditasi Berkal Ilmiah Dikti, 2006:2)

        Mahasiswa dinyatakan tuntas jika skor yang diperolehnya lebih besar atau sama dengan 70. Nilai 70 merupakan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan oleh program ilmu komputer.

        1. Melakukan analisis statistika untuk menguji signifikansi perbedaan rata-rata antara skor pretes dan postes mahasiswa secara keseluruhan dengan menggunakan program SPSS versi 12.0 melalui tahapan berikut :

        1)        Uji normalitas dengan menggunakan tes Kolmogorov-Smirnov dengan penafsiran sebagai berikut:

        Jika probabilitas (nilai signifikansi) > 0,05 maka sampel terdistribusi normal dan jika probabilitas (nilai signifikansi) < 0,05, (maka sampel  tidak terdistribusi normal.

        2)        Jika kelompok berdistribusi normal maka pengujian dilanjutkan dengan menguji homogenitas varians kelompok menggunakan uji Levere. Sedangkan jika tidak berdistribusi normal, maka pengujian dilakukan dengan pengujian non–parametrik.

        1. Analisis data kualitatif
          1. Analisis data angket

        Penskoran menurut suherman (2003:190) : untuk pernyataan favorable. Jawaban SS diberi skor 5, S diberi skor 4, R diberi skor 3, TS diberi skor 2, dan STS diberi skor 1.

        Pengolahan angket diperoleh dengan menghitung rerata skor subjek. Jika rerata subjek lebih dari 3 ia bersikap atau merespon positif, jika rerata subjek kurang dari 3 maka ia bersikap atau merespon negatif. Makin mendekati 5 sikap mahasiswa makin positif. Sedangkan makin mendekati 1 sikap mahasiswa makin negatif.

        Untuk menganalisis respon siswa terhadap tiap butir pernyataan dalam angket digunakan rumus sebagai berikut :

        Dengan :

        P        = Presentase jawaban

        f        = frekuensi jawaban

        n        = banyaknya responden

        Setelah dianalisis, kemudian dilakukan interpretasi data dengan menggunakan kategori presentase berdasarkan pendapat Kuntjaraningrat (Ramayanti, 2008:39) sebagai berikut :

        Tabel 3. Interpretasi Presentase Angket

        Besar Presentase

        Interpretasi

        0%

        Tidak ada

        1% – 25%

        Sebagian kecil

        26% – 49%

        Hamper setengahnya

        50%

        Setengahnya

        51% – 75%

        Sebagian besar

        76% – 99%

        Pada umumnya

        100%

        Seluruhnya

        1. Analisis hasil wawancara

        Data wawancara diolah dengan cara melihat jawaban responden terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan juga hasil diskusi, kemudian dijabarkan mengenai keadaan mahasiswa. (wawancara kepada dosen/instruktur/fasilitator). Kemudian ditarik kesimpulan.

        Sedangkan data wawancara  kepada setiap peserta diolah dan dijabarkan kemudian ditarik kesimpulan mengenai hasil pencapaian belajar siswa, baik dari segi kognitif, afektif maupun psikomotor. Hal ini guna memperbaiki proses pembelajaran pada siklus berikutnya dan untuk mengambil kesimpulan bahwa sebuah proses pembelajaran dikatakan berhasil atau tidaknya

        1. Analisis hasil observasi

        Lembar observasi dianalisis untuk memeriksa tahapan-tahapan pembelajaran dengan metode sharing knowledge community pada kelas SKC. Hal-hal yang tidak terlaksana pada proses pembelajaran, diperbaiki pada siklus berikutnya.

        1. Analisis dokumentasi mind manager

        Hasil peta konsep pada software mind manager dijadikan sebagai dokumentasi penelitian. Dan sebuah website sharing knowledge community.

        O. Jadwal Kegiatan

        Agenda penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Januari-Juli 2009. Selengkapnya agenda pelaksanaan penelitian dituliskan dalam tabel berikut :

        No. Jenis kegiatan Januari – Maret April-Mei Juni Juli
        1 Pembuatan proposal
        2 Seminar dan revisi
        3 Perencanaan tindakan
        4 Studi banding instrument ke komunitas Al-Manar Fisipol UGM
        5 Penyusunan instrumen penelitian
        6 Judgement  instrumen
        7 Revisi  instrumen
        8 Pelaksanaan tindakan dan observasi siklus I
        9 Pelaksanaan tindakan dan observasi siklus II
        10 Pengolahan dan analisis data
        11 Penyusunan hasil penelitian dan kesimpulan
        12 Penelahaan
        13 Sidang skripsi

        P. Daftar Pustaka

        Anderson, dkk., (2006). Learner-centered Teaching and Education at USC: A Resource for Faculty [Online] .Tersedia: http ://www.usc.edu/academe/acsen/documents/LC_Resoirce_final1.pdf.[3 Agustus 2007 ].

        Arikunto, Suharsimi. (1989). Proposal Penelitian.Jakarta: Rineka Cipta.

        Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

        Arikunto, Suharsimi.(2007).Manajemen Penelitian. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

        Badan Akreditasi Berkala Ilmiah.(2006). Panduan Akreditasi Berkala Ilmiah. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Tinggi.

        Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1995). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

        DP2M Dikti.(2009). Panduan PKM. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Tinggi..

        E.B. (2007). Concept mapping. [Online]. Tersedia : http://www.lib.uoguelph.ca/assistance/learning_services/fastfacts/concept_mapping.cfm. [6 Maret 2009]

        Febrian, Jack. (2007). Kamus Komputer & Teknologi Informasi. Bandung : Informatika.

        Kardiawarman. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan.

        Mchombu, Kingo J. (2004). Sharing Knowledge for Community Development and Transformation: A Handbook. .[Online].Tersedia : http://www.oxfam.ca/publications/SharingKnowledge.htm. [28 Oktober 2008].

        Muchlas. (2009). Pengalaman dan Gagasan:Pembimbingan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa di Universitas Ahmad Dahlan.[Online].Tersedia :  http://muchlas.ee.uad.ac.id/?download=Sarasehan%20Pembimbing%20Karya%20Ilmiah.ppt. [6 Mei 2009]

        Okinawa. (2008). Resume buku Knowledge Management dalam konteks Organisasi Pembelajar. .[Online].Tersedia :  http://www.oq1510.wordpress.com/2008/10/22/resume-km/. [6 Maret 2009]

        Panggabean, Luhut P. (2001). Statistika Dasar. Bandung : Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI.

        Pannen, Paulina dan Sekarwinahya, Mestika. (1994). “Belajar Aktif” dalam Mengajar Yang Sukses. Jakarta: Pusat Antar Universitas Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

        Permana, Wim. (2008). Implementasi WordPress Sebagai Blogging Software Pendukung Student-Centered Learning. Skripsi Sarjana jurusan ilmu komputer FMIPA UGM : tidak diterbitkan.

        Ramayanti, S. (2008). Pengaruh Pendekatan Problem-Centered Learning dalam Pembelajaran Matematika Terhadap Kompetensi Strategis Siswa SMP. Skripsi sarjana jurusan pendidikan matematika FPMIPA UPI : tidak diterbitkan.

        Ruseffendi, E. T. (1994). Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. Semarang: IKIP Semarang Press.

        Safa, Pakde. 2008. Aspek Penilaian dalam KTSP Bag 1 ( Aspek Kognitif). [Online]. Tersedia : http://mjafareffendi.wordpress.com/2008/11/11/aspek-penilaian-dalam-ktsp-bag-1-aspek-kognitif/.html. [23 Maret 2009].

        Setiarso, Bambang. (2006). Berbagi Pengetahuan : Siapa yang Mengelola Pengetahuan?. [Online] . Tersedia : http://ilmukomputer.org/2008/11/25/berbagi-pengetahuan-siapa-yang-mengelola-pengetahuan/. [6 Februari 2009]

        Soetarno. (1984). Pemahaman Individu. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

        Sparrow, L., Sparrow, H. and Swan, P., (2000). Student centred learning: Is it possible?,[Online].Tersedia:http://lsn.curtin.edu.au/tlf/tlf2000/sparrow. html[ 25 Mei 2007]

        Sudjana. (2002). Metoda Statistika. Bnadung : Tarsito.

        Suherman, E. (2003). Evaluasi Pembelajaran Matematika. Bandung : Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI.

        Suherman, E. (2003). Metode Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika (Contextual Teaching and Learning, CTL). Makalah disajikan dalam acara Diklat CTL bagi guru-guru SLTP se-Jawa Barat.

        Suherman, E., Turmudi, Suryadi, D., Herman, T., Suhendra, Prabawanto, S., Nurjanah, Rohayati, A. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Technical Cooperation Project for Development of Science                            and Mathematics Teaching for Primary and Secondary Education in                      Indonesia (IMSTEP).

        Surya, Muhammad. (2007). Potensi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran di Kelas. [online]. Tersedia : http://www.e-dukasi.net/artikel/index.php?id=43 . [28 Maret 2008].

        Susilana, Rudi. (2006). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UPI.

        Wahono, Romi, S. (2003). Spiralisasi pengetahuan : Teknik “Menghidupkan” Pengetahuan Kita. Yogyakarta.:Digital Library Al-Manar Production.

        Wirawan, Pradita Tria. (2007). Penerapan Student Centered Learning Berbasis Sharing Knowledge Community. Annual Essay jurusan hubungan internasional FISIPOL UGM : tidak diterbitkan.

        WS, Winke. (1983). Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.


        Leave a Reply

        Please log in using one of these methods to post your comment:

        WordPress.com Logo

        You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

        Twitter picture

        You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

        Facebook photo

        You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

        Google+ photo

        You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

        Connecting to %s

        Categories

        Follow

        Get every new post delivered to your Inbox.

        %d bloggers like this: